Posted in akademik

Pengenalan Jenis Tanaman Pakan

BAB I
PENDAHULUAN
Identifikasi genus atau species hijauan pakan menjadi semakin penting untuk dilakukan mengingat semakin pentingnya arti hijauan pakan bagi kebutuhan ternak khususnya ruminansia. Identifikasi hijauan pakan khususnya rumput dapat dilakukan berdasarkan tanda-tanda atau karakteristik vegetatif.
Hijauan pakan dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yakni jenis rumput-rumputan dan jenis daun-daunan. Hijauan pakan rumput-rumputan dapat berupa rumput lapangan atau rumput unggul. Hijauan pakan daun-daunan yang gizinya paling baik adalah daun leguminosa. Jenis leguminosa umumnya memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput-rumputan.
Tujuan diadakannya praktikum pengenalan jenis hijauan pakan diantaranya adalah agar mahasiswa mampu mengenali dan memahami tentang karakteristik jenis-jenis penting rumput dan legum, serta mahasiswa mampu mengenali ciri khas masing-masing jenis hijauan pakan. Manfaat diadakannya praktikum ilmu tanaman pakan, khususnya pada materi pengenalan jenis hijauan pakan adalah dapat mengenali dan memahami tentang karakteristik jenis-jenis penting rumput dan legum, serta mampu mengenali ciri khas masing-masing jenis hijauan pakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Rumput (Gramineae)
Rumput merupakan hijauan pakan yang memiliki ciri perakaran serabut, bentuk dan dasar sederhana, perakaraan silindris, menyatu dengan batang, lembar daun terbentuk pada pelepah yang muncul pada buku-buku (nodus) dan melingkari batang (Soedomo, 1985). Akar utama rumput terbentuk sesudah perkecambahan dan selama pertumbuhan tanaman muda (seedling). Akar sekunder berbentuk padat di bawah permukaan tanah dekat dengan batang dasar (Reksohadiprodjo, 1985).
Rumput dibedakan menjadi dua golongan yaitu rumput potong dan rumput gembala (Soegiri et. al, 1982). Syarat rumput potong adalah produksi per satuan luas cukup tinggi, tumbuh tinggi secara vertikal, banyak anakan dan responsif terhadap pemupukan, contohnya adalah Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Euchlaena mexicana, Setaria sphacelata, Panicum coloratum, Sudan grass. Syarat rumput gembala adalah pendek atau menjalar (stolon), tahan renggut dan injak, perakarannya kuat dan dalam, serta tahan kekeringan. Contohnya adalah Brachiaria brizantha, Brachiaria ruziziensis, Brachiaria mutica, Paspalum dilatatum, Digitaria decumbens, Chloris gayana (Susetyo, 1985).

2.1.1 Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)

Rumput gajah berasal dari Afrika daerah tropik, perennial, dapat tumbuh setinggi 3 sampai 4,5 m, bila dibiarkan tumbuh bebas, dapat setinggi 7 m, akar dapat sedalam 4,5 m. Berkembang dengan rhizoma yang dapat sepanjang 1 m. Panjang daun 16 sampai 90 cm dan lebar 8 sampai 35 mm (Sutopo, 1988). Rumput gajah mempunyai perakaran dalam dan menyebar sehingga mampu menahan erosi serta dapat juga berfungsi untuk menutup permukaan tanah (Soegiri et. al, 1982).
Rumput gajah adalah tanaman tahunan, tumbuh tegak, mempunyai perakaran dalam dan berkembang dengan rhizoma untuk membentuk rumpun (Soedomo, 1985). Adaptasi rumput ini toleran terhadap berbagai jenis tanah, tidak tahan genangan, tetapi responsif terhadap irigasi, suka tanah lempung yang subur, tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan, tahan terhadap lindungan sedang dan berada pada curah hujan cukup, sekitar 1000 mm/tahun atau lebih. Kultur teknis rumput ini adalah bahan tanam berupa pols dan stek, interval pemotongan 40 – 60 hari, responsif terhadap pupuk nitrogen, campuran dengan legum seperti Centro dan Kudzu, produksinya 100 – 200 ton/ha/th (segar), 15 ton/ha/th (BK), renovasi 4 – 8 tahun (Reksohadiprodjo, 1985). Rumput Gajah toleran terhadap berbagai jenis tanah, tidak tahan genangan, tetapi respon terhadap irigasi, suka tanah lempung yang subur, tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan, tahan terhadap lingkungan sedang dengan curah hujan cukup, 1000 mm/th atau lebih (Susetyo, 1985).

