Posted in akademik

Proposal PKL Manajemen Produksi Sapi Peranakan Ongole (hc: Dessy Dona Dinata)

LATAR BELAKANG

Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi cukup besar sebagai ternak penghasil daging dan menjadi prioritas dalam pembangunan peternakan. Namun pertumbuhan populasi sapi secara nasional tidak mampu mengimbangi jumlah pemotongan, sehingga kebutuhan daging sapi tidak dapat tercukupi. Besarnya peluang pengembangan usaha ternak sapi potong menjadikan usaha ini sebagai salah satu pilihan utama dalam usaha di bidang peternakan.

Keberhasilan usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh aspek pemuliabiakan (breed), pakan (feed), dan pengelolaan (management). Upaya pengembangan populasi sapi untuk memenuhi konsumsi daging sapi dapat dilaksanakan dengan cara pemilihan bibit unggul dan manajemen yang baik. Manajemen produksi sapi potong yang mencakup usaha penggemukan sapi dari hulu hingga ke hilir meliputi pemilihan bakalan, manajemen penggemukan, manajemen pemberian pakan, manajemen pemeliharaan, manajemen perkandangan, manajemen sanitasi dan pencegahan penyakit hingga panen dan pemasaran. Pakan yang baik adalah yang mengandung nutrien yang memadai kualitas dan kuantitasnya sehingga dapat memenuhi kebutuhan ternak dan dapat menunjang keberhasilan usaha peternakan.

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk mengkaji manajemen produksi sapi potong yang diterapkan di PT Prisma Mahesa Unggul, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Manfaat yang diperoleh adalah mahasiswa memperoleh tambahan informasi, pengetahuan, dan pengalaman mengenai manajemen produksi sapi potong. Selain itu, melalui Praktek Kerja Lapangan mahasiswa dapat membandingkan antara teori dan pustaka yang diperoleh dibangku perkuliahan dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan.

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Sapi Peranakan Ongole 

Sapi Peranakan Ongole merupakan persilangan sapi ongole jantan murnidengan sapi betina Jawa (Murtidjo, 1990). Sapi peranakan ongole mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: warna kelabu kehitam-hitaman pada bagian kepala, leher dan lutut berwarna gelap sampai hitam, bertanduk pendek, bobot badan sapi PO mencapai 430 – 500 kg pada sapi jantan dan 320 – 400 kg pada sapi betina (Hardjosubroto, 1994). Pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi Peranakan Ongole sebesar 0,4 – 0,8 kg (Aziz, 1993).

Pemilihan Bakalan

Parameter standar untuk seleksi sapi bakalan mencakup kualitas dan kuantitas sapi yang dapat dievaluasi dengan penilaian dan pengamatan tubuh sapi bagian luar (Sugeng, 1998). Bakalan yang akan digemukkan sangat mempengaruhi keberhasilan penggemukan sapi. Kriteria pemilihan bakalan: berasal dari induk yang memiliki potensi genetik yang baik, bakalan agak kurus, umur bakalan 2 – 2,5 tahun, sehat dan tidak mengidap penyakit, serta bentuk tubuh yang proporsional (Rianto dan Purbowati, 2011). Bobot badan sapi PO bakalan yang adalah 250 – 350 kg dengan pertambahan bobot badan 0,6-0,8 kg/hari dan bobot jual 584 – 600 kg (Fikar dan Ruhyadi, 2010). 

Penggemukan Sapi

Penggemukan sapi adalah usaha memacu pertumbuhan sapi untk mencapai peningkatan bobot badan pada fase pertumbuhan yang tepat (Yulianto dan Saparinto, 2010). Sistem penggemukan terdiri dari tiga macam, yaitu dry lot fattening, pasture fattening, dan kombinasi antara keduanya (Siregar, 2008).

Penggemukan dry lot fattening diperuntukkan bagi sapi berumur 1 tahun dan lamanya penggemukan sekitar 4-6 bulan dengan pemberian biji-bijian atau kacang-kacangan. Penggemukan pasture fattening yaitu sapi yang digembalakan di padang penggembalaan. Kombinasi pasturedry lot fattening dilakukan di daerah tropis dengan cara pada saat musim penghujan ternak dilepas di padang penggembalaan dan pada saat musim kemarau ternak dikandangkan dan diberi makanan biji-bijian dan hay (Murtidjo, 1990). Hasil akhir ternak sapi potong adalah sapi yang gemuk dan dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh dan recahan sebanyak 46,5%. Waktu yang dibutuhkan untuk pembesaran sapi tergantung target akhir dari bobot sapi yang ditentukan dan bakalan sapi yang dibesarkan (Yulianto dan Saparinto, 2010).

