Posted in akademik

contoh Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

berikut contoh laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) berdasarkan panduan Karya Tulis Ilmiah (KTI) di fakultas saya . semoga bermanfaatπŸ™‚

BAB I

PENDAHULUAN

Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi cukup besar sebagai ternak penghasil daging dan menjadi prioritas dalam pembangunan peternakan dengan adanya wacana Swasembada Daging yang dicanangkan oleh pemerintah. Namun pertumbuhan populasi sapi secara nasional tidak mampu mengimbangi peningkatan konsumsi, sehingga kebutuhan daging sapi tidak dapat tercukupi. Besarnya peluang pengembangan usaha ternak sapi potong menjadikan usaha ini sebagai salah satu pilihan utama dalam usaha di bidang peternakan.
Keberhasilan usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh aspek pemuliabiakan (breed), pakan (feed), dan pengelolaan (management). Upaya untuk memenuhi permintaan daging sapi dapat dilaksanakan dengan cara pemilihan bibit unggul dan manajemen yang baik. Manajemen produksi sapi potong yang mencakup usaha penggemukan sapi dari hulu hingga ke hilir meliputi pemilihan bakalan, manajemen penggemukan, manajemen pemberian pakan, manajemen pemeliharaan, manajemen perkandangan, manajemen sanitasi dan pencegahan penyakit hingga pemanenan dan pemasaran. Penerapan manajemen produksi sapi yang baik mampu memberikan keuntungan yang baik pula.
Sapi Peranakan Ongole merupakan persilangan sapi Ongole jantan dengan sapi Jawa betina (Murtidjo, 1990). Sapi Peranakan Ongole telah banyak digemukkan karena dianggap mampu beradaptasi dengan iklim dan lingkungan di Indonesia. Menurut Aziz (1993) dengan manajemen produksi yang baik, sapi Peranakan Ongole memiliki PBBH yang cukup tinggi, yaitu 0,4 – 0,8 kg.
Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk mengkaji manajemen produksi sapi Peranakan Ongole yang diterapkan di PT Prisma Mahesa Unggul, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Manfaat yang diperoleh adalah mahasiswa memperoleh tambahan informasi, pengetahuan, dan pengalaman mengenai manajemen produksi sapi potong. Selain itu, melalui Praktek Kerja Lapangan mahasiswa dapat membandingkan antara teori dan pustaka yang diperoleh dibangku perkuliahan dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan.
 
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sapi Peranakan Ongole

Sapi Peranakan Ongole merupakan persilangan sapi Ongole jantan dengan sapi Jawa betina (Murtidjo, 1990). Persilangan tersebut telah berlangsung sejak tahun 1908 yang bertujuan untuk memperoleh ternak sapi yang dapat digunakan bagi keperluan tenaga tarik membantu petani mengolah tanah pertanian dan transportasi (Atmadilaga, 1979; Erlangga, 2009). Keunggulan sapi Peranakan Ongole yaitu memiliki daya adaptasi terhadap iklim tropis yang tinggi, tahan terhadap panas, tahan terhadap gangguan parasit seperti gigitan nyamuk dan caplak, dan memiliki toleransi yang baik terhadap pakan yang mengandung serat tinggi (Astuti, 2003).
Sapi Peranakan Ongole mempunyai ciri – ciri sebagai berikut: warna kelabu kehitam-hitaman pada bagian kepala, leher dan lutut berwarna gelap sampai hitam, bertanduk pendek, bobot badan sapi PO mencapai 430 – 500 kg pada sapi jantan dan 320 – 400 kg pada sapi betina (Hardjosubroto, 1994). Pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi Peranakan Ongole sebesar 0,4 – 0,8 kg (Aziz, 1993).

2.2. Lokasi Peternakan Sapi Potong

Pemilihan lokasi ditujukan untuk menunjang keberhasilan usaha peternakan. Pemilihan lokasi memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain; sumber air, topografi wilayah, dan lingkungan yang sehat. Lokasi peternakan harus dekat dengan sumber air, karena air mutlak dibutuhkan untuk air minum ternak, sanitasi maupun keperluan lainnya. Lingkungan yang sehat adalah lokasi peternakan tidak terjangkit suatu penyakit menular dan membahayakan bagi ternak (Rianto dan Purbowati, 2009). Lokasi peternakan sebaiknya jauh dari permukiman warga agar bau dan kotoran ternak tidak mengganggu kesehatan warga (Asmaki et al., 2008).
Pemilihan lokasi usaha penggemukan sapi potong harus memperhatikan iklim lokasi yang dipilih (Sugeng, 1998). Suhu lingkungan yang ideal untuk penggemukan sapi potong adalah 17 – 27ΒΊC, kelembaban 60 – 80%, dan curah hujan 800 – 1500 mm/tahun. Ketersediaan pakan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena biaya terbesar dalam usaha peternakan adalah biaya pakan, sehingga lokasi peternakan sebaiknya tidak jauh dari sumber pakan (Soeprapto dan Abidin, 2006). Sebaiknya peternakan berada di tempat yang strategis, yaitu mudah dalam memperoleh bibit sapi, mudah dalam pengadaan pakan dan air, dan akses jalan yang mudah (Yulianto dan Saparinto, 2010).

2.3. Perkandangan

Perkandangan adalah segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu peternakan (Rianto dan Purbowati, 2009).
Sarana maupun prasarana yang menunjang kelengkapan suatu peternakan antara lain kantor pengelola, rumah karyawan (mess), gudang, kebun hijauan pakan, reservoir air, jalan dan tempat pembuangan kotoran. Kantor pengelola sebaiknya berada di depan lokasi kandang dengan jarak 25 – 50 meter dari kandang. Rumah karyawan digunakan sebagai tempat tinggal karyawan guna pengawasan atau kemanan ternak dan lingkungannya (Rianto dan Purbowati, 2009). Gudang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan pakan maupun peralatan, sehingga kebutuhan pakan ternak selalu tercukupi (Santosa, 2008).
Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung sapi dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat, dan mempermudah dalam pelaksanaan pemeliharaan sapi tersebut (Abidin, 2008). Tipe kandang berdasarkan bentuknya ada dua, yaitu kandang tunggal dan kandang ganda. Kandang tunggal terdiri atas satu baris kandang yang dilengkapi dengan lorong jalan dan selokan atau parit. Kandang ganda ada dua macam yaitu sapi saling berhadapan (head to head) dan saling bertolak-belakang (tail to tail) yang dilengkapi dengan lorong untuk memudahkan pemberian pakan dan pengontrolan ternak (Ngadiyono, 2007).
Kandang individu diperuntukkan bagi satu ekor sapi dengan ukuran 2,5 x 1,5 m. Sedangkan pada kandang koloni, sapi – sapi ditempatkan dalam satu kandang pada periode tertentu (Abidin, 2008). Sebuah kandang koloni yang berukuran 7 m x 9 m dapat menampung 20 – 24 ekor sapi (Yulianto dan Saparinto, 2010).
Pembuatan kandang sapi potong perlu memperhatikan konstruksi kandang, yaitu: atap kandang, dinding kandang, lantai kandang, tempat pakan dan minum, jalan, dan selokan (Rianto dan Purbowati, 2009). Atap dapat berupa genting, asbes, seng, atau rumbia (Rukmana, 2005). Apabila atap terbuat dari genting, maka kemiringannya 30 – 45 derajat sedangkan atap yang terbuat dari asbes dan seng kemiringannya 15 – 20 derajat. Ketinggian atap yang terbuat dari genting adalah 4,5 m untuk lokasi kandang di dataran rendah sampai menegah dan 4 m untuk lokasi kandang di dataran tinggi, sedangkan atap asbes dan seng ketinggiannya 4 m untuk lokasi kandang di dataran rendah sampai menengah dan 3,5 m untuk lokasi di dataran tinggi (Siregar, 2008).
Dinding kandang dapat dibuat dari tembok semen atau papan kayu dengan ketinggian 1,5 m dari lantai kandang. Lantai kandang biasanya terbuat dari lantai tanah, beton semen, asapal atau batu – batuan. Lantai kandang harus rata, tidak licin, tidak terlalu keras atau tajam, tahan lama dan dibuat miring sekitar 5 – 10 derajat (Rianto dan Purbowati, 2009). Kandang perlu dilengkapi dengan tempat pakan dan minum, panjang tempat pakan sekitar 1,45 – 1,50 m dengan panjang tempat ransum 0,95 – 1 m, lebar 0,5 m dan kedalaman 0,4 m serta tempat minum dengan panjang 0,45 – 0,55 m, lebar 0,50 m dan kedalaman 0,40 m. Penyekat antara palung air minum dan ransum setebal 0,075 – 0,10 m (Sugeng, 1998).
Letak gang disesuaikan dengan tipe kandang, jika kandang terdiri dari dua lajur, gang bisa ditempatkan di tengah. Gang dibuat dengan lebar 1 – 1,5 m. Selokan dibuat tepat di belakang jajaran ternak dengan lebar 0,40 – 0,50 m, kedalaman 0,15 – 0,20 m (Rianto dan Purbowati, 2009). Peralatan kandang yang diperlukan antara lain alat suntik, sekop, ember plastik, sapu lidi, garu kecil, selang, sikat dan tali (Yulianto dan Saparinto, 2010).
Kebun hijauan pakan sangat diperlukan untuk menunjang pemenuhan pakan hijauan bagi ternak. Luas kebun hijauan pakan disesuaikan dengan jumlah ternak yang dipelihara. Reservoir air berupa bak tanam maupun menara air (Rianto dan Purbowati, 2009). Bak – bak penampung air ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air minum ternak, pembersihan kandang dan untuk memandikan ternak (Santosa, 2008). Tempat pembuangan kotoran sangat penting dalam perkandangan, jarak tempat pembuangaan kotoran sekurang – kurangnya 10 m dari kandang (Rianto dan Purbowati, 2009).