2.1.2. Rumput Raja (Pennisetum purpupoides)

Rumput raja pertama kali dihasilkan di Afrika Selatan, termasuk dalam famili Graminae, sub famili Poanicoidea dan tribus Paniceae. Rumput raja termasuk tanaman perennial, beradaptasi dengan baik di daerah tropis, tanah tidak terlalu lembab dengan drainase yang baik (Widjajanto, 1992). Rumput raja tumbuh tegak membentuk rumpun, tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai tinggi dengan curah hujan sekitar 1000 – 1500 mm/th, tidak tahan naungan dan genangan air, hidup pada tanah dengan pH sekitar 5. Tanaman ini tidak dapat diperbanyak dengan menggunakan stek dengan panjang sekitar 25 – 30 cm atau 2 ruas (Reksohadiprodjo, 1985).
Rumput Raja mempunyai ciri-ciri antara lain: tumbuh berumpun – rumpun, batang tebal, keras, helaian daun panjang dan ada bulu serta permukaan daunnya luas. Produksi rumput Raja segar dapat mencapai 40 ton /hektar sekali panen atau antara 200 – 250 ton/hektar/tahun (Rukmana, 2005). Tanaman rumput raja dapat dikombinasikan dengan tanaman legum agar karakternya lebih meningkat. Rumput raja berfungsi mencegah kerusakan tanah akibat erosi yang melanda permukaan tanah akibat sapuan air pada musim penghujan (Syarief, 1986). Bahan tanaman rumput raja ada dua macam yaitu dengan stek dan robekan rumpun yang dapat tumbuh pada tempat sampai ketinggian 1500 meter dari permukaan air laut (Sukamto, 2006).

2.1.3. Rumput Setaria (Setaria sphacelata)

Rumput setaria dikenal dengan sebutan rumput Goden Timothy atau Setaria sphacelata, berasal dari Afrika tropik dan memilki siklus hidup parenial. Rumput setaria merupakan tanaman yang dapat membentuk rumpun yang lebat, kuat, dengan atau tanpa stolon dan rhizoma (Reksohadiprodjo, 1985). Rumput Setaria daunnya lebar dan agak berbulu pada permukaan atasnya. Pangkal batangnya berwarna cokelat keemasan. Setaria sphacelata biasanya dikembangbiakkan dengan pols (Soegiri et. al, 1982). Rumput ini ketika dewasa dapat mencapai ketingian 180 cm, tahan kering dan genangan, hidup pada ketinggian 1000 kaki, dan pada curah hujan 25 inchi pertahunnya (Reksohadiprodjo, 1985).
Rumput setaria yang dipotong pada umur 43 – 56 hari mempunyai kandungan bahan kering, lemak kasar, serat kasar, BETN, protein kasar, dan abu masing-masing sebesar 20,0%; 2,5%; 31,7%; 45,2%; 9,5%; dan 2,2 %. Pada kondisi optimum, Setaria memiliki kandungan protein kasar lebih dari 18 % dan serat kasar 25 % (Soedomo, 1985). Rumput setaria tumbuh baik pada curah hujan 750 mm/th atau lebih, toleran terhadap berbagai jenis tanah tetapi lebih suka pada tanah tekstur sedang, tahan genangan dan kering apabila lapisan olah dalam. Kultur teknisnya adalah bahan tanam berbentuk pols, biji (2 – 5 kg/ha), jarak tanam 70 x 90 cm, responsif terhadap pupuk nitrogen, pemotongan 35 – 40 hari (musim hujan) dan 60 hari (musim kemarau) (Reksohadiprodjo, 1985).

2.1.4. Rumput Benggala (Panicum maximum)

Panicum maximum atau rumput Benggala atau disebut juga Guinea grass berasal dari Afrika tropik dan sub tropik. Rumput jenis ini dapat berfungsi sebagai penutup tanah, penggembalaan, ataupun diolah dalam bentuk hay dan silase (Reksohadiprodjo, 1985). Ciri tanaman ini adalah tumbuh tegak membentuk rumpun, tinggi dapat mencapai 1 – 1,8 m, daun lebih halus daripada rumput gajah, buku dan lidah daun berbuku, banyak membentuk anakan, bunga tersusun dalam malai dan berwarna hijau atau kekuningan, serta akar serabut dalam (Setyati,1980).
Sifat hidup dari Panicum maximum adalah perennial, tumbuh baik pada daerah dataran rendah sampai 1959 dari permukaan laut, curah hujan yang sesuai untuk rumput jenis ini adalah 1000 – 2000 mm/thn, rumput jenis ini tahan kering tetapi tumbuh baik jika cukup air walaupun tidak tahan genangan (Setyati, 1980). Panicum maximum juga tahan naungan, responsif terhadap pupuk nitrogen, dan juga tahan penggembalaan sehingga dapat dijadikan rumput potong ataupun pastura (Reksohadiprodjo, 1985).
Pengelolaan tanaman ini dapat dilakukan dengan budidaya total, untuk perbanyakan tanaman ini dapat menggunakan biji 4 – 12 kg/ha atau dengan menggunakan sobekan rumput, jarak tanam yang sesuai adalah 60 x 60 cm (Soegiri et. al, 1982). Panicum maximum dapat ditanam bersama leguminosa Centrosema dengan perbandingan 4 – 6 kg Panicum per ha dan 2 – 3 kg Centro per ha atau dalam baris-baris berseling (Reksohadiprodjo ,1985).
Pemotongan dapat dilakukan 40 – 60 hari sekali atau dengan kata lain pemotongan pertama dapat dilakukan 2 – 3 bulan. Pembongkaran kembali dapat dilakukan setelah 5 – 7 tahun (Widjajanto,1992). Panicum maximum mampu menghasilkan produksi biji 75 – 300 kg/ha dan menghasilkan produksi hijauan sebanyak 100 – 150 ton bahan kering per ha per tahun (Reksohadiprodjo, 1985).