Pertambahan bobot harian sapi PO menurut Amini (1998) adalah 0,52 kg/hari yang diberi ransum jerami dan konsentrat sebesar 61% dari seluruh ransum. Menurut Sumadi et al. (1991) PBBH sapi PO sebesar 0,70 kg pada pemeliharaan secara intensif dengan yang diberi pakan konsentrat sebanyak 85% dari total ransum.         

Pakan

Pakan sapi potong merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjang produktivitas ternak. Bahan pakan ternak dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu hijauan dan konsentrat (Williamson dan Payne, 1993). Sapi memerlukan sebanyak 10% berat basah pakan atau 3% berat kering pakan dari bobot badan sapi perhari (Fikar dan Ruhyadi, 2010).

Semakin baik kualitas hijauan maka semakin sedikit persentase konsentrat yang digunakan. Jenis pakan yang pertama diberikan adalah konsentrat untuk menyuplai makanan bagi mikroba rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk ke dalam rumen, mikroba rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan (Abidin, 2008). Pada penggemukan sapi secara intensif, konsentrat diberikan dalam jumlah besar yaitu antara 60 – 80% dan hijauan 20 – 40% (Blakely dan Bade, 1994; NRC, 1996; Parakkasi, 1999) atau konsentrat 85% dan hijauan 15% (Sumadi et al., 1991; Ngadiyono, 1995).

Tabel 1. Tatacara Pemberian Pakan Sapi Potong

Waktu Kegiatan

Kegiatan yang dilakukan

06.30

08.00

09.00

11.00

14.00

15.00

16.00

21.00

Membersihkan tempat pakan dan minum

Memberikan konsentrat dan dedak

Memberikan hijauan

Memberikan air minum

Memberikan konsentrat dan dedak

Memberkan hijauan

Memberikan air minum

Memberikan hijauan

Sumber : Fikar dan Ruhyadi, 2010.

Hijauan

Hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan (Sugeng, 1998). Rasio pemberian hijauan dan konsentrat tergantung dari ketersediaan hijauan di lokasi penggemukan     (Abidin, 2008).

Konsentrat

Konsentrat merupakan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%. Konsentrat berasal dari biji-bijian, umbi-umbian, serta limbah peternakan dan industri (Darmono, 1999). Fungsi dari konsentrat adalah meningkatkan dan memperkaya nutrisi bahan pakan lain yang nilai nutrisinya lebih rendah (Sugeng, 1998).

Manajemen Pemeliharaan

Parakkasi (1999) menyatakan bahwa sistem pemeliharaan ternak sapi dibagi menjadi tiga, yaitu intensif, ekstensif dan mixed farming system. Pemeliharaan ternak secara intensif adalah sistem pemeliharaan ternak sapi dengan acra dikandangkan secara terus-menerus dengan sistem pemberian pakan secara cut and carry. Pemeliharaan secara ekstensif adalah pemeliharaan ternak di padang penggembalaan.Sapi perlu dimandikan secara rutin untuk menjaga kebersihan tubuh dan mencegah muculnya sarang penyakit pada tubuh sapi. Pembersihan kandang dilakukan setiap hari agar kandang selalu bersih, mencegah timbulnya penyakit, dan memberikan kenyamanan bagi sapi (Ngadiyono, 2007). 

Perkandangan

Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung sapi dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat, dan mempermudah dalam pelaksanaan pemeliharaan sapi tersebut (Abidin, 2008). Tipe kandang berdasarkan bentuknya ada dua, yaitu kandang tunggal dan kandang ganda. Kandang tunggal terdiri atas satu baris kandang yang dilengkapi dengan lorong jalan dan selokan atau parit. Kandang ganda ada dua macam yaitu sapi saling berhadapan (head to head) dan saling bertolak-belakang (tail to tail) yang dilengkapi dengan lorong untuk memudahkan pemberian pakan dan pengontrolan ternak (Ngadiyono, 2007).

Sanitasi dan Pencegahan Penyakit

Pencegahan merupakan tindakan untuk melawan berbagai penyakit. Usaha pencegahan ini meliputi karantina atau isolasi ternak, vaksinasi, deworming, serta pengupayaan peternakan yang higienis (Sudarmono dan Sugeng, 2008). Sapi-sapi bakalan yang akan digemukkan atau yang baru dibeli di pasar hewan, perlu dimasukkan ke dalam kandang karantina yang letaknya terpisah dari kandang penggemukan. Pemberian vaksin biasanya dilakukan pada saat sapi bakalan berada di kandang karantina. Pemberian vaksin cukup dilakukan sekali untuk setiap ekor karena sapi hanya dipelihara dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar 3-4 bulan (Abidin, 2008).

Pemanenan dan Pemasaran

Sapi hasil penggemukan biasanya dijual setelah penggemukan selama 4 – 6 bulan dengan bobot jual 584 – 600 kg. Sebelum memasarkan sapi perlu dilakukan penimbangan sapi, penentuan harga jual, menentukan pasar tujuan, jalur pemasaran, alat angkut dan strategi pemasaran (Fikar dan Ruhyadi, 2010).

 

METODE PELAKSANAAN 

Waktu Pelaksanaan

       Praktek Kerja Lapangan (PKL) tentang Manajemen Produksi Sapi Peranakan Ongole di PT Prisma Mahesa Unggul akan dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada bulan Februari sampai Maret 2013 di PT Prisma Mahesa Unggul, Bogor.

Materi

Materi yang digunakan dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan adalah sapi Peranakan Ongole di PT Prisma Mahesa Unggul, Bogor, Jawa Barat. Populasi sapi Peranakan Ongole sebanyak kurang lebih 216 ekor. Sampel yang akan digunakan sebanyak 10 ekor sapi. Sapi yang diamati sebanyak 10 ekor sapi Peranakan Ongole dengan kelamin jantan dan umur yang relatif seragam.

Alat yang digunakan adalah timbangan untuk menimbang bobot badan dan untuk menimbang pakan yang akan diberikan yang telah disesuaikan dengan kebutuhanya. Hygrometer yang digunakan untuk mengukur suhu serta kelembaban.

Metode

Metode yang digunakan adalah praktek kerja dengan cara partisipasi aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan pekerja di PT Prisma Mahesa Unggul, Bogor. Pengambilan data primer dilakukan dengan pengamatan langsung di lokasi peternakan dan dengan wawancara langsung dengan manager dan pekerja berdasarkan kuisioner yang telah dibuat. Pengambilan data sekunder diperoleh dari catatan perusahaan, untuk monografi lokasi dan peta wilayah dapat diperoleh dari instansi terkait.

Data primer yang dikumpulkan antara lain: jenis pakan yang diberikan, frekuensi pemberian pakan, jumlah pakan yang diberikan serta pertambahan bobot badan sapi selama pengamatan, serta pelaksanaan pencegahan penyakit, pemilihan bakalan (jenis, asal, umur, harga), kebutuhan pakan (jenis pakan dan komposisi, asal pakan, pola pemberian pakan, kebutuhan pakan per hari), sanitasi dan pencegahan penyakit (penangan limbah, dan program vaksinasi).

Data sekunder antara lain: keadaan umum peternakan dan kondisi lingkungan peternakan. Selanjutnya data hasil praktek kerja lapangan diolah secara deskriptif.

JADWAL KEGIATAN

Kegiatan

Desember

Januari

Februari

Maret

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Persiapan

                               

Pelaksanaan

                               

Pengolahan data

                               

Penyusunan laporan

                               

 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Amini, R. 1998. Pengaruh penggunaan jerami padi fermentasi terhadap performan ternak sapi Peranakan Ongole. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi.

Aziz, M. A. 1993. Agroindustri Sapi Potong. Cetakan V. BPFE, Yogyakarta.

Blakely, J dan D. H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono)

Darmono. 1999. Tata Laksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.

Fikar, S., dan D. Ruhyadi. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Potong. PT AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Penerbit PT Grasindo, Jakarta.

Murtidjo, B. A. 1990. Sapi Potong. Kanisius, Jakarta.

Ngadiyono, N. 2007. Beternak Sapi. PT Citra Aji Pratama, Yogyakarta.

Ngadiyono, N. 1995. Pertumbuhan dan sifat-sifat karkas sapi Brahman Cross yang dipelihara pada penggemukan berbagai bobot potong. Media. Edisi Khusus.

Parakassi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Rianto, E., dan E. Purbowati. 2011. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta

Sudarmono, A. S., dan Y. B. Sugeng. 2008. Sapi Potong. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sumadi, N. Ngadiyono dan Soeprano. 1991. Penampilan produksi sapi Fries Holland, Sumba Ongole dan Brahman Cross yang dipelihara secara feedlot. Prosceeding Seminar Pengembangan Peternakan dalam Menunjang Pembangunan Ekonomi Nasional, Purwokerto 4 Mei 1991. Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.

Sugeng, Y. B. 1998. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Williamson, G., dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan Daerah Tropis. Terjemahan S. G. N. Dwija Darmadja. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

 

DAFTAR KUISIONER 

  1. A.                KEADAAN UMUM

 

  1. 1.                  Kondisi Sosial Ekonomi Peternakan
  2. Nama perusahaan                                :
  3. Alamat peternakan                              :
  4. Latar belakang pendirian usaha          :
  5. Jenis usaha                                          :
  6. Luas areal peternakan                         :
  7. Luas bangunan                                    :
  8. Sistem pemeliharaan                           :
  9. Populasi                                               :
  10. Jumlah tenaga kerja                             :
  11. Pemasaran                                           :
  12. Hasil samping usaha                            :
  13. Pengaruh keberadaan peternakan bagi masyarakat sekitar :
  1. 2.                  Keadaan Umum
  2. Denah lokasi                                       :
  3. Tata letak/layout                                 :
  4. Curah hujan                                         :
  5. Suhu lingkungan                                 :
  6. Kelembaban                                        :
  7. Ketinggian                                          :
  8. Tekstur tanah                                      :
  1. B.                 KEADAAN USAHA PETERNAKAN
  2. 1.                  Keadaan Usaha Peternakan
  3. Luas kandang                                      :
  4. Jumlah ternak                                      :
  5. Jenis ternak                                         :
  6. Bangsa ternak                                     :
  7. PBBH ternak                                      :
  1. 2.                  Pengadaan Bakalan
  2. Jenis                                        :
  3. Asal                                         :
  4. Umur pembelian                      :
  5. Umur penjualan                       :
  6. Bobot pembelian                     :
  7. Bobot penjualan                      :
  1. 3.                  Pengadaan Pakan
  2. Jenis pakan dan komposisi      :
  3. Asal pakan                              :
  4. Kandungan PK dan EM         :
  5. Pola penyajian pakan              :
  6. Metode yang digunakan untuk menyusun ransum :
  7. Kebutuhan pakan/hari             :
  8. Pakan tambahan                      :
  9. Kebutuhan minum/hari           :
  10. Vitamin yang diberikan          :
  1. 4.                  Sanitasi dan Kesehatan
  2. Program penanganan limbah   :
  3. Jenis limbah                             :
  4. Program vaksinasi                   :
  5. Vaksin yang diberikan            :
  1. 5.                  Perkandangan
  2. Jumlah kandang                      :
  3. Tipe kandang                          :
  4. Lantai kandang                       :
  5. Dinding kandang                    :
  6. Atap kandang                         :
  7. Ukuran kandang                     :
  8. Kapasitas kandang                  :
  9. Bahan kandang                       :
  10. Jenis kandang                          :
  11. Peralatan kandang                   :
  12. Bangunan kandang                 :
  1. 6.                  Kontinyuitas Produksi
  2. Kriteria Penjualan
    1. Bobot badan sapi yang dijual       :
    2. Penjualan ternak dalam jumlah besar sekaligus atau tidak :
    3. Penjualan tergantung permintaan atau tidak :
  1. Kriteria Pembelian/Penyediaan Bakalan
    1. Pembelian bakalan umur               :
    2. Harga bakalan                               :
    3. Bobot awal bakalan                      :

Author:

IG @dinata__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s