Posted in Uncategorized

menuju ke-afkir-an

(I)

Saya mahasiswa Fakultas Peternakan Undip, dan saya BANGGA! (pada waktu itu masih Fapet)

Sebagai salah satu anak Semarang yang diberi kepercayaan untuk merasakan uang rakyat di PTN itu subhanallah sekali. Bagaimana tidak? Biaya kuliah yang harus saya keluarkan selama satu bulan lebih murah daripada biaya sekolah perbulan saya saat SMA.

Upacara Penerimaan Mahasiswa di tingkat Universitas.

Memakai pantofel dengan hak yang cukup tinggi dari pinjaman kakak ipar cukup menyiksa. Sok pemberani tengok kanan kiri depan belakang memperkenalkan nama ke teman-teman yang entah dari mana asalanya (sudah lupa saya). Upacara usai, kebimbanganpun melanda (saat itu kata galau belum ditemukan). Apalagi kalau bukan tentang perkap PMB yang ahrus di bawa. Maklumlah, pada saat itu saya masih kuper, cupu dan imut. Segera ku naik motor ke warnet, browsing perkap yang wajib dibawa dan browsing action (nyari pinjeman).

Hari pertama PMB tingkat Fakultas.

Bejonya, satu kelas PMB dengan Marry Widyaningrum teman satu geng SMA, jadi nggak ciut-ciut amat.

Hari kedua PMB tingkat Fakultas.

Mulai kesal karena harus mencari TTD dan biodata 30 ekor panitia PMB saat itu; tampang ketua panitia PMB (lupa namanya saking nggak pentingnya) yang ngeselin; dan materi yang mulai membosankan.

Hari ketiga PMB tingkat Fakultas.

Mulai senang karena esok akan mulai kehidupan nyata perkuliahan. PMB diakhiri dengan buka puasa bersama, dipimpin doa oleh saudara Dhani Kurniawan. Sosok cungkring kurus kering yang PD nya luar biasa yang mengingatkan saya pada teman SMP saya, Farid Pradana.

Teringat jelas saat PMB, diminta mencari tanda tangan dan biodata 10 orang anggota lembaga kemahasiswaan saat itu. Perburuanpun berlanjut pada hari-hari nyata perkuliahan. Mulai mencari sosok dari Dwi Susanti (KaBEM periode 2010), Rahmat Rizkiani (eksmud PSDM BEM periode 2010), Ikhwal Pembayun (eksmud KP BEM periode 2010), serta 7 orang lainnya. yang paling berkesan, adalah Ikhwal Pembayun. sosok laki-laki berkulit putih, bermata sipit, perawakan agak berisi dan tinggi tubuh rata-rata. Melihat banyak kerumunan di sekitarnya menyulut semangat saya untuk meminta tanda tangan setelah memastikan itu memang benar-benar mas Ikhwal. Namun entah mengapa tiba-tiba kerumunan tersebut mencair, tinggalah seonggok saya mematung di hadapannya. Dengan nyali yang sedikit menciut, saya memberanikan diri meminta tanda tangan.

*settingnya di teras PKM FPP Undip, percakapannya kurang lebih seperti teks di bawah ini*
“Permisi mas, mas Ikhwal ya? Saya mau minta tanda tangan” ucap beta.
“Sini, sini dik. Duduk dulu sini.” ajak mas Ikhwal.
“Kamu tho dik kalau mau minta TTD itu perkenalkan nama dulu, jangan asal nyelonong” tamabhnya.
“Iya mas, maaf terimakasih sudah mengingatkan” ngeles beta.
“Sopan santun itu harus dijaga, apalagi waktu kamu berinteraksi dengan kakak angkatan. Apa iya kamu bakal langsung to the point gitu ke dosen? Enggak kan? makanya, biasakan memperkenalkan diri dulu, sampaikan maksud dan tujuanmu dst” tambah mas Ikhwal *lagi*
“Iya mas, makasih petunjuknya” jawabku pasrah. Dan mulai menatrikan petunjuk awal sopan santun di perkuliahan itu di otak saya, entah di otak kanan, kiri, samping, atas, bawah, depan atau belakang. Dan percaya atau tidak saya masih ingat jelas sampai sekarang.

………

penampakan Ikhwal Pembayun dalam cerita saya:

mas ikhwal

Author:

IG @dinata__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s