Posted in akademik

contoh Usulan Penelitian (UP)

berikut contoh Usulan Penelitian (UP) berdasarkan panduan Karya Tulis Ilmiah (KTI) di fakultas saya . semoga bermanfaat🙂

JUDUL : KECERNAAN DAN HASIL FERMENTASI RUMINAL IN VITRO RUMPUT GAJAH YANG DISUPLEMENTASI DENGAN MINYAK BIJI KAPUK TERPROTEKSI

PENDAHULUAN

Latar belakang

Rumput gajah merupakan hijauan pakan yang banyak dimanfaatkan di daerah tropis. Hijauan di daerah tropis memiliki kandungan protein yang cukup, namun pertumbuhan yang cepat menyebabkan tingginya kandungan serat kasar hijauan sehingga kecernaan dan energi (TDN) rendah. Salah satu cara untuk mengatasi rendahnya energi (TDN) pada hijauan yaitu melalui suplementasi pakan. Suplementasi pakan yang memiliki densitas energi tinggi namun tidak bulky sangat penting. Pakan yang bulky akan menekan nafsu makan ternak sehingga membatasi konsumsi bahan kering pakan. Salah satu suplemen pakan yang memiliki densitas energi tinggi namun tidak bulky adalah minyak biji kapuk (MBK). Minyak biji kapuk merupakan sumber asam lemak tak jenuh. Pada ruminansia, asam lemak tak jenuh mampu menekan metanogenesis dan berpotensi sebagai sumber energi tanpa menghambat fermentasi mikrobial rumen yang mengakibatkan penurunan degradabilitas serat (Jenkins, 1993). Suplementasi ALTJ juga mampu mengubah pola fermentasi ruminal sehingga meningkatkan nisbah asam asetat/asam propionat (A/P) sehingga energi yang mampu dimanfaatkan lebih tingggi (Widiyanto et al., 2007).
Hambatan pemanfaatan MBK adalah kandungan zat antinutrisinya, yaitu asam siklopropenoat dan suplementasi MBK yang tinggi akan menurunkan kecernaan bahan pakan. Menurut Prawirodigdo et al. (1995) yang disitasi oleh Widyaningsih (2005) minyak biji kapuk mengandung asam siklopropenoat (C3H6) yang akan bereaksi dengan protein sulphydril sehingga bersifat racun. Efek samping tersebut dapat dieliminasi melalui proteksi parsial dengan tujuan untuk mengurangi pengaruh negatif dari suplementasi lemak berupa penurunan kecernaan dan hambatan aktivitas mikrobia rumen berkurang, serta mengurangi proses hidrogenasi lemak di dalam rumen (Wina dan Susana, 2013).
Proteksi bisa dilakukan dengan cara hidrogenasi parsial dan saponifikasi. Proteksi asam lemak tidak jenuh dengan menggunakan alkali (KOH) yang kemudian ditransformasi dengan CaCl2 sehingga gugus karboksil berikatan dengan kalsium akan mengurangi toksisitas asam lemak tak jenuh yang kemudian akan menurunkan hambatan metabolisme mikrobial (Widiyanto et al., 2007). Asam lemak tak jenuh yang tidak terproteksi masih bisa difermentasi di dalam rumen sehingga meningkatkan efisiensi energi dari pakan. Suplementasi pakan dapat menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas mikrobia rumen guna meningkatkan kecernaan dan efisiensi penggunaan pakan. Peningkatan kecernaan secara otomatis akan meningkatkan konsumsi dan suplai nutrien ke usus sehingga meningkatkan respon produksi secara keseluruhan (Puastuti, 2009).
Minyak biji kapuk adalah sumber asam lemak tak jenuh yang merupakan hasil samping kapuk dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Sentra produksi kapuk di Jawa Tengah terdapat di 31 kabupaten dengan total luas area 41.372,69 hektar dengan produksi 30.028,49 ton (Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, 2011).
Penelitian tentang suplementasi MBK terproteksi akan diberikan pada rumput gajah sebagai pakan tunggal sumber serat. Kualitas rumput gajah dan efek dari suplementasi MBK terproteksi akan dievaluasi melalui kecernaan dan hasil fermentasi ruminal secara in vitro yaitu produksi VFA dan amonia. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tambahan tentang tingkat optimal suplementasi MBK terproteksi pada rumput gajah sebagai bahan pakan suplai energi secara in vitro.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh kombinasi perlakuan suplementasi dan proteksi minyak biji kapuk sebagai bahan pakan suplai energi dalam ransum ternak yang dievaluasi dari kecernaan dan hasil fermentasi ruminal rumput gajah secara in vitro. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tambahan tentang tingkat optimal suplementasi minyak biji kapuk terproteksi pada rumput gajah sebagai bahan pakan suplai energi secara in vitro.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis dari penelitian ini adalah:
Ho = tidak ada interaksi antara suplementasi dan aras proteksi MBK terhadap kecernaan dan hasil fermentasi ruminal rumput gajah secara in vitro
H1 = ada interaksi antara suplementasi dan aras proteksi MBK terhadap kecernaan dan hasil fermentasi ruminal rumput gajah secara in vitro