2.4. Pengadaan Bakalan

Parameter standar untuk seleksi sapi bakalan mencakup kualitas dan kuantitas sapi yang dapat dievaluasi dengan penilaian dan pengamatan tubuh sapi bagian luar (Sugeng, 1998). Bakalan yang akan digemukkan sangat mempengaruhi keberhasilan penggemukan sapi. Kriteria pemilihan bakalan: berasal dari induk yang memiliki potensi genetik yang baik, bakalan agak kurus, umur bakalan 2 – 2,5 tahun, sehat dan tidak mengidap penyakit, serta bentuk tubuh yang proporsional (Rianto dan Purbowati, 2011).

2.5. Pakan

Pakan merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjang produktivitas ternak. Bahan pakan ternak dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu hijauan dan konsentrat (Williamson dan Payne, 1993). Sapi memerlukan sebanyak 10% berat basah pakan atau 3% berat kering pakan dari bobot badan sapi perhari (Fikar dan Ruhyadi, 2010).
Semakin baik kualitas hijauan maka semakin sedikit persentase konsentrat yang digunakan. Jenis pakan yang pertama diberikan adalah konsentrat untuk menyuplai makanan bagi mikroba rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk ke dalam rumen, mikroba rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Pada kandang koloni, pemberian pakan harus diperhitungkan dengan cermat agar tidak terjadi kompetisi dalam merebutkan pakan (Abidin, 2008). Pada penggemukan sapi secara intensif, konsentrat diberikan dalam jumlah besar yaitu antara 60 – 80% dan hijauan 20 – 40% (Blakely dan Bade, 1994; NRC, 1996; Parakkasi, 1999) atau konsentrat 85% dan hijauan 15% (Sumadi et al., 1991; Ngadiyono, 1995).
Kandungan nutrisi pada pakan akan diubah menjadi energi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, dan apabila kebutuhan pokok sudah terpenuhi maka kelebihan nutrisi pakan akan digunakan untuk pertumbuhan dan produksi (Tillman et al., 1991). Semakin tinggi bobot badan, semakin tinggi pula kebutuhan untuk hidup pokok demikian pula dengan pertambahan bobot badan hariannya. Semakin tinggi pertambahan bobot badan harian ternak, semakin tinggi pula kebutuhan zat pakannya. Kebutuhan nutrisi sapi potong berdasarkan bobot badan dan pertambahan bobot badan hariannya, dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Sapi Berdasarkan Bobot Badan dan
Pertambahan Bobot Badan Harian (Kearl, 1982)

Bobot Badan PBBH BK PK TDN
——————————————– kg —————————————-
250 0,00
0,25
0,50
0,75
1,00 4,8
5,8
6,2
6,5
6,6 0,264
0,486
0,564
0,644
0,724 2,1
2,7
3,3
3,9
4,5
300 0,00
0,25
0,50
0,75
1,00
1,10 5,5
6,7
7,1
7,4
7,6
7,3 0,303
0,526
0,604
0,717
0,764
0,797 2,4
3,1
3,8
4,5
5,2
6,1
350 0,00
0,25
0,50
0,75
1,00
1,10
1,20 6,1
7,4
8,0
8,3
8,5
8,5
8,4 0,340
0,557
0,637
0,717
0,797
0,829
0,860 2,7
3,5
4,3
5,0
5,8
6,1
6,4

Bahan pakan yang biasa diberikan kepada sapi antara lain adalah jerami padi, rumput gajah, dan rumput lapangan. Selain itu sapi juga diberi pakan konsentrat untuk mendapatkan pertambahan bobot badan yang tinggi. Jerami padi adalah hasil samping dari tanaman padi yang sudah diambil hasil utamanya. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak memiliki kendala yaitu kandungan serat kasarnya yang tinggi, kecernaan dan kandungan nutrisi yang rendah (Santosa, 2008). Jerami padi memiliki serat kasar yang tinggi yaitu 35,5% (Siregar, 2003).
Rumput gajah merupakan salah satu pakan hijauan yang berkualitas, tumbuh relatif cepat dan banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak (Yulianto dan Saparinto, 2010). Menurut Rukmana (2005) kandungan nutrien rumput gajah antara lain: 19,9% BK, 10,2% PK, 1,6% lemak, 34,2% SK, 11,7 abu dan 42,3% BETN.
Konsentrat merupakan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%. Konsentrat berasal dari biji – bijian, umbi – umbian, serta limbah peternakan dan industri (Darmono, 1999). Fungsi dari konsentrat adalah meningkatkan dan memperkaya nutrisi bahan pakan lain yang nilai nutrisinya lebih rendah (Sugeng, 1998).
Pakan sebaiknya tidak diberikan sekaligus dalam jumlah banyak setiap harinya, melainkan dibagi menjadi beberapa bagian, misalkan pagi dan sore hari (Rianto dan Purbowati, 2009). Tatacara pemberian pakan sapi potong dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tatacara Pemberian Pakan Sapi Potong

Waktu Kegiatan Kegiatan yang dilakukan
06.30
08.00
09.00
11.00
14.00
15.00
16.00
21.00 Membersihkan tempat pakan dan minum
Memberikan konsentrat dan dedak
Memberikan hijauan
Memberikan air minum
Memberikan konsentrat dan dedak
Memberkan hijauan
Memberikan air minum
Memberikan hijauan
Sumber : Fikar dan Ruhyadi (2010).

2.6. Penggemukan Sapi

Penggemukan sapi adalah usaha memacu pertumbuhan sapi untuk mencapai peningkatan bobot badan pada fase pertumbuhan yang tepat (Yulianto dan Saparinto, 2010). Sistem penggemukan terdiri dari tiga macam, yaitu dry lot fattening, pasture fattening, dan kombinasi antara keduanya (Siregar, 2008).
Penggemukan dry lot fattening diperuntukkan bagi sapi berumur 1 tahun dan lamanya penggemukan sekitar 4-6 bulan dengan pemberian biji – bijian atau kacang – kacangan. Penggemukan pasture fattening adalah penggemukan sapi dengan yang digembalakan di padang penggembalaan. Kombinasi pasture – dry lot fattening dilakukan di daerah tropis dengan cara pada saat musim penghujan ternak dilepas di padang penggembalaan dan pada saat musim kemarau ternak dikandangkan dan diberi makanan biji – bijian dan hay (Murtidjo, 1990).
Sistem penggemukan kereman dilakukan dengan cara menempatkan sapi dalam kandang selama beberapa waktu (intensif). Pakan yang diberikan terdiri atas hijauan dan konsentrat sesuai dengan ketersediaan pakan (Siregar, 2008). Menurut Tillman et al. (1991) sapi yang digemukkan secara feedlot adalah sapi yang memiliki pertumbuhan yang tinggi sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai bobot tertentu menjadi lebih singkat. Waktu penggemukan yang lebih singkat ini dimaksudkan untuk memperoleh efisiensi ekonomi dalam penggunaan pakan.
Hasil akhir ternak sapi potong adalah sapi yang gemuk dan dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh dan recahan sebanyak 46,5%. Waktu yang dibutuhkan untuk pembesaran sapi tergantung target akhir dari bobot sapi yang ditentukan dan bakalan sapi yang dibesarkan (Yulianto dan Saparinto, 2010).
Pertambahan bobot badan harian sapi PO menurut Amini (1998) adalah 0,52 kg/hari yang diberi ransum jerami dan konsentrat sebesar 61% dari seluruh ransum. Menurut Sumadi et al. (1991) PBBH sapi PO sebesar 0,70 kg pada pemeliharaan secara intensif dengan yang diberi pakan konsentrat sebanyak 85% dari total ransum.
Parakkasi (1999) menyatakan bahwa sistem pemeliharaan ternak sapi dibagi menjadi tiga, yaitu intensif, ekstensif dan mixed farming system. Pemeliharaan ternak secara intensif adalah sistem pemeliharaan ternak sapi dengan cara dikandangkan secara terus – menerus dengan sistem pemberian pakan secara cut and carry. Pemeliharaan secara ekstensif adalah pemeliharaan ternak di padang penggembalaan. Sapi perlu dimandikan secara rutin untuk menjaga kebersihan tubuh dan mencegah muculnya sarang penyakit pada tubuh sapi. Pembersihan kandang dilakukan setiap hari agar kandang selalu bersih, mencegah timbulnya penyakit, dan memberikan kenyamanan bagi sapi (Ngadiyono, 2007).

