Posted in akademik

Skarifikasi dan Uji Muncul Tanah

  BAB I

PENDAHULUAN

            Benih merupakan komponen penting teknologi kimiawi-biologis yang pada setiap musim tanam untuk komoditas tanaman pangan masih menjadi masalah karena produksi benih bermutu masih belum bisa mencukupi permintaan pengguna atau petani bahkan peternak. Mendapatkan benih yang bermutu bukanlah pekerjaan yang mudah. Terlebih lagi benih hijauan makanan ternak  (legum) kebanyakan mempunyai kulit yang keras, sehingga untuk membantu proses perkecambahan perlu dilakukan scarifikasi sehingga dapat mengubah kulit yang tidak permeabel menjadi permeabel terhadap gas dan air. Benih adalah biji tanaman yang digunakan untuk tujuan penanaman.  

Tujuan dari praktikum Ilmu Tanaman Pakan adalah agar mahasiswa mengetahui efek scarifikasi terhadap persentasi perkecambahan berbagai leguminosa pakan, dan mengetahui efek scarifikasi dan kedalaman terhadap persentasi muncul tanah berbagai leguminosa pakan, serta mampu melakukan scarifikasi. Manfaat dari praktikum Ilmu Tanaman Pakan adalah mengetahui teknik penanaman atau pengadaan hijauan pakan bagi ternak sehingga diperoleh hasil yang optimal.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Pengertian Scarifikasi

Scarifikasi merupakan cara untuk memecahkan dormansi biji yang bertujuan untuk mengubah kulit benih yang tidak permeable menjadi permeable terhadap gas-gas dan air (Sutopo, 1988). Scarifikasi dapat dilakukan dengan cara mekanik seperti mengikir atau menggosok kulit benih dengan amplas, dengan cara kimia yaitu dengan menggunakan asam kuat seperti asam sulfat dan asam nitrat dengan konsentrasi pekat serta perlakuan cara fisik dengan merendam dengan  air yang dipanaskan sampai 60oC (Harjadi, 1996).

Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditujukan untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis, mekanis, maupun chemis. mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya (Hartman, et. al., 1997).

 

2.1.1.    Scarifikasi Mekanik

Perlakuan mekanik umumnya digunakan untuk memecah dormansi benih akibat impermeabilitas kulit, baik terhadap air maupun gas, resistan mekanisme kulit perkecambahan yang terdapat pada kulit benih.  Cara-cara mekanisme yang dilakukan adalah mengikir atau menggosok kulit benih yaitu dengan pisau atau amplas, sedangkan perlakuan impaction (goncangan) dilakukan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus (Sutopo, 1988). Scarifikasi secara mekanik (pengamplasan) bertujuan untuk melunakkan kulit biji yang keras, sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas (Kamil, 1982).

 

2.1.2.   Skarifikasi Fisik

Jenis benih terkadang diberi perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih. Perlakuan fisik dengan perendaman air panas dilakukan dengan cara merendam benih selama  10 menit.  Hal ini ditujukan agar benih menjadi lebih lunak sehingga memudahkan terjadinya proses perkecambahan (Sutopo, 1988). Perkecambahan merupakan serangkaian peristiwa penting yang terjadi sejak benih dorman sampai ke bibit yang telah tumbuh (Harjadi, 1996).

Fungsi air pada perkecambahan adalah untuk melunakkan benih yang menyebabkan pecahnya atau robeknya kulit benih, mengencerkan protoplasma sehingga dapat aktif, memberi fasilitas masuknya oksigen dan sebagai alat transport makanan dari endosperm ke titik tumbuh (Harjadi, 1996). Scarifikasi fisik dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kurangnya cahaya, dan suhu berpengaruh terhadap perkecambahan dalam penyerapan air, hidrolisa makanan cadangan, mobilisasi makanan, asimilasi, respirasi dan pertumbuhan bibit. Proses perkecambahan benih membutuhkan energi yang diperoleh dari proses oksidasi yaitu pernapasan dan fermentasi (Kamil, 1982).

 

2.1.3.   Skarifikasi Kimia

Perlakuan secara kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia dengan tujuan agar kulit benih lebih bersifat permeabel terhadap air pada proses imbibisi. Bahan kimia yang sering digunakan adalah asam sulfat (H2SO4) pekat yaitu merendam biji ke dalamnya selama 5-20 menit (Kamil, 1982). Scarifikasi secara kimia adalah suatu perlakuan untuk mempercepat massa dormansi benih dengan menggunakan bahan kimia. Scarifikasi kimia dapat dilakukan dengan merendam cara benih dengan larutan H2SO4 pekat selama 7-10 menit dan mencuci benih dengan air mengalir (Sadjad, 1994).

Tujuan perlakuan itu adalah agar kulit biji lunak sehingga lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi (Sutopo, 1988). Kulit biji yang keras dan impermeabel terhadap air dapat dibuat permeable dengan pemrosesan untuk periode pendek dengan larutan H2SO4 pekat (Kamil, 1983).

 

2.2.             Uji Muncul Tanah

Uji muncul tanah merupakan cara untuk mengetahui kualitas biji dengan media tanah, namun sebelum ditanam benih discarifikasi terlebih dahulu.  Kedalaman penanaman biji berpengaruh pada efektifitas dan kecepatan tumbuh biji yang akan berkecambah. Indikator Uji Muncul Tanah dapat dilihat pada gejala metabolisme benih yang berkaitan dengan kehidupan benih. Evaluasi kecambah menggunakan kriteria kecambah normal, kecambah abnormal, kecambah mati,  benih keras dan benih yang belum busuk tetapi tidak berkecambah. Faktor yang mempengaruhi uji muncul tanah adalah keadaan benih dan keadaan medium tanahnya.  Keadaan benih dipengaruhi oleh pemasakan benih, dormasi dan perlakuan terhadap benih, sedangkan medium tanah dipengaruhi oleh tekstur tanah, suhu tanah, udara tanah, porositas tanah, konsistensi tanah dan warna        tanah (Sutopo, 1988). Uji muncul tanah merupakan cara pengujian kualitas tanah dalam hubungannya dengan ketersediaan unsur hara  yang terkandung di dalamnya yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang baik membutuhkan tanah yang baik, yaitu tanah yang banyak mengandung unsur hara (Setyati, 1980).

 

2.3.            Benih

Benih adalah biji tanaman yang digunakan untuk tujuan penanaman.  Pengertian benih secara botanis atau tepatnya secara embriologis adalah biji yang berasal dari ovule (Kamil, 1982). Struktur biji yaitu suatu ovule atau bakal biji yang masak dan mengandung suatu tanaman mini atau embrio yang biasanya terbentuk dari bersatunya sel-sel generatif (gamet) di dalam embrio serta cadangan makanan yang mengelilingi embrio (Sutopo, 1988). 

Perkembangan dengan biji merupakan salah satu cara yang umum dalam mengembangbiakkan tanaman baik penyerbukan sendiri maupun silang dalam penyimpanan makanan dalam waktu yang lama (Harjadi, 1996). Buah polong kalopo lurus dan kadang-kadang sedikit membengkok, ukuran polongnya kira-kira sebesar lidi dengan permukaan berbulu rapat. Kulit polong yang pecah bentuknya seperti spiral (Kartasapoetra, 1989).

 

2.4.             Calopogonium mucunoides (Kalopo)

            Calopogonium muconoides berasal dari Amerika Selatan Tropik bersifat perennial, merambat membelit dan hidup di daerah – daerah yang tinggi kelembabannya (Reksohadiprodjo, 1985). Pertumbuhan kalopo menjalar, merambat, tidak tahan terhadap penggembalaan, tidak tahan naungan yang lebat akan tetapi dapat tumbuh dengan baik didaerah yang lembab (Sukamto, 2006).

            Kalopo memiliki batang lunak ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna cokelat dan daunnya ditutupi oleh bulu halus berwarna cokelat keemasan, sehingga kurang disukai oleh ternak (Soegiri et. al, 1982). Kalopo biasa dikembangbiakkan dengan dengan biji dan mampu tumbuh baik pada tanah sedang sampai berat pada ketinggian 200 – 1000 m diatas permukan laut dan membutuhkan curah hujan tahunan sebesar 1270 mm (Reksohadiprodjo, 1985).

 

 

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan materi Scarifikasi dan Uji Muncul Tanah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 24 Mei 2011 pukul 15.30-17.30 WIB di Rumah Kaca Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

 

3.1.    Materi

 

 Bahan yang digunakan dalam Scarifikasi dan Uji Muncul Tanah adalah benih kalopo, air panas 60o C, larutan H2SO4 96 %, air, kapas, amplas, dan tanah.  Alat yang digunakan adalah bak perkecambahan atau cawan petri sebagai tempat penyimpanan media tanam yaitu kapas, amplas untuk menggosok benih dalam melakukan scarifikasi mekanik, alat tulis untuk menuliskan data hasil pengamatan, polibag sebagai tempat penyimpanan media tanam yaitu tanah, dan penggaris sebagai alat pengukur tingginya tanaman.

 

3.2.     Metode

 

3.2.1Scarifikasi

 

Praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan materi Scarifikasi menggunakan tiga metode yaitu scarifikasi secara fisik, kimia dan mekanik. Metode secara fisik dengan merendam benih  kalopo dalam air panas 60 oC selama 10 menit kemudian ditiriskan. Cara kimiawi dengan merendam benih kalopo ke dalam larutan H2SO4 pekat 96% selama 2 menit kemudian ditiriskan. Cara mekanik dengan mengamplas bagian mata benih. Mengambil 15 benih pada masing-masing cara, kemudian meletakkannya pada cawan petri yang telah diberi kapas dan air supaya lembab. Langkah selanjutnya adalah menyimpan benih dalam suhu kamar, mengamati dan mencatat pertumbuhan benih selama 14 hari disertai dengan melakukan penyiraman setiap hari selanjutnya menghitung dan membuang benih yang tidak berkecambah, menghitung persen perkecambahan, Vigor Indeks (VI), dan Coefesien Vigor (CV).

 

3.2.2.   Uji muncul tanah

 

           

Praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan metode yang digunakan dalam uji muncul tanah yaitu dengan melakukan scarifikasi  benih secara fisik, kimia dan mekanik. Cara fisik dengan memasukkan benih kalopo ke dalam air panas 60oC selama 10 menit kemudian ditiriskan. Cara kimiawi merendam benih kalopo ke dalam larutan H2SO4 pekat 96% selama 2 menit kemudian meniriskannya. Cara mekanik dengan mengamplas bagian luar benih kalopo. Masing-masing 5 benih untuk setiap polybag dengan kedalaman 3 cm. Menyimpan benih dalam suhu kamar, menyiram benih setiap hari, menghitung jumlah biji yang berkecambah, mengukur tinggi tanaman dan menghitung jumlah daun pada biji yang telah mengalami perkecambahan. Mencatat dan menghitung hasil perkecambahan dengan menggunakan Coefisien Vigor (CV) dan Vigor Indeks (VI).

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1.   Uji Kecambah

Hasil praktikum Scakrifikasi dan Uji Kecambah pada perkecambahan kalopo dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Perkecambahan Benih Kalopo

 

Macam Scarifikasi

Fisik

Kimia

Mekanik

CV

10,8

9,93

15,15

VI

0,4

1,45

0,88

Perkecambahan (%)

6,6

13,3

13,3

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2011.

 

Grafik 1. Perkecambahan Benih Kalopo

 

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2011.

 

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil CV biji kalopo dengan skarifikasi fisik, kimia dan mekanik masing-masing sebesar 10,8, 9,93, 15,15. Hasil perhitungan VI biji kalopo dengan scarifikasi fisik, kimia dan mekanik masing-masing sebesar 0,4, 1,45, 0,88. Persentase perkecambahan biji kalopo dengan scarifikasi fisik, kimia dan mekanik masing-masing sebesar 6,6%, 13,3% dan 13,3%. Hasil di atas menunjukkan bahwa pada scarifikasi fisik persentase perkecambahan paling kecil hal ini dikarenakan pada pengujian fisik dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kurangnya cahaya yang dapat menyebabkan kurangnya perkecambahan. Sesuai pendapat Kamil (1982) bahwa pengujian fisik dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kurangnya cahaya yang dapat menyebabkan kurangnya perkecambahan dan suhu berpengaruh terhadap perkecambahan dalam penyerapan air, hidrolisa makanan cadangan, mobilisasi makanan, asimilasi, respirasi dan pertumbuhan bibit.