TINJAUAN PUSTAKA

Rumput Gajah
Hijauan pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam pengembangan usaha peternakan, khususnya ruminansia. Hijauan pakan yang sangat potensial dan sering diberikan pada ternak ruminansia adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum) (Lasamadi et al., 2013). Menurut Hendrawan (2002) dalam Zakariah (2012), rumput gajah memiliki 21,2% bahan kering, 13,5% protein kasar, 54% TDN, dan 34% serat kasar.

Minyak Biji Kapuk
Biji kapuk merupakan hasil ikutan dari buah kapuk yang merupakan dua pertiga bagian buah tersebut. Biji kapuk akan sebanyak 22 – 25% minyak yang berwarna kekuning – kuningan dan hampir tidak ada rasanya (Septinputri, 2010). Menurut Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, biji kapuk tersedia setiap tahun rata – rata 114.400 ton, bila dikonversikan ke hasil minyak maka akan diperoleh 251.200 ton minyak biji kapuk setiap tahun. Volume tersebut menyediakan potensi suplementasi minyak biji kapuk pada pakan ternak ruminansia. Minyak biji kapuk memiliki kerapatan 0,917 kg/l, bilangan iodine atau derajat kejenuhan 88, dan bilangan fiksasi 181. Minyak biji kapuk mengandung asam lemak tidak jenuh sekitar 71,95%, lebih tinggi dibandingkan dengan minyak kelapa (Dzikriansyah, 2011). Minyak biji kapuk berwarna kekuningan, tidak berbau dan rasanya tawar. Minyak biji kapuk diperoleh dengan cara memisahkan biji kapuk yang bersih dari serat buah kapuk, kemudian biji dipres dua kali (Sahid et al., 2000).

Suplementasi Lemak
Ternak ruminansia dengan tingkat produksi yang tinggi membutuhkan energi dalam jumlah yang besar dan dengan pemberian pakan konvensional belum dapat memenuhi jumlah energi yang dibutuhkan. Lemak merupakan sumber nutrien yang banyak mengandung energi, namun penggunaan lemak dalam ransum ternak ruminansia sangat terbatas (Widyaningsih, 2005). Lemak berfungsi sebagai sumber energi yang berdensitas tinggi. Lemak menghasilkan energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan nutrien lain ketika dimetabolisme dalma tubuh (Wina dan Susana, 2013). Suplemen pakan yang mengandung lemak akan berasosiasi dengan partikel pakan dan mikroba rumen melalui penutupan permukaan secara fisik. Bakteri rumen mempunyai kemampuan lipolisis yang kuat sehingga dengan cepat dapat menguraikan lemak yang menyelimutinya (Puastuti, 2009).
Suplementasi asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda merupakan teknik manipulasi pakan untuk mengatasi kelemahan – kelemahan hijauan pakan tropik. Tujuan suplementasi asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda pada ternak ruminansia yaitu: (1) peningkatan densitas energi, (2) mengubahan pola fermentasi untuk meningkatkan efisiensi energi dalam metabolisme ruminal dan penurunan nisbah asam asetat/asam propionat (A/P), (3) meningkatkan absorpsi asam – asam lemak terpilih (dalam hal ini utamanya asam linoleat), guna menghasilkan performa ternak yang dikehendaki dan atau profil lipida produk ternak ke arah peningkatan kandungan asam lemak Omega – 6 dan pada kemudian akan menurunkan kadar kolesterol (Schauff dan Clark, 1992).