2.7. Sanitasi dan Pencegahan Penyakit

Upaya penjagaan kesehatan ternak tidak lepas dari usaha penjagaan kebersihan kandang dan lingkungan sekitar dengan cara vaksinasi secara teratur, sanitasi, desinfeksi pada kandang dan peralatan, memeriksa kesehatan ternak secara teratur, dan memisahkan ternak yang sakit dengan ternak yang sehat (Rianto dan Purbowati, 2009). Sanitasi dilakukan pada ternak, lingkungan kandang, dan peternaknya. Sanitasi terhadap ternak dapat dilakukan dengan cara memandikan sapi. Sanitasi kandang dilakukan dengan cara membersihkan kandang dan kotoran yang dapat dilakukan 2 – 3 kali sehari (Soeprapto dan Abidin, 2006).
Pencegahan merupakan tindakan untuk melawan berbagai penyakit. Usaha pencegahan ini meliputi karantina atau isolasi ternak, vaksinasi, deworming, serta pengupayaan peternakan yang higienis (Sudarmono dan Sugeng, 2008). Bakalan yang akan digemukkan atau yang baru dibeli di pasar hewan, perlu dimasukkan ke dalam kandang karantina yang letaknya terpisah dari kandang penggemukan. Pemberian vaksin biasanya dilakukan pada saat sapi bakalan berada di kandang karantina. Pemberian vaksin cukup dilakukan sekali untuk setiap ekor karena sapi hanya dipelihara dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar 3 – 4 bulan (Abidin, 2008).

2.8. Pemanenan dan Pemasaran

Sapi hasil penggemukan biasanya dijual setelah penggemukan selama 4 – 6 bulan dengan bobot jual 584 – 600 kg. Sebelum memasarkan sapi perlu dilakukan penimbangan sapi, penentuan harga jual, menentukan pasar tujuan, jalur pemasaran, alat angkut dan strategi pemasaran (Fikar dan Ruhyadi, 2010). Jangka waktu pemeliharaan yang singkat dibutuhkan pengaturan sehingga produksi dapat berjalan terus menerus. Informasi pasar dapat memberikan manfaat besar, selain dapat digunakan untuk mengatur kegiatan produksi juga dapat menjamin kesinambungan produksi (Rianto dan Purbowati, 2009).

2.9. Evaluasi dan Analisis Usaha

Evaluasi dapat diketahui melalui konversi pakan dan efisiensi pakan. Konversi pakan adalah perbandingan jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan (Santosa, 2008). Konversi pakan yang baik bagi sapi potong adalah 8,56 – 13,29. Semakin kecil angka konversi pakan maka pertambahan bobot badan yang dihasilkan semakin tinggi. Efisiensi pakan yang baik pada sapi potong adalah 7,52 – 11,29% (Siregar, 2003). Efisiensi pakan merupakan sebagai perbandingan jumlah unit produk yang dihasilkan (pertambahan bobot badan) dengan jumlah unit konsumsi pakan dalam satuan waktu yang sama (Santosa, 1995).

BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1. Waktu dan Tempat

PraktekKerjaLapangan (PKL) ini dilaksanakan dari 4 Februari sampai 11 Maret 2013 di PT Prisma Mahesa Unggul, Kampung Geleweran, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

3.2. Materi

Materi yang digunakandalamkegiatan PKL ini adalah sapi Peranakan Ongole yang berjumlah 216 ekor yang terdiri dari 129 ekor sapi jantan dan 87 ekor sapi betina. Sampel yang diamati adalah 10 ekor sapi Peranakan Ongole berjenis kelamin jantan yang dikenali melalui tanda pengenal berupa eartag. Sapi kelompok I diambil dari salah satu paddock di kandang koloni (kandang A) dengan jumlah populasi 45 ekor dan jumlah sampel 4 ekor, sedangkan sapi kelompok II diambil dari kandang individu (kandang B) dengan jumlah sampel 6 ekor. Alat yang digunakanadalah meteran untuk mengukur kandang, timbangan untuk menimbang bobot badan ternak dan untukmenimbangpakan, hygrometer untuk mengukur suhu serta kelembaban, kamera untuk dokumentasi pelaksanaan kegiatan, daftar kuisioner untuk menanyakan informasi yang dibutuhkan, dan alat tulis untuk mencatat data yang diperoleh.

3.3. Metode

Metode yang digunakan dalam PKL ini adalah observasi dan partisipasi aktif dengan melakukan kegiatan yang ada pada peternakan tersebut guna memperoleh data. Data yang dikumpulkan terdiri atas dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi langsung serta wawancara dengan petugas kandang dan pengelola peternakan. Data sekunder diperoleh dari catatan – catatan, baik yang ada di peternakan maupun lembaga – lembaga terkait seperti kelurahan dan kecamatan.
Data yang dikumpulkan pada PKL meliputi keadaan peternakan secara umum dan aspek – aspek produksi dalam manajemen produksi peternakan, yaitu: konsumsi pakan, PBBH, konversi pakan, efisiensi pakan dan Feed Cost per Gain. Data keadaan peternakan secara umum diperoleh dengan melakukan wawancara dengan pemilik atau karyawan peternakan. Data pengadaan bakalan diperoleh dengan melihat kriteria bakalan, harga dan bobot bakalan.
Pengukuran bobot badan dilakukan dengan menimbang sapi secara langsung menggunakan mesin timbang, pertambahan bobot badan dihasilkan dari pengurangan bobot badan akhir dengan bobot badan awal per kurun waktu pengamatan. Satu ikat rumput gajah kurang lebih 10 kg, 1 ikat jerami padi kurang lebih 30 kg, dan pemberian konsentrat dilakukan menggunakan sekop kecil dengan 1 sekop kurang lebih 1 kg. Pengukuran konsumsi pakan dilakukan dengan menimbang jumlah pakan yang diberikan selama 24 jam kemudian dikurangi jumlah sisa pakan pada hari yang sama. Data tentang kesehatan ternak diperoleh dengan wawancara dan melihat kegiatan apa saja yang dilakukan untuk menjaga kesehatan ternak.
Rumus yang digunakan:
Konsumsi Pakan = Pemberian – Sisa
PBBH = “Bobot akhir – Bobot awal” /”Lama pemeliharaan”
Konversi pakan = “Total Konsumsi Pakan” /”PBBH”
Efisiensi pakan = “PBBH” /”Total Konsumsi Pakan” x 100%
Feed Cost per Gain = “Biaya Pakan yang dibutuhkan” /”PBBH”
Data mengenai tenaga kerja diperoleh dengan cara melakukan wawancara kepada para pekerja dengan menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan. Pengukuran kandang dilakukan dengan mengukur bagian – bagian kandang dengan menggunakan pita ukur.
Data yang diperoleh kemudian diolah secara deskriptif dan dibandingkan dengan data yang ada di pustaka, kemudian hasilnya dibahas menurut permasalahan. Berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya disusun sebagai Laporan Praktek Kerja Lapangan.
 
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Umum

PT Prisma Mahesa Unggul bergerak di bidang penggemukan sapi potong. Peternakan ini beralamat di Jl. Raya Wisata Gunung Pancar, Kampung Gelewer RT 06/IV Desa Karang Tengah, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. PT Prisma Mahesa Unggul didirikan pada tanggal 28 Agustus 2009 yang merupakan kerjasama dari PT Sahabat Indonesia dan PT Prisma Lembu Surau. Usaha tersebut sekarang telah mengalami perkembangan dan mempunyai 4 buah kandang dengan kapasitas 1.200 ekor sapi.
Sapi yang dimiliki oleh PT Prisma Mahesa Unggul berjumlah 836 ekor. Bangsa sapi yang digemukkan meliputi216 ekor sapi Peranakan Ongole, 10 ekor sapi Peranakan Simmental, 250 ekor sapi Peranakan Limousin, 21 ekor sapi peranakan Friesian Holstein, 290 ekor sapi Bali, dan 49 ekor sapi Madura.Sapi Peranakan Ongole yang dimiliki oleh PT Prisma Mahesa Unggulterdiri atas 129 ekor sapi jantan untuk digemukkan dan 87 ekor sapi betina untuk pembesaran yang kemudian akan dijual sebagai indukan.