2.2. Legum (Leguminoceae)
Legum termasuk dicotyledoneus dimana embrio mengandung dua daun biji cotyledone (Susetyo,1985). Famili legume dibagi menjadi tiga group sub famili yaitu mimosaceae, tanaman kayu dan herba dengan bunga reguler. Tanaman kayu dan herba dengan ciri khas bunga berbentuk kupu-kupu, kebanyakan tanaman pakan ekonomi penting termasuk dalam group papilionaceae. Legume yang ada mempunyai siklus hidup secara annual, binial atau perennial (Soegiri et. al, 1982).

2.2.1. Sentro (Centrosema pubescens)

Centrosema pubescens berasal dari Amerika selatan tropis dan memiliki fungsi sebagai tanaman penutup tanah, tanaman sela, dan pencegah erosi. Legum Centrosema pubescens termasuk sub familia Papiloniceae dari famili Leguminoceae (Soedomo, 1985). Batang Centro panjang dan sering berakar pada bukunya, tiap tangkai berdaun tiga lembar, berbentuk elips dengan ujung tajam dan bulu halus pada kedua permukaannya. Bunga berbentuk tandan berwarna ungu muda bertipe kacang ercis dan kapri. Polong berwarna coklat gelap, panjang 12 cm, sempit dengan ujung tajam terdiri dari 20 biji (Widjajanto, 1992). Centrosema pubescens tumbuh dengan membelit pada tanaman lain atau menjalar di pagar dan juga menjalar bersama–sama dengan rumput menutupi permukaan tanah. Batang panjang, sering berakar pada bukunya, daun dengan tiga anak daun yang berbentuk telur dengan ujung tajam, berambut, panjangnya 5 – 12 cm dan lebar 3 – 10 cm (Susetyo, 1985).
2.2.2. Kalopo (Calopogonium mucunoides)

Calopogonium muconoides berasal dari Amerika Selatan Tropik bersifat perennial, merambat membelit dan hidup di daerah – daerah yang tinggi kelembabannya (Reksohadiprodjo, 1985). Pertumbuhan kalopo menjalar, merambat, tidak tahan terhadap penggembalaan, tidak tahan naungan yang lebat akan tetapi dapat tumbuh dengan baik didaerah yang lembab (Sukamto, 2006).
Kalopo memiliki batang lunak ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna cokelat dan daunnya ditutupi oleh bulu halus berwarna cokelat keemasan, sehingga kurang disukai oleh ternak (Soegiri et. al ,1982). Kalopo biasa dikembangbiakkan dengan dengan biji dan mampu tumbuh baik pada tanah sedang sampai berat pada ketinggian 200 – 1000 m diatas permukan laut dan membutuhkan curah hujan tahunan sebesar 1270 mm (Reksohadiprodjo, 1985).

2.2.3. Gamal (Gliricidia sepium)

Gamal adalah sejenis legum yang mempunyai ciri-ciri tanaman berbentuk pohon, warna batang putih kecoklatan, perakaran kuat dan dalam (Syarief, 1986). Gamal merupakan leguminosa berumur panjang, tanaman ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan dengan temperatur suhu antara 20 – 30 oC dengan ketinggian tempat antara 750 – 1200 m. Tanaman ini mampu hidup di daerah kering dengan curah hujan 750 mm/thn dan tahan terhadap genangan. Perkembangan tanaman ini dengan stek, dengan banyak cabang dan responsif terhadap pupuk N (Soedomo, 1985).
Penanaman gamal yang harus diperhatikan yaitu jarak tanaman dibuat 2 – 2,5 m antar baris. Tanaman gamal tinggi menjulang dengan batang lurus panjang. Kulit batangnya mudah sekali lecet atau terkelupas. Bunga gamal tersusun dalam rangkaian dengan warna merah muda keputihan. (Reksohadiprodjo, 1985). Komposisi nutrisi daun gamal terdiri atas bahan kering 23%; protein kasar 25,2%; lemak 4,9%; BETN 55,5% (Rukmana, 2005).

2.2.4. Lamtoro (Leucaena leucocephala)

Leucaena leucocephala atau