Proteksi Lemak
Minyak biji kapuk mengandung saponin yang mempunyai efek defaunasi (mengurangi populasi protozoa penghuni rumen) karena adanya interaksi saponin-kolesterol membran sel yang menyebabkan sel protozoa pecah. Populasi protozoa yang rendah dalam rumen menyebabkan menurunnya jumlah bakteri yang didegradasi menjadi amonia, sehingga aliran protein atau asam amino ke usus halus lebih meningkat yang juga akan meningkatkan produktivitas ternak (Puastuti, 2009).
Asam lemak tak jenuh berpotensi menghambat fermentasi mikrobial rumen, utamanya mikrobia fibriolitik yang berakibat pada penurunan degradabilitas serat. Proteksi diperlukan untuk mengeliminasi pengaruh negatif dari suplementasi asal lemak tak jenuh pada pakan, salah satunya dengan cara saponifikasi melalui pembentukan garam kalsium (Widiyanto et al., 2009). Mathius et al. (2000) menjelaskan bahwa pemberian sumber energi dalam bentuk lemak dapat dilakukan setelah adanya perlakuan tertentu agar tidak berpengaruh negatif terhadap proses fermentasi pakan dalam rumen. Menurut Wina dan Susana (2013) proteksi asam lemak dengan menggunakan kalsium akan mengurangi pengaruh negatif asam lemak terhadap rumen tetapi penggunaannya dalam pakan ruminan sangat terbatas.
Kecernaan serat dapat diperbaiki oleh sabun kalsium melalui aksi penghilangan efek negatif asam lemak terhadap bakteri. Proteksi asam lemak tidak jenuh menggunakan alkali (KOH) akan mengubah ikatan lemak menjadi gliserol dan garam asam lemak (gugus COOH asam lemak diikat oleh kation basa) (Tanuwiria et al. 2006). Kemudian ditransformasi dengan CaCl2 sehingga gugus karboksil berikatan dengan kalsium. Pengikatan gugus karboksil tersebut mengurangi toksisitas asam lemak tak jenuh sehingga menurunkan hambatan metabolisme mikrobial (Widiyanto et al., 2007). Mekanisme proteksi dari produk sabun kalsium tidak berdasarkan pada titik cair asam lemak, tetapi berdasarkan pada tingkat keasaman atau pH (Tanuwiria et al. 2006).
Proteksi sumber asam lemak tidak jenuh berfungsi menghambat biohidrogenasi mikrobial, sehingga memungkinkan peningkatan absorpsi asam ‐ asam lemak tidak jenuh yang dikehendaki, yakni asam ‐ asam lemak tak jenuh ganda (ALTJG) (Widiyanto et al., 2007).

Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik
Kecernaan bahan pakan adalah bagian dari bahan pakan yang tidak disekresikan melalui feses dan diasumsikan disimpan oleh tubuh ternak. Kecernaan bahan pakan dipengaruhi oleh proporsi total bahan pakan yang dapat larut, lignifikasi dari serat dan komposisi bahan kimia (Van Soest, 1982 yang disitasi oleh Widyaningsih, 2005)
Pengukuran kecernaan pakan dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan teknik in vitro (Sutrisno et al., 2012). Kelebihan teknik in vitro adalah waktu yang dibutuhkan singkat, biaya ringan, jumlah sampel yang digunakan sedikit, kondisinya mudah dikontrol, dan dapat mengevaluasi bahan pakan dalam jumlah yang relatif banyak dalam waktu yang singkat (Tillman et al., 1991). Faktor yang mempengaruhi kecernaan in vitro adalah larutan penyangga, suhu fermentasi, derajat keasaman (pH), sumber inokulum, periode fermentasi, fermentasi akhir dan prosedur analisis (Siregar, 1994).
Peningkatan kecernaan bahan kering diikuti dengan naiknya produksi metana yang menunjukkan adanya kenaikan aktivitas mikroba rumen. Dengan meningkatnya kecernaan serat kasar, secara otomatis meningkatkan konsumsi dan suplai nutrien ke usus, sehingga akan meningkatkan respon produksi secara keseluruhan (Puastuti, 2009). Nilai kecernaan bahan kering yang rendah karena lemak terproteksi oleh garam kalsium sehingga tidak mudah dihidrolisis oleh bakteri rumen (Wina dan Susana, 2013).