4.1.1. Lokasi

PT Prisma Mahesa Unggul terletak di Jl. Raya Wisata Gunung Pancar, Kampung Gelewer RT 06/IV Desa Karang Tengah, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, seperti yang tercantum pada Lampiran 1. Adapun mengenai batas wilayah Desa Karang Tengah adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup
Sebelah Timur : Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur
Sebelah Selatan : Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang
Sebelah Barat : Desa Sumur Batu, Kecamatan Babakan Madang
Desa Karang Tengah terletak pada 060 33’30”- 060 38’30” LS dan 1060 53’05” – 1060 58’35” BT dan memiliki luas 2.859 ha (BPS, 2009). Ketinggian desa ini berada pada 529 mdpl dengan suhu udara rata – rata 26 – 27ΒΊC dan kelembaban 75%. Hal tersebut menunjukkan bahwa peternakan ini sudah berada pada lokasi yang tepat karena memiliki iklim yang sejuk. Menurut Soeprapto dan Abidin (2008), suhu lingkungan yang ideal untuk penggemukan sapi potong adalah 17 – 27ΒΊC dan kelembaban 60 – 80%.
Jarak lokasi peternakan dengan permukiman penduduk sekitar 30 m. Jarak tersebut merupakan jarak miminal yang tergolong baik untuk meminimalisir pencemaran udara akibat bau yang ditimbulkan dari pemeliharaan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyid dan Hartati (2007) yaitu jarak minimal peternakan dengan permukiman adalah 10 m. Asmaki et al. (2008) menambahkan bahwa lokasi peternakan sebaiknya jauh dari permukiman warga agar bau dan kotoran ternak tidak mengganggu kesehatan warga.
Lokasi peternakan cukup strategis karena ditunjang dengan adanya akses jalan yang cukup baik. Jarak dengan jalan raya sekitar 300 m. Hal tersebut tentunya menunjang pemenuhan kebutuhan dalam melaksanakan usaha penggemukan sapi potong seperti yang dinyatakan oleh Yulianto dan Saparinto (2010) yaitu sebaiknya peternakan berada di tempat yang strategis, yaitu mudah dalam memperoleh bibit sapi, mudah dalam pengadaan pakan dan air, dan akses jalan yang mudah.
Luas area PT Prisma Mahesa Unggul adalah 20 ha dengan rincian: 2 ha 160 m2 kandang sapi, 100 m2 gudang pakan, 180 m2 mushola dan kantor, 36 m2 mess, 8 m2 kantor keamanan, 200 m2septic tank, 2442 m2 lahan parkir dan lahan terbuka 14.774 m2. Wilayah di sekitar lokasi peternakan merupakan kawasan pertanian berupa kebun dan sawah. Hal tersebut mampu membantu pemenuhan kebutuhan pakan dengan memanfaatkan limbah pertanian berupa jerami padi. Lokasi peternakan yang dekat dengan sumber pakan dapat menekan biaya produksi untuk penyediaan pakan, hal ini sesuai dengan pendapat Soeprapto dan Abidin (2008) yaitu untuk menekan biaya pakan, maka sebaiknya lokasi peternakan tidak jauh dari sumber pakan. Sumber air berasal dari air tanah pada musim penghujan dan air isi ulang pada musim kemarau. Hal ini menunjukkan bahwa pihak peternakan telah bisa menyediakan air untuk kebutuhan air minum, sanitasi dan kebutuhan lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009), bahwa lokasi peternakan harus dekat dengan sumber air, karena air mutlak dibutuhkan untuk air minum ternak, sanitasi maupun keperluan lainnya.

4.1.2. Organisasi

PT Prisma Mahesa Unggul dimiliki oleh Bapak Probo Prasetyo yang membawahi Bapak H. Irfan Harahap sebagai Manajer Personalia, Bapak Ir. H. Wasdiro sebagai Manajer Produksi, dan Bapak Surjono Senti sebagai Manajer Keuangan. Manajer Produksi membawahi Bapak Surahman sebagai Supervisor Produksi. Struktur organisasi PT Prisma Mahesa Unggul ini secara lengkap tercantum dalam Lampiran 2.

4.1.3. Perkandangan

Segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun prasarana yang dimiliki oleh PT Prisma Mahesa Unggul sudah cukup baik. Sarana penunjang yang ada adalah gudang pakan, kebun hijauan pakan, kantor, tempat tinggal karyawan (mess), bak penampungan air, dan tempat pembuangan kotoran. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009), bahwa kelengkapan suatu peternakan antara lain kantor pengelola, rumah karyawan (mess), gudang, kebun hijauan pakan, reservoir air, jalan dan tempat pembuangan kotoran.
Layout perkandangan PT Prisma Mahesa Unggul ini secara lengkap tercantum dalam Lampiran 3. Peternakan ini memiliki 4 kandang dengan kapasitas 1.200 ekor sapi, namun pada saat pelaksanaan PKL hanya berisikan 836 ekor sapi. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, diperoleh hasil: (1) kandang A berukuran panjang 25,76 m dan lebar 78 m dengan panjang per paddock 11,16 m dan lebar 15,60 m (2) kandang B, C, dan D dengan panjang 30 m dan lebar 10 m. Kandang A berisi 40 – 65 ekor sapi per paddock atau 400 – 650 ekor per kandang, sedangkan kandang B, C, dan D masing – masing berisi 60 – 80 ekor sapi per lajur atau 120 – 160 ekor per kandang. Berdasarkan data tersebut, dapat dihitung bahwa ukuran untuk satu ekor sapi pada kandang A adalah 2,67 m2/ekor; kandang B, C, dan D 3,75 m2/ekor. Ukuran kandang koloni dan individu ini telah sesuai dengan kebutuhan per satuan luas tubuh ternak, hal ini sesuai dengan pendapat Yulianto dan Saparinto (2010), yaitu sapi yang ditempatkan pada kandang koloni membutuhkan 2,64 m2/ekor. Abidin (2008) menambahkan bahwa sapi yang ditempatkan pada kandang individu membutuhkan paddock dengan ukuran 2,5 x 1,5 m/ekor.
Kandang yang digunakan adalah kandang konvensional dengan tipe ganda dan penempatan sapi dilakukan dengan membuat dua baris dan saling berhadapan (head to head). Penempatan sapi dengan ini cukup baik karena memudahkan dalam pengawasan dan pemberian pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ngadiyono (2007) ternak bisa ditempatkan pada kandang yang saling berhadapan (head to head) yang dilengkapi dengan lorong untuk memudahkan pemberian pakan dan pengontrolan ternak.
Tempat pakan dan minum di kandang A (koloni) terletak terpisah dengan panjang 15,60 m dan lebar 0,8 m dengan ketebalan 0,10 m dan kedalaman 1 m. Kandang B, C, dan D (individu) tempat air dan minum terletak pada satu baris dengan panjang 1,4 m dan lebar 0,8 m dengan ketebalan 0,1 m dan kedalaman 0,5 m. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugeng (1998) yaitu panjang tempat pakan sapi sekitar 1,45 – 1,50 m dengan lebar 0,05 m dan ketebalan 0,75 – 0,1 m. Ukuran tempat pakan dan minum sudah cukup baik, karena mempermudah pemberian pakan dan minum. Tempat pakan dan minum ternak yang ada di kandang individu juga bisa mencegah penularan penyakit melalui pakan dan minum, karena terpisah antara ternak satu dengan ternak yang lainnya. Bentuk palung dapat dilihat pada ilustrasi 1.

Ilustrasi 1. Bentuk Palung Kandang Koloni (Kiri) dan Individu (Kanan)

Kandang dibuat terbuka tanpa adanya dinding, hal ini memudahkan masuknya sinar matahari dan sirkulasi udara namun menyebabkan air hujan dan angin mudah masuk. Atap kandang terbuat dari asbes dengan tinggi 4 m, atap berfungsi untuk melindungi ternak dari pengaruh langsung sinar matahari dan hujan. Ketinggian atap kandang ini sesuai dengan pendapat Siregar (2008), bahwa kandang dengan atap asbes ketinggiannya antara 3,5 – 4 m. Atap kandang yang terbuat dari asbes memberikan efek sejuk pada kandang saat cuaca panas, karena asbes bisa menyerap panas.
Berdasarkan hasil pengamatan, lantai kandang terbuat dari semen yang dibuat agak miring dengan kemiringan 5 derajat dan permukaan yang agak kasar. Lantai kandang yang dibuat agak miring dan agak kasar memiliki dampak baik, yaitu memudahkan dalam sanitasi dan meminimalisir terpelesetnya ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009) bahwa lantai kandang harus rata, tidak licin, tidak terlalu keras atau tajam, tahan lama dan dibuat miring sekitar 5 – 10 derajat.
Jarak gudang dengan kandang kurang lebih 150 m. Gudang digunakan untuk menyimpan bahan pakan, konsentrat, dan mesin pembuat pakan (mixer). Mess karyawan berjarak kuranng lebih 150 m dari kandang, sedangkan jarak tempat pembuangan kotoran degan kandang 20 m. Letak dan jarak antar sarana dan prasarana tersebut sudah baik, karena telah mempertimbangkan kesehatan ternak dan pekerja. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009) yaitu tempat pembuangan kotoran jaraknya minimal 10 m dari kandang.
Peralatan kandang yang digunakan untuk menunjang proses produksi antara lain sabit, sekop, cangkul garpu, sikat, selang, ember, alat suntik, alat desinfeksi, tali, dan troli. Peralatan tersebut mempermudah dalam pelaksanaan kegiatan di kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Yulianto dan Saparinto (2010) yaitu peralatan untuk kelengkapan kandang antara lain alat suntik, sekop, ember plastik, sapu lidi, garu kecil, selang, sikat dan tali.