 

4.2.   Uji Muncul Tanah

Hasil praktikum Scakrifikasi dan Uji Muncul Tanah pada perkecambahan Puero dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Uji Muncul Tanah Benih Kalopo

 

Macam Skarifikasi

 

Fisik (cm)

Kimia (cm)

Mekanik (cm)

 

1

3

5

1

3

5

1

3

5

 

CV

10

2,5

10,17

10,5

10,5

1,9

 

VI

2,1

9,76

0,66

1,9

1,9

10

 

Perkecambahan (%)

26,6

33,3

6,6

6,6

6,6

13,3

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2011.

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik 2. Uji Muncul Tanah Benih Kalopo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2011.

 

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan persentase uji muncul tanah biji kalopo kedalaman 5cm dengan scarifikasi fisik, kimia dan mekanik masing-masing sebesar 6,6%, 6,6% dan 13,3%. Hasil di atas menunjukkan bahwa pada scarifikasi fisik dan skarifikasi kimia menghasilkan persentase yang sama. Kedalaman penanaman biji berpengaruh pada efektifitas dan kecepatan tumbuh biji yang akan berkecambah serta faktor yang mempengaruhi uji muncul tanah adalah keadaan benih dan keadaan medium tanahnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutopo (1988) yang menyatakan bahwa   Kedalaman penanaman biji berpengaruh pada efektifitas dan kecepatan tumbuh biji yang akan berkecambah Indikator Uji Muncul Tanah dapat dilihat pada gejala metabolisme benih yang berkaitan dengan kehidupan benih. Faktor yang mempengaruhi uji muncul tanah adalah keadaan benih dan keadaan medium tanahnya. Keadaan benih dipengaruhi oleh pemasakan benih, dormasi dan perlakuan terhadap benih, sedangkan medium tanah dipengaruhi oleh tekstur tanah, suhu tanah, udara tanah, porositas tanah, konsistensi tanah dan warna tanah.


 

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan pada praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan materi scarifikas uji kecambah dan uji muncul tanah dapat diketahui bahwa persentase tumbuh pada uji kecambah paling cepat dengan perlakuan mekanik dibandingkan dengan perlakuan fisik dan kimiawi. Perlakuan yang paling baik pada uji muncul tanah adalah dengan proses scarifikasi secara mekanik. Hal ini dapat dipengaruhi dengan proses perendaman yang cukup lama dan pengamplasan yang baik. Scarifikasi mekanik merupakan metode scarifikasi yang cukup baik, karena hasil perkecambahan mencapai persentase yang di atas rata-rata metode scarifikasi yang lain.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Harjadi, S. 1996. Pengantar Agronomi. PT Gramedia, Jakarta.

 

Harman, et. al. 1997. Plant Propagation. Principles and Practicess. Prentice Hall International Inc, USA.

 

Kamil, J. 1982.  Teknologi Benih I.  Angkasa Raya, Bandung.

 

Kartasapoetra, A. G. 1989. Teknologi Benih. Penerbit Bi8na Aksara, Bandung.

 

Sadjad, S.D. 1994. Teknologi Pembenihan Hijauan. PT. Angkasa, Bandung.

 

Schmidt, L.2002. Pedomanan Penanganan Benih Tanaman Hutan Topis dan Subtropis (terjemahkan) Dr. Mohammad Na’iem dkk, Bandung

 

Setyati, S. H. 1996. Pengantar Agronomi. PT Gramedia, Jakarta.

 

Soegiri, H. S., Ilyas dan Damayanti. 1982. Mengenal Beberapa Jenis Hijauan. Direktorat Bina Produksi Peternakan Dep. Pertanian, Jakarta.

 

Sukamto, B. 2006. Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

 

Sutopo, L. 1988. Teknologi Benih. CV. Rajawali, Jakarta.

Author:

IG @dinata__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s