Produksi Volatile Fatty Acid (VFA) dan Amonia (NH3)
McDonald et al., (2002) menyatakan bahwa pakan yang masuk ke dalam rumen difermentasi untuk menghasilkan prosuk utama berupa VFA, sel – sel mikroba serta gas metan dan CO2. Volatile Fatty Acids (VFA) yang terdapat didalam rumen tidak hanya berasal dari hasil fermentasi karbohidrat, sebagian berasal dari bekerjanya mikroba rumen terhadap protein atau ikatan lain yang mengandung nitrogen (Wijayanti et al., 2012). VFA berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroba rumen, dan merupakan sumber kerangka karbon bagi pembentukan protein mikroba. Kelebihan asam amino hasil dari hidrolisis protein diubah menjadi asam α-keto dan NH3 yang kemudian α-keto akan diubah menjadi VFA (Widodo et al., 2012).
VFA optimal yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba adalah 80 – 160 mM (Widodo et al., 2012). Soebarinoto et al. (1991) menjelaskan bahwa banyaknya VFA yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh tipe pakan, pengolahan, frekuensi pemberian pakan. Peningkatan jumlah VFA menunjukkan mudah atau tidaknya pakan tersebut didegradasi oleh mikroba rumen.
Amonia berasal dari protein yang didegradasi oleh enzim proteolitik mikroba (Firsoni et al., 2008). Urea merupakan sumber NPN bagi mikroba untuk berkembang biak secara optimal. Urea oleh mikroba rumen akan diubah menjadi amonia dan CO2. Amonia yang terbentuk di dalam rumen sebagian besar digunakan oleh mikroba untuk membentuk protein tubuhnya. McDonald et al. (2002) menjelaskan bahwa konsentrasi NH3 yang tinggi dapat menunjukkan proses degradasi protein pakan lebih cepat daripada proses pembentukan protein mikroba, sehingga amonia yang dihasilkan terakumulasi dalam rumen. Rahmadi et al. (2010) menyatakan bahwa konsentrasi NH3 yang dibutuhkan untuk mendukung sintesis protein mikroba adalah 3,57 – 7,14 mM.

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu
Penelitian tentang kecernaan dan hasil fermentasi ruminal in vitro rumput gajah yang disuplementasi minyak biji kapuk terproteksi akan dilaksanakan pada bulan Maret – April 2014 di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

Materi
Materi yang digunakan adalah ransum basal rumput gajah dari PT Tossa Agro Kendal, minyak biji kapuk dari CV THT Pati, reagen KOH dan CaCl2 untuk proteksi minyak biji kapuk, cairan rumen segar dari rumen sapi, aquades, larutan McDougall, gas CO2, air es, H2SO4 0,0055 N, H2SO4 15%, HCl 0,5 N, Na2CO3 jenuh, H3PO3, vaselin, indikator Phenolptalein 1%, dan indikator methyl red. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tabung fermentor 100 ml, tutup karet berventilasi, termos, kain kasa, gelas ukur, pompa vakum, mikroburet 0,001 ml, labu Erlenmeyer, seperangkat alat destilasi, kompor, crucible porselain, timbangan digital, oven, tanur, sentrifuge, water bath, kertas saring Whatman No. 41, botol untuk supernatan.

Variabel yang diukur
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik (%)
KcBK dan KcBO diukur dengan menggunakan Tilley dan Terry (1963)
Konsentrasi VFA Total (mM)
Konsentrasi VFA total diukur dengan menggunakan teknik destilasi uap (General Laboratory Procedures, 1966).
Konsentrasi NH3 (Amonia) (mM)
Konsentrasi NH3 diukur dengan menggunakan metode mikrodifusi Conway (General Laboratory Procedures, 1966).

Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 5 dengan 2 ulangan dan 2 kali periode pengambilan cairan rumen. Faktor yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari dua faktor yaitu: Faktor I (suplementasi MBK): 1) S0 = tanpa suplementasi MBK 2) S1 = 5% suplementasi MBK, 3) S2 = 10% suplementasi MBK, 4) S3 = 15% suplementasi MBK; faktor II (aras proteksi): P0 = 0%, P1 = proteksi 25%, P2 = proteksi 50%, P3 = proteksi 75%, P4 = proteksi 100%.
Model matematika yang digunakan adalah:
Yijk = µ + τi + αj + βk + (αβ)jk + εijk ……………………………………….. (1)
Keterangan:
Yijk : Nilai pengamatan dari perlakuan ke-i, faktor ransum basal ke-j dan faktor sumplemen ransum ke-k
µ : Nilai tengah populasi
τi : Pengaruh dari perlakuan ke-i (i = 1, 2, 3, …, 16)
αj : Pengaruh suplementasi MBK ke-j (j= 0, 5, 10 dan 15%)
βk : Pengaruh aras proteksi MBK ke-k (k= 0, 25, 50, 75, dan 100%)
(αβ)jk : Pengaruh interaksi antara suplementasi MBK dan aras proteksi MBK
εijk : Pengaruh galat percobaan

Susunan Perlakuan
Suplementasi minyak biji kapuk terproteksi pada rumput gajah yang digunakan pada penelitian ini dengan rincian sebagai berikut:

S0P0 : Rumput gajah

S1P0 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 0%
S1P1 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 25%
S1P2 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 50%
S1P3 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 75%
S1P4 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 100%

S2P0 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 0%
S2P1 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 25%
S2P2 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 50%
S2P3 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 75%
S2P4 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 100%

S3P0 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 0%
S3P1 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 25%
S3P2 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 50%
S3P3 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 75%
S3P4 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 100%

Prosedur Percobaan
Persiapan Rumput Gajah. Rumput gajah dikeringkan dengan oven dan digiling dengan menggunakan Willey Cutting Mill dengan diameter saringan 1 mm. Sampel rumput gajah dianalisis kandungan nutriennya dan digunakan dalam perlakuan dalam bentuk kering udara.
Proteksi Minyak Biji Kapuk. Proteksi MBK dilakukan melalui saponifikasi dengan KOH, kemudian ditransformasi menjadi garam Ca menggunakan CaCl2. Menghitung jumlah KOH dan CaCl2 yang digunakan sesuai aras proteksi berdasarkan angka penyabunan MBK yang ditentukan menurut metode Cabatit (1979). Menimbang sejumlah KOH dan CaCl2 sesuai degan hasil perhitungan, kemudian melarutkannya dengan aquades. Memanaskan MBK dalam penangas air selama 4 jam pada suhu 200ºC untuk mengeliminasi zat antinutrisinya. Memasukkan MBK ke dalam tabung Erlenmeyer, kemudian memanaskannya dalam penangas air hingga mencapai suhu 90ºC selama 10 menit. Mempipetkan sejumlah MBK sesuai dengan persentase suplementasi ke dalam tabung fermentor, kemudian menuangkan KOH ke dalam MBK yang tengah dipanaskan, mengaduk selama 10 menit hingga terbentuk suspensi sabun kalium. Memasukkan larutan CaCl2 ke dalam suspensi sabun kalium sambil dipanaskan pada suhu 90ºC hingga terbentuk endapan garam Ca. Mendiamkan minyak biji kapuk yang diproteksi tersebut selama beberapa saat, kemudian membuang supernatan, dan mencampur endapam dengan porsi MBK yang tidak diproteksi (sesuai aras proteksi).
Pengukuran Kecernaan secara in vitro. Uji in vitro dilakukan dengan simulasi kondisi rumen yang sebenarnya. Uji ini dilakukan berdasarkan metode Tilley dan Terry (1963) menggunakan rumen tiruan yang berupa tabung fermentor 100 ml, larutan McDougall sebagai pengganti cairan saliva dan cairan rumen segar dari sapi sebagai inokulum. Memasukkan sampel rumput gajah dengan berat 0,55 – 0,56 g ke tabung fermentor, kemudian menuangkan cairan rumen sebanyak 10 ml dan cairan McDougall sebanyak 40 ml atau dengan perbandingan 1 : 4. Menambahkan gas CO2 selama 30 detik dan menutup tabung fermentor dengan penutup karet berventilasi. Memasukkan tabung fermentor ke dalam inkubator, menggojognya 6 jam sekali selama 48 jam. Menghentikan proses fermentasi dengan cara memasukkan tabung fermentor ke dalam air es. Campuran disentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Supernatan dibuang, kemudian endapan dimasukkan ke dalam tabung yang ditambahkan 50 ml larutan pepsin 0,2%. Inkubasi dilanjutkan selama 48 jam secara anaerob dengan penggojogan 6 jam sekali. Sisa pencernaan disaring dengan kertas saring Whatman no. 41 menggunakan pompa vakum. Hasil saringan dimasukkan ke dalam crucible porselin dan dikeringkan dalam oven 105ºC untuk mengetahui residu bahan kering dan diabukan dalam tanur 600ºC untuk menghitung residu bahan organiknya. Kecernaan dihitung dengan rumus:
KcBK = “BK sampel – (BK residu – BK blanko) ” /”bobot BK sampel” x “100%” ……………… (2)