4.1.4. Tenaga Kerja

Jumlah tenaga kerja di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul kurang lebih 70 orang yang terdiri dari 2 orang pekerja kantor, 2 orang sopir, 8 orang satpam, 4 orang juru masak dan kebun, 5 orang pekerja gudang, 12 orang pekerja kandang, 4 orang pekerja pengumpul jerami, dan sisanya sebagai pekerja lahan hijauan pakan. Jumlah pekerja kandang adalah 12 orang dan jumlah sapi yang digemukkan adalah 836 ekor, sehingga seorang pekerja kandang mengelola kurang lebih 70 ekor sapi dan melakukan semua kegiatan mulai sanitasi, menyiapkan dan memberikan pakan. Pengaturan dan pembagian kerja telah berjalan dengan baik, sehingga mempermudah dalam koordinasi dan melaksanakan proses produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2008) bahwa adanya struktur pekerja yang jelas akan memudahkan koordinasi, dan setiap pekerja mengetahui masing – masing hak dan kewajibannya. Jadwal kerja harian pekerja kandang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jadwal Kerja Harian Pekerja Kandang

Waktu Kegiatan
07.00
07.30
08.30
11.00
11.30
12.00
13.00
15.00
15.30 Membersihkan tempat pakan dan minum
Pemberian konsentrat dan air minum
Sanitasi kandang
Pemberian hijauan pakan (rumput gajah)
Pengecekan pakan dan air minum
Istirahat
Pengecekan pakan dan air minum
Pemberian konsentrat dan hijauan pakan (rumput gajah atau jerami)
Pengecekan pakan dan air minum

Jadwal kerja sangat diperlukan sebagai pedoman bagi setiap tenaga kerja. Waktu kerja dalam satu hari adalah 8 jam (07.00 – 16.00 WIB), dan upah yang diterima oleh pekerja kandang sebesar Rp. 950.000,00 per bulan atau dengan upah Rp 3.958,33 per jam, dan makan siang ditanggung oleh perusahaan sebesar Rp. 150.000,00 per bulan. Pekerja yang bekerja lebih dari jam kerja yang telah ditetapkan akan memperoleh gaji tambahan atau uang lembur. Upah yang diterima belum memenuhi Upah Minimum Regional (UMR) Kota Bogor, yaitu sebesar Rp. 2.002.000,00 per bulan atau Rp. 8.341,67 per jam.

4.2. Proses Produksi

Proses produksi merupakan proses yang terjadi dari awal produksi hingga penjualan hasil produksi yang meliputi: pengadaan bakalan, pakan, serta sanitasi dan pencegahan penyakit. Proses penggemukan di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul dilakukan kurang lebih selama 3 bulan dengan sistem kereman, yaitu sapi ditempatkan dalam kandang terus menerus selama masa penggemukan. Pakan yang diberikan berupa rumput gajah, jerami padi dan pakan konsentrat. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (2008) yaitu sistem penggemukan kereman dilakukan dengan cara menempatkan sapi dalam kandang selama beberapa waktu (intensif).

4.2.1. Pengadaan bakalan

Pemilihan bakalan merupakan salah satu unsur penting dalam usaha di bidang peternakan. Sapi bakalan yang digemukkan di PT Prisma Mahesa Unggul diperoleh dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Bangsa sapi yang digemukkan antara lain: sapi Peranakan Ongole, peranakan Simmental, peranakan Limousin, peranakan Friesian Holstein, sapi Bali, dan sapi Madura.
Berdasarkan hasil pengamatan, PT Prisma Mahesa Unggul menetapkan langkah – langkah dalam pemilihan bakalan sapi Peranakan Ongole, yaitu: (1) bakalan memiliki ciri – ciri: sehat, tidak cacat, tubuh proporsional, kaki lurus dan kokoh; (2) bakalan tidak mengidap penyakit mulut dan kuku (PMK); (3) menimbang bobot badan awal dan atau tinggi ternak; (4) desinfeksi dan ear tagging; (5) grading ternak. Pemilihan bakalan ini bertujuan untuk menjamin kualitas bakalan dan kualitas hasil penggemukan. Salah satu ciri bakalan yang dipilih adalah bakalan kurus yang sehat, hal ini dikarenakan ternak yang memiliki badan kurus yang sehat menunjukkan bahwa bakalan tersebut masih dalam tahap exponential growth yang dianggap mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan kandungan nutrisi pakan dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2011), bahwa kriteria pemilihan bakalan: agak kurus, umur, sehat dan tidak mengidap penyakit, serta bentuk tubuh yang proporsional.
PT Prisma Mahesa Unggul membeli sapi bakalan dengan sistem timbang bobot badan dan jogrok. Pembelian sapi bakalan yang diterapkan saat pelaksanaan PKL adalah dengan sistem timbang bobot badan sapi minimal 250 kg dengan harga beli Rp. 45.000,00/kg bobot hidup, sedangkan sapi jogrok dibeli dengan bobot badan minimal 100 kg dan tinggi badan minimal 115 cm dibeli dengan harga kurang lebih Rp. 5.300.000,00 per ekor. Pembelian bakalan dilakukan secara berkala dengan jumlah bakalan dan jadwal kedatangan bakalan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dengan supplier. Selama pelaksanaan PKL, pembelian bakalan Peranakan Ongole berlangsung kurang lebih sebanyak 6 kali dengan jumlah bakalan kurang lebih 20 ekor per kedatangan.
Berdasarkan hasil pengamatan, sapi Peranakan Ongole memiliki ciri – ciri: warna putih kelabu kehitam – hitaman, bergelambir dan bertanduk pendek. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjosubroto (1994), bahwa sapi Peranakan Ongole mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: warna kelabu kehitam – hitaman pada bagian kepala, leher dan lutut berwarna gelap sampai hitam, serta bertanduk pendek.

4.2.2. Pemberian pakan

Pakan yang digunakan di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul adalah rumput gajah, jerami padi, dan konsentrat. Komposisi konsentrat dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Komposisi Konsentrat
No Bahan Pakan Komposisi PK TDN SK
—————————- % ———————-
1 Dedak 19 2,662 10,45 1,596
2 Onggok 35 0,63 29,75 0,63
3 Kopra 6,2 1,3144 5,022 0,813
4 Bungkil sawit 30 4,95 21 4,68
5 Kedelai 3 1,239 2,496 0,258
6 Kapur 0,4 0 0 0
7 Garam 0,6 0 0 0
8 Molasses 5,4 1,1674 3,8178 0
9 Urea 0,4 0,0072 0,22 0,0366

Pemberian pakan dilakukan secara berkala sesuai dengan yang tercantum pada Tabel 3. Pemberian pakan secara berkala ini bertujuan untuk meminimalisir pakan yang tercecer karena tidak dikonsumsi oleh ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009) bahwa pemberian pakan dilakukan secara berkala pada pagi dan sore hari. Pemberian air minum ternak dilakukan satu kali sehari secara ad libitum bersamaan dengan pemberian konsentrat. Pemberian air minum dengan sistem ini menyebabkan ternak leluasa dalam mengkonsumsi air minum dan bisa menurunkan tingkat konsumsi. Hal ini kurang baik karena ternak akan cenderung banyak mengkonsumsi air saat diberikan pakan dengan kandungan serat kasar yang tinggi. Fikar dan Ruhyadi (2010) menambahkan bahwa pakan dan minum harus diberikan pada jam berbeda agar pakan yang diberikan tidak banyak disisakan oleh ternak.
Kebutuhan nutrisi pakan sapi dapat dilihat pada Lampiran 4. Konsumsi pakan sapi dapat dilihat pada Lampiran 5. Kandungan nutrisi pakan dan konsumsi pakan bahan kering dapat dilihat pada Lampiran 6. Rasio pakan hijauan dan konsentrat yang diberikan pada sapi kelompok I dan II masing – masing adalah 44,4% : 55,6% dan 60% : 40%. Berdasarkan hasil perhitungan dari rekomendasi Kearl (1982), kebutuhan pakan sapi Peranakan Ongole kelompok I dengan bobot badan rata – rata 120,5 kg dengan PBBH rata – rata 0,74 kg per hari adalah 3,64 kg bahan kering, 0,50 kg protein kasar dan 2,17 kg TDN sedangkan pada kenyataannya di lapangan konsumsi pakan untuk setiap ekor per hari adalah 3,77 kg bahan kering (3,12% BB), 0,16 kg protein kasar, dan 0,21 kg TDN. Kebutuhan pakan sapi Peranakan Ongole Kelompok II dengan bobot badan rata – rata 326,83 kg dengan PBBH rata – rata 0,84 kg per hari adalah 7,93 kg bahan kering, 0,80 kg protein kasar dan 4,84 kg TDN, sedangkan pada kenyataannya di lapangan konsumsi pakan untuk setiap ekor per hari adalah 10,54 kg bahan kering (3,22% BB), 0,14 kg PK dan 0,91 kg TDN.
Perhitungan analisis kecukupan nutrisi dapat dilihat pada Lampiran 7. Berdasarkan hasil analisis kecukupan nutrisi, pemberian pakan sapi Peranakan Ongole pada peternakan PT Prisma Mahesa Unggul telah mampu mencukupi kebutuhan nutrisi ternak bahkan terdapat kelebihan BK, PK, dan TDN pada sapi Kelompok II, namun untuk sapi Kelompok I ada kekurangan PK. Kecukupan nutrisi ini juga ditunjukkan dengan tercapainya PBBH yang cukup tinggi, yaitu 0,74 dan 0,84 kg per hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Aziz (1993) yaitu sapi Peranakan Ongole mampu mencapai PBBH 0,4 – 0,8 kg.