KcBO = “BO sampel – (BO residu – BO blanko)” /”bobot BO sampel” x “100%” ……………….. (3)
Keterangan :
KcBK = Kecernaan Bahan Kering (%)
KcBO = Kecernaan Bahan Organik (%)
BK = Bahan Kering (g)
BO = Bahan Organik (g)

Pengukuran Hasil Fermentasi Ruminal. Menuangkan cairan rumen sebanyak 10 ml dan cairan McDougall sebanyak 40 ml atau dengan perbandingan 1 : 4, serta sampel dengan berat 0,55 – 0,56 g ke tabung fermentor. Menambahkan gas CO2 selama 30 detik untuk dan menutup tabung fermentor dengan penutup karet yang berventilasi. Memasukkan tabung fermentor dalam inkubator selama 3 jam. Menghentikan proses fermentasi dengan cara memasukkan tabung fermentor ke dalam air es. Memasukkan cairan dari tabung fermentor ke dalam tabung sentrifuge, kemudian memasukkan sampel ke dalam sentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Memasukkan supernatan (cairan) yang diperoleh dari sampel yang telah disentrifuge ke dalam botol.
Pengukuran Produksi VFA. Pengukuran produksi VFA dilakukan dengan metode destilasi uap. Memasukkan 5 ml supernatan ke dalam tabung suling destilasi, menambahkan 1 ml H2SO4 15% dan tabung segera ditutup. Proses destilasi dilakukan dengan cara menghubungkan tabung dengan labu yang berisi air mendidih. Destilat ditampung di dalam labu Erlenmeyer yang berisi NaOH 0,5 N hingga volumenya mencapai 100 ml, setelah itu menambahkan indikator Phenolptalein sebanyak 2 tetes dan dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai warna titrat berubah dari merah muda menjadi jernih atau tidak berwarna. Setelah itu membuat blanko yang berisi NaOH sebanyak 5 ml, kemudian mentitrasi blanko dengan HCl. Menghitung produksi VFA dengan rumus :
Produksi VFA = (y – z) x N HCl x “1000” /”5″ mM ………………………… (4)
Keterangan :
y : ml titran HCl untuk menitrasi blanko
z : ml titran HCl untuk menitrasi sampel
N HCl : normalitas HCl

Pengukuran Produksi Amonia. Pengukuran produksi amonia dilakukan dengan metode mikrodifusi Conway. Mengoleskan vaselin pada tepi dinding cawan Conway. Memasukkan 1 ml H3BO3 dan indikator methyl red sebanyak 1 ml pada bagian tengah cawan. Setelah itu memasukan 1 ml Na2CO3 di bagian kanan dan 1 ml supernatan pada bagian kiri cawan. Menutup rapat cawan Conway hingga tidak ada rongga udara. Menggoyang secara perlahan cawan hingga supernatan dengan Na2CO3 tercampur. Mendiamkan sampel selama 24. Setelah 24 jam, mentitrasi sampel menggunakan H2SO4 0,0055 N, yang semula warna ungu berubah menjadi merah muda. Produksi amonia dihitung dengan rumus :
Produksi N-NH3 = (ml titran x N H2SO4 x 1000) mM ……………… (5)
Keterangan :
ml titran : ml titran H2SO4 yang digunakan
N H2SO4 : normalitas H2SO4

Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Pelaksanaan
Pengolahan data
Penyusunan laporan
Konsultasi

DAFTAR PUSTAKA

Dzikriyansyah, M. V. 2011. Pemanfaatan minyak biji kapuk randu (Ceiba pentandra) sebagai bahan bakar alternatif biodiesel dalam penanggulangan masalah kelangkaan BBM di Indonesia. (http://dzikriansyah.blogspot.com/2011/10/pemanfaatan-minyak-biji-kapuk-randu.html). Diakses pada 5 Oktober 2013.

Firsoni., J. Sulistyo, A. S. Tjakradidjaja dan Suharyono. 2008. Uji fermentasi in vitro terhadap pengaruh suplemen pakan dalam complete feed. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008. Hal : 233-240.

Jenkins, T.C. 1993. Lipid metabolism in the rumen. J. Dairy Sci. 76 : 3851–3863.

Lasamadi, R.D., S. S. Malalantang, Rustandi dan S. D. Anis. 2013. Pertumbuhan dan perkembangan rumput gajah dwarf (Pennisetum purpureum cv. Mott) yang diberi pupuk organik hasil fermentasi EM4. Jurnal Zootek 32 (5): 158-166.

Mathius, I. W., D. Yulistiani, E. Wina, B. Haryanto, A. Wilson dan A. Thalib. 2000. Pemanfaatan energi terlindungi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan pada domba induk. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 6 (1) : 7-13.

McDonald, P., R. Edwards and J. Greenhalgh. 2002. Animal Nutrition. Sixth Edition. New York.

Puastuti, W. 2009. Manipulasi bioproses dalam rumen untuk meningkatkan penggunaan pakan berserat. Wartazoa 9 (4): 180 -190.

Rahmadi, D., Sunarso, J. Achmadi, E. Pangestu, A. Muktiani, M. Christiyanto, Surono dan Surahmanto. 2010. Ruminologi Dasar. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

Sahid, M., B. Saroso, Mukani dan Buadi. 2000. Diversifikasi hasil, pengolahan hasil utama dan hasil samping tanaman kapuk. Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan.

Schauff, D. J. and J. H. Clark. 1992. Effects of feeding diets containing calcium salts of long-chain fatty acids to lactating dairy cows. J. Dairy Sci. 75 : 2990-3002.

Septinputri. 2010. Manfaat Biji kapuk sebagai pakan ternak. (http://septinputri.wordpress.com/2010/12/22/manfaat-biji-kapuk-sebagai-pakan-ternak/). Diakses pada 5 Oktober 2013.

Siregar, S. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Soebarinoto, S. Chuzaemi dan Mashudi. 1991. Ilmu Gizi Ruminansia. Animal Husbandary Project, Universitas Brawijaya, Malang.

Sutrisno, Widodo dan F. Wahyono. 2012. Kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan NH3 complete feed dengan level jerami padi berbeda secara in vitro. Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

Tanuwiria, U. H., D. C. Budi Nuryanto, S. Darodjah dan W. S. Putranto. 2006. Studi suplemen kompleks mineral minyak dan mineral-organik dan pengaruhnya terhadap fermentabilitas dan kecernaan ransum in vitro serta pertumbuhan pada domba jantan. Jurnal Protein 14 (2): 167-176.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Prawirokusumo, S. Reksohadiprodjo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Widodo, F. Wahyono dan Sutrisno. 2012. Kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan NH3 complete feed dengan level jerami padi berbeda secara in vitro. Anim. Agric. J., 1 (1): 215-230.

Widiyanto, M. Soejono, Z. Bachrudin, H. Hartadi, dan Surahmanto. 2007. Pengaruh suplementasi minyak biji kapok terproteksi terhadap daya guna pakan serat secara in vitro. J. Ind. Trop. Anim. Agric. 32 (1): 51-57.

Widyaningsih, D. 2005. Produksi NH3 dan protein total cairan rumen domba in vitro dengan pakan tunggal rumput lapangan yang disuplementasi dengan minyak biji kapuk terproteksi. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro, Semarang.

Wijayanti, E., F. Wahyono dan Surono. 2012. Kecernaan nutrien dan fermentabilitas complete feed dengan level ampas tebu berbeda secara in vitro. Anim Agric. J., 1 (1): 167-179.

Wina, E. dan I. W. R. Susana. 2013. Manfaat lemak terproteksi untuk meningkatkan produksi dan reproduksi ternak ruminansia. Wartazoa, 23 (4):176-184

Zakariah, M. A. 2012. Evaluasi kecernaan beberapa bahan pakan pada ternak Peranakan Ongole (PO) dan Peranakan Frisien Holstein (PFH). Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Author:

IG @dinata__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s