4.2.3. Sanitasi dan pencegahan penyakit

Sanitasi yang dilakukan di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul dilakukan sehari sekali pada kandang individu dan 2 minggu sekali pada kandang koloni, namun tidak ada sanitasi terhadap ternak. Sanitasi yang dilakukan di kandang koloni hanya dilakukan 2 minggu sekali karena pada alas kandang telah diberi serbuk gergaji untuk menyerap bau kotoran ternak dan bisa langsung dimanfaatkan untuk pupuk. Sanitasi yang dilakukan di peternakan ini sudah cukup baik, Soeprapto dan Abidin (2008) menyatakan bahwa sanitasi dilakukan pada ternak, lingkungan kandang, dan peternaknya.
Pencegahan penyakit dilakukan dengan desinfeksi dan pemberian obat cacing pada ternak yang baru datang. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan penyakit ternak yang akan digemukkan sudah baik, sesuai dengan pendapat Abidin (2008) bahwa sapi bakalan yang akan digemukkan harus diberi vaksin minimal sekali dalam 3 – 4 bulan masa penggemukan.
Penyakit yang sering menyerang ternak adalah kudis, skabies, SE (Septicaemia epizootica) atau penyakit ngorok, cacingan, pneumonia, demam dan kembung. Penanganan ternak yang sakit adalah dengan cara memanggil dokter hewan dan memberikan obat sesuai dengan gejala penyakit. Ternak yang sakit tidak dipisahkan dengan ternak yang lain, karena di peternakan ini tidak ada kandang isolasi. Hal ini kurang baik karena bisa menyebabkan penularan penyakit, sesuai dengan pendapat Fikar dan Ruhyadi (2010) yaitu kandang isolasi sangat dibutuhkan dalam penggemukan sapi, agar tidak terjadi penularan penyakit ke sapi lainnya.

4.3. Pemanenan dan Pemasaran

PT Prisma Mahesa Unggul menerapkan sistem pemanen yang tidak menentu. Pemanenan ternak dilakukan dengan cara: (1) dipanen setelah 2 – 6 bulan penggemukan dengan bobot badan 200 – 400 kg, (2) dipanen sesuai permintaan konsumen. Hal ini sesuai dengan pendapat Fikar dan Ruhyadi (2010), bahwa sapi hasil penggemukan dijual setelah penggemukan selama 4 – 6 bulan. Pemasaran yang dilakukan di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul adalah dengan menjual karkas dan ternak dalam keadaan hidup. Penjualan ternak dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga perusahaan tidak memiliki kendala berarti dalam pemasaran hasil produksi. Harga jual sapi pada saat pelaksanaan PKL adalah Rp. 35.000,00/kg bobot hidup.
Penjualan sapi tidak berorientasi pada bobot akhir atau bobot jual melainkan berorientasi pada permintaan pasar, sehingga bisa meminimalisir penggunaan pakan. Hal ini menunjukkan mudahnya pemasaran dan adanya efisiensi ekonomi usaha penggemukan sapi potong di PT Prisma Mahesa Unggul. Hal ini didukung oleh pendapat Tillman et al. (1991) yaitu waktu penggemukan yang singkat mampu memberikan keuntungan dalam efisiensi biaya produksi.

4.4. Evaluasi dan Analisis Usaha

Pertambahan bobot badan sapi dapat dilihat pada Lampiran 8. PBBH yang diperoleh pada kelompok I dan II cukup tinggi, yaitu 0,74 dan 0,84 kg per hari. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi sapi telah terpenuhi sehingga PBBH yang diperoleh sangat baik, menurut Aziz (1993) sapi Peranakan Ongole mampu mencapai PBBH 0,4 – 0,8 kg.
Perhitungan konversi dan efisiensi pakan dapat dillihat pada Lampiran 9. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai konversi pakan sapi kelompok I dan II berturut – turut adalah 5,09 dan 12,55. Nilai efisiensi pakan sapi kelompok I dan II berturut – turut adalah 19,63% dan 7,97%. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai konversi dan efisiensi pakan sapi Peranakan Ongole Kelompok I dan II adalah baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (2003) yang menyatakan bahwa konversi pakan yang baik bagi sapi potong adalah 8,56 – 13,29, sedangkan efisiensi pakan yang baik pada sapi potong adalah 7,52 – 11,29%.
Perhitungan Feed Cost per Gain dapat dilihat pada Lampiran 10. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai Feed Cost per Gain sapi kelompok I dan II berturut – turut adalah Rp 7.771,43/kg dan Rp 16.564,00/kg. Artinya, untuk menaikkan bobot badan 1 kg membutuhkan biaya pakan sebesar Rp 7.771,43 untuk kelompok I dan Rp 16.564,00 untuk kelompok II. Feed Cost per Gain sapi kelompok I lebih kecil daripada kelompok II. Hal ini dikarenakan kelompok I masih berumur 1 tahun dan berada pada tahap exponential growth sehingga pakan yang dikonsumsi mampu dimanfaatkan dengan sangat baik. Menurut Bahurekso (2012) tahap exponential growth mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan oleh ternak sehingga mampu memanfaatkan kandungan nutrisi pakan dengan baik. Tulloh (1978) menambahkan bahwa bobot ternak muda akan meningkat terus dengan laju pertambahan bobot badan yang tinggi.
Harga jual sapi pada saat PKL ini dilaksanakan adalah Rp. 35.000,00/kg bobot hidup. Hal ini berarti bahwa biaya pakan yang dibutuhkan pada sapi kelompok I dan II secara berturut – turut adalah 22,04 dan 47, 33% dari harga jual sapi per kg bobot hidup. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa perusahaan mendapatkan untung yang cukup tinggi karena usaha penggemukan sapi dikatakan mendapat untung apabila Feed Cost per Gain atau biaya pakan yang dikeluarkan kurang dari 70% harga 1 kg bobot hidup sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Maryono (2006) bahwa biaya pakan dapat mencapai 60 – 80% dari keseluruhan biaya produksi.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan di PT Prisma Mahesa Unggul Bogor dapat disimpulkan bahwa manajemen produksi yang dilaksanakan sudah baik, rata – rata pertambahan bobot badan harian sapi Peranakan Ongole tinggi yaitu 0,74 kg dan 0,84 kg. Pemasaran hasil produksi juga sudah baik dan tidak mengalami kendala serta mampu menghasilkan keuntungan yang cukup baik.
Lokasi perkandangan dan bangunan kandang sudah memenuhi persyaratan kandang yang baik. Manajemen sanitasi dan kesehatan ternak sudah cukup baik, namun belum adanya kandang isolasi bisa menularkan penyakit dari ternak yang sakit ke ternak yang sehat.

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan adalah perlu adanya kandang isolasi untuk ternak yang sakit, agar tidak menular kepada sapi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Amini, R. 1998. Pengaruh penggunaan jerami fermentasi terhadap performans ternak sapi Peranakan Ongole. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi. 1 : 40-47

Abidin, Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Asmaki, A.P., M. Hasanawi, dan D.A. Tidi. 2008. Agribisnis Ternak Sapi. Pustaka Grafika. Bandung.

Astuti, M. 2003. Potensi dan keragaman sumberdaya genetik sapi Peranakan Ongole (PO). Wartazoa. 14 (4) : 30 – 39
Atmadilaga, D. 1979. Politik Peternakan Indonesia. Biro Penelitian dan Aplikasi. Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, Bandung.
Aziz, M. A. 1993. Agroindustri Sapi Potong. Cetakan V. BPFE, Yogyakarta.
Bahurekso, P. 2012. Prospek Perkembangan Ternak Perah. patisewubahurekso.blogspot.com
Blakely, J dan D. H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono)
Darmono. 1999. Tata Laksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.
Erlangga. 2009. Info Ternak. http://www.infoternak.com.

Fikar, S., dan D. Ruhyadi. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Potong. PT AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Penerbit PT Grasindo, Jakarta.
Kearl, L. C. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries. Utah States University, Utah.
Maryono. 2006. Teknologi Inovasi β€œPakan Murah” untuk Usaha Pembibitan Sapi Potong Lokal. Sinar Tani Edisi 18 – 24 Oktober 2006.
Murtidjo, B. A. 1990. Sapi Potong. Kanisius, Jakarta.
National Research Council (NRC). 1996. Nutrients Requirements of Beef Cattle 7th re. ed., National Academy Press, Washington DC.
Ngadiyono, N. 2007. Beternak Sapi. PT Citra Aji Pratama, Yogyakarta.
Ngadiyono, N. 1995. Pertumbuhan dan sifat-sifat karkas sapi Brahman Cross yang dipelihara pada penggemukan berbagai bobot potong. Media. Edisi Khusus.
Parakassi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Rasyid, A. dan Hartati. 2007. Petunjuk Teknis Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Rachmat, B. 2011. Penampilan Produksi Sapi Peranakan Ongole (PO) yang Dipelihara dalam Feedlot dengan Pemanfaatan Pucuk Tebu pada Lama Pemeliharaan yang Berbeda. Skripsi. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan, Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rianto, E., dan E. Purbowati. 2011. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rianto, E., dan E. Purbowati. 2009. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rukmana, R. 2005. Budidaya Rumput Unggul. Kanisisus, Yogyakarta.
Santosa, U. 1995. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Santosa, U. 2008. Mengelola Peternakan Sapi Secara Profesional. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, S. B. 2003. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soeprapto, H. dan Z. Abidin. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Sudarmono, A. S., dan Y. B. Sugeng. 2008. Sapi Potong. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sumadi, N. Ngadiyono dan Soeprano. 1991. Penampilan produksi sapi Fries Holland, Sumba Ongole dan Brahman Cross yang dipelihara secara feedlot. Prosceeding Seminar Pengembangan Peternakan dalam Menunjang Pembangunan Ekonomi Nasional, Purwokerto 4 Mei 1991. Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.
Sugeng, Y. B. 1998. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tillman, A. D.,S, Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, H. Hartadi dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Tulloh, N.M. 1978. Growth, development, body composition, breeding and management. In: Tulloh, N.M. (ed): A Course Manual in Beef Cattle Management and Economics. Pp. 59-94 AAUCS. Canberra.
Williamson, G., dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan Daerah Tropis. Terjemahan S. G. N. Dwija Darmadja. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Yulianto, P. dan C. Saparinto. 2010. Pembesaran Sapi Potong Secara Intensif. Penerbar Swadaya, Jakarta.

Lampiran 1. Lokasi Peternakan

Lampiran 2. Struktur Organisasi PT Prisma Mahesa Unggul

Lampiran 3. Layout Perkandangan

Keterangan:
1. Gerbang 7. Tempat Penampungan Molases
2. Kantor 8. Tempat Penimbangan
3.Mess 9. Kandang Koloni
4. Dapur dan Mushola 10. Kandang Individu
5. Gudang Pakan 11. Pos Satpam
6. Tandon air
Lampiran 4. Kebutuhan Nutrisi Sapi Peranakan Ongole

Kelompok I
Bobot badan 120,5 kg dan PBBH 0,74 kg

Kebutuhan Nutrisi Pakan Sapi Peranakan Ongole

Bobot Badan PBBH BK PK TDN
——————————————– kg —————————————-
100 0,50
0,75 3,0
3,2 0,379
0,448 1,6
1,9
150 0,50
0,75 4,2
4,4 0,474
0,589 2,2
2,6
Sumber : Kearl, 1982.
Bahan Kering
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 100 kg PBBH 0,74 kg
= 3,0 + “0,74 – 0,5″ /”0,75 – 0,5” x (3,2 – 3,0)
= 3,0 + (0,96) (0,2)
= 3,192 kg
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 4,2 + “0,74 – 0,5″ /”0,75 – 0,5” x (4,4 – 4,2)
= 4,3 + (0,96) (0,2)
= 4,392 kg
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 120,5 kg PBBH 0,74 kg
= 3,192 + “120,5 – 100″ /”150 – 100” x (4,392 – 3,192)
= 3,192 + (0,41) (1,137)
= 3,64 kg

Lampiran 4. (Lanjutan)
Protein Kasar
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 100 kg PBBH 0,74 kg
= 379 + “0,8-0,75″ /”1-0,75” x (448 – 379)
= 379 + (0,96) (69)
= 445,24 g
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 474 + “0,8-0,75″ /”1-0,75” x (589 – 474)
= 474 + (0,96) (115)
= 584,4g
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 120,5 kg PBBH 0,74 kg
= 445,24 + “120,5 – 100″ /”150 – 100” x (584,4 – 445,24)
= 445,24 + (0,41) (139,16)
= 502,30 g

Total Digestable Nutrient (TDN)
Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 100 kg PBBH 0,74 kg
= 1,6 + “0,8-0,75″ /”1-0,75” x (1,9 – 1,6)
= 1,6 + (0,96) (0,3)
= 1,888 kg
Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 2,2 + “0,8-0,75″ /”1-0,75” x (2,6 – 2,2)
= 2,2 + (0,96) (0,4) = 2,584 kg
Lampiran 4. (Lanjutan)

Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 120,5 kg PBBH 0,74 kg
= 1,888 + “120,5 – 100″ /”150 – 100” x (2,584 – 1,888)
= 1,888 + (0,41) (0,696)
= 2,17 kg

Kelompok II
Bobot badan 326,83 kg dan PBBH 0,84 kg
Kebutuhan Nutrisi Pakan Sapi Peranakan Ongole

Bobot Badan PBBH BK PK TDN
——————————————– kg —————————————-
300 0,75
1,00 7,4
7,5 753
819 4,3
5,0
350 0,75
1,00 8,3
8,5 806
874 4,8
5,6
Sumber : Kearl, 1982.
Bahan Kering
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 300 kg PBBH 0,84 kg
= 7,4 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75” x (7,5 – 7,4)
= 7,4 + (0,36) (0,1)
= 7,436 kg
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 350 kg PBBH 0,74 kg
= 8,3 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75” x (8,5 – 8,3)
= 8,3 + (0,36) (0,2)
= 8,372 kg

Lampiran 4. (Lanjutan)

Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 326,83 kg PBBH 0,84 kg
= 7,436 + “326,83- 300″ /”350 – 300” x (8,372 – 7,436)
= 7,436 + (0,5366) (0,936)
= 7,938 kg

Protein Kasar
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 300 kg PBBH 0,84 kg
= 753 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75” x (819 – 753)
= 753 + (0,36) (66)
= 776,76 g
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 806 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75” x (874 – 806)
= 806 + (0,36) (68)
= 830,48 g
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 326,83 kg PBBH 0,84 kg
= 776,76 + “326,83- 300″ /”350 – 300” x (830,48 – 776,76)
= 776,76 + (0,5366) (53,72)
= 805,58 g

Lampiran 4. (Lanjutan)

Total Digestable Nutrient (TDN)
Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 300 kg PBBH 0,84 kg
= 4,3 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75” x (5,0 – 4,3)
= 4,3 + (0,36) (0,7)
= 4,552 kg

Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 4,8 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75” x (5,6 – 4,8)
= 4,8 + (0,36) (0,8)
= 5,088 kg

Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB326,83 kg PBBH 0,84 kg
= 4,552 + “326,83- 300″ /”350 – 300” x (5,088 – 4,552)
= 4,552 + (0,5366) (0,536)
= 4,84 kg

Lampiran 5. Pemberian dan Konsumsi Pakan

Pemberian dan Konsumsi Pakan

Pemberian Sisa Konsumsi
RG JP K RG JP K RG JP K
—————————— kg/ekor —————————–
Kelompok I 1,01 1,72 3,57 0 0 0,22 1,01 1,72 3,35

Kelompok II
Sapi No 78 7,64 5,48 9,04 0 0,92 2,02 7,64 4,56 7,02
Sapi No 435 7,64 5,48 9,04 0,45 0,7 1,06 7,18 4,77 7,89
Sapi No 00971 7,64 5,48 9,04 0,62 0,6 0,9 7,02 4,88 8,14
Sapi No 231 7,64 5,48 9,04 0,52 0,68 0,88 7,11 4,8 8,15
Sapi No 2986 7,64 5,48 9,04 0,46 0,72 0,9 7,18 4,76 8,14
Sapi No 10095 7,64 5,48 9,04 0,65 0,6 0,94 6,98 4,87 8,09
Rata-rata Kelompok II 7,64 5,48 9,04 0,45 0,70 1,18 7,18 4,77 7,92

Rata-rata Kelompok I dan II (kg/e/h) 1,79 2,16 4,21 0,05 0,08 0,32 1,73 2,07 3,88

Keterangan:
RG : Rumput Gajah
JP : Jerami Padi
K : Konsentrat

Lampiran 6. Konsumsi Pakan dalam Bahan Kering

Kandungan Nutrisi dalam Bahan Pakan

Pakan BK PK TDN
———————————– % ——————————-
Rumput Gajah 27,21a 8,3 a 11 b
Jerami 40,65 c 3,45 c 37,27 c
Konsentrat 84 d 10,92 d 72,54 d
Sumber : a Analisis Laboratorium Ilmu Ternak Potong dan Kerja, 2013.
b Hartadi et al., 1998.
c Chuzaemi dan Soejono, 1987.
d PT Prisma Mahesa Unggul.

Kelompok I
Konsumsi Rumput Gajah
Konsumsi BK = “27,21” /”100″ x 1,01 = 0,27 kg BK
Konsumsi PK = “8,3” /”100″ x 0,27 = 0,02 kg BK
Konsumsi TDN= “11” /”100″ x 0,27 = 0,03 kg BK
Konsumsi Jerami
Konsumsi BK = “40,65” /”100″ x 1,72= 0,69 kg BK
Konsumsi PK = “3,45” /”100″ x 0,69 = 0,02 kg BK
Konsumsi TDN= “37,27” /”100″ x 0,69 = 0,25 kg BK
Konsumsi Konsentrat
Konsumsi BK = “84” /”100″ x 3,35 = 2,81 kg BK
Konsumsi PK = “10,92” /”100″ x 2,81= 0,30 kg BK
Lampiran 6. (Lanjutan)

Konsumsi TDN= “72,54” /”100″ x 2,81= 2,03 kg BK

Konsumsi Rata-rata Pakan dalam Bahan Kering Kelompok I

BahanPakan Konsumsi Konsumsi PK Konsumsi TDN
kg BK ————- kg ————–
Rumput Gajah
Jerami Padi
Konsentrat 0,27
0,69
2,81 0,02
0,02
0,20 0,03
0,25
2,03
Total 3,77 0,34 2,31

Kelompok II
Konsumsi Rumput Gajah
Konsumsi BK = “27,21” /”100″ x 7,18 = 1,95 kg BK
Konsumsi PK = “8,3” /”100″ x 1,95 = 0,16 kg BK
Konsumsi TDN= “11” /”100″ x 1,95 = 0,21 kg BK
Konsumsi Jerami
Konsumsi BK = “40,65” /”100″ x 4,77 = 1,94 kg BK
Konsumsi PK = “3,45” /”100″ x 1,94 = 0,06 kg BK
Konsumsi TDN= “37,27” /”100″ x 1,94 = 0,72 kg BK
Konsumsi Konsentrat
Konsumsi BK = “84” /”100″ x 7,92 = 6,65 kg BK
Konsumsi PK = “10,92” /”100″ x 6,695 = 0,72 kg BK
Lampiran 6. (Lanjutan)

Konsumsi TDN= “72,54” /”100″ x 6,65 = 4,82 kg BK

Konsumsi Rata-rata Pakan dalam Bahan Kering Kelompok II

BahanPakan Konsumsi (kg BK/e/h) Konsumsi PK Konsumsi TDN
kg BK ————— kg ————–
Rumput Gajah
Jerami
Konsentrat 1,95
1,94
6,65 0,16
0,06
0,72 0,21
0,72
4,82
Total 10,54 0,94 5,75

Lampiran 7. Evaluasi Kecukupan Nutrisi

Kelompok I

Evaluasi Kecukupan Nutrisi Kelompok I

BK PK TDN
————————- kg ————————
Konsumsi
Kebutuhan
Evaluasi 3,77
3,64
(+) 0,13 0,34
0,5
(-) 0,16 2,31
2,17
(+) 0,14

Keterangan :
Sapi PO Kelompok I dengan bobot rata-rata 120,5 kg dan PBBH 0,74 kg, kelebihan BK dan TDN, tetapi kekurangan PK.

Kelompok II

Evaluasi Kecukupan Nutrisi Kelompok II

BK PK TDN
————————- kg ————————
Konsumsi
Kebutuhan
Evaluasi 10,54
7,93
(+) 2,61 0,94
0,80
(+) 0,14 5,75
4,84
(+) 0,91

Keterangan :
Sapi PO Kelompok I dengan bobot rata-rata 326,83 kg dan PBBH 0,84 kg, kelebihan BK, PK dan TDN.

Lampiran 8. Pertambahan Bobot Badan Harian

Kelompok I
Pertambahan Bobot Badan Harian Sapi PO Kelompok I

Sapi nomor Bobot awal Bobot akhir PBBH
——————————- kg —————————
00460 120 132 0,48
44451 138 154 0,64
21353 112 129 0,68
6642 112 141 1,16
Rata-rata 120,5 139 0,74

Kelompok II

Pertambahan Bobot Badan Harian Sapi PO Kelompok II

Sapi nomor Bobot awal Bobot akhir PBBH
——————————- kg —————————
78 323 343 0,8
435 343 363 0,8
00971 327 347 0,8
231 327 352 1
2986 310 336 1,04
10095 331 346 0,6
Rata-rata 326,83 347,83 0,84

Lampiran 9. Perhitungan Konversi dan Efisiensi Pakan

Konversi pakan = “Total Konsumsi Pakan” /”PBBH”
Efisiensi pakan = “PBBH” /”Total Konsumsi Pakan” x 100%

Kelompok I
Total konsumsi pakan = 3,77 kg BK
Rata-rata PBBH = 0,74 kg
Konversi pakan = “3,77” /”0,74″
= 5,09
Efisiensi pakan = “0,74” /”3,77″ x 100%
= 19,63%

Kelompok II
Total konsumsi pakan = 10,54 kg BK
Rata-rata PBBH = 0,84 kg
Konversi pakan = “10,54” /”0,84″
= 12,55
Efisiensi pakan = “0,84” /”10,54″ x 100%
= 7,97%

Lampiran 10. Perhitungan Feed Cost per Gain

Kelompok I
FC/G = “Biaya Pakan yang dibutuhkan” /”PBBH”
= “(RG x P) + (JP x P) + (K x P) ” /”PBBH”
= “(1,00 x 51,36) + (1,72 x 100)+ (3,35 x 1.650)” /”0,74″
= “5.750,86 ” /”0,74″
= Rp.7.771,43/kg
Kelompok II
FC/G = “Biaya Pakan yang dibutuhkan” /”PBBH”
= “(RG x P) + (JP x P) + (K x P) ” /”PBBH”
= “(7,18 x 51,36) + (4,77 x 100) + (7,92 x 1.650) ” /”0,84″
= “13.913,76 ” /”0,84″
= Rp. 16.564,00/kg
Keterangan:
RG : Rumput Gajah
JP : Jerami Padi
K : Konsentrat
P : Price (harga)

Lampiran 11. Daftar Kuesioner
KEADAAN UMUM
Kondisi Sosial Ekonomi Peternakan
Nama perusahaan
Alamat peternakan
Latar belakang pendirian usaha
Jenis usaha
Luas areal peternakan
Luas bangunan
Sistem pemeliharaan
Populasi
Jumlah tenaga kerja
Pemasaran
Hasil samping usaha
Pengaruh keberadaan peternakan bagi masyarakat sekitar
Keadaan Umum
Denah lokasi
Tata letak/layout
Curah hujan
Suhu lingkungan
Kelembaban
Ketinggian
Tekstur tanah

KEADAAN USAHA PETERNAKAN
Keadaan Usaha Peternakan
Luas kandang
Jumlah ternak
Jenis ternak
Bangsa ternak
PBBH ternak
Pengadaan Bakalan
Jenis
Asal
Umur pembelian
Umur penjualan
Bobot pembelian
Bobot penjualan
Pengadaan Pakan
Jenis pakan dan komposisi
Asal pakan
Kandungan PK dan EM

Lampiran 11. (Lanjutan)

Pola penyajian pakan
Metode yang digunakan untuk menyusun ransum
Kebutuhan pakan/hari
Pakan tambahan
Kebutuhan minum/hari
Vitamin yang diberikan
Sanitasi dan Kesehatan
Program penanganan limbah
Jenis limbah
Program vaksinasi
Vaksin yang diberikan
Perkandangan
Jumlah kandang
Tipe kandang
Lantai kandang
Dinding kandang
Atap kandang
Ukuran kandang
Kapasitas kandang
Bahan kandang
Jenis kandang
Peralatan kandang
Bangunan kandang
Kontinyuitas Produksi
Kriteria Penjualan
Bobot badan sapi yang dijual
Penjualan ternak dalam jumlah besar sekaligus atau tidak
Penjualan tergantung permintaan atau tidak
Kriteria Pembelian/Penyediaan Bakalan
Pembelian bakalan umur
Harga bakalan
Bobot awal bakalan
 
Lampiran 12. Dokumentasi

Author:

IG @dinata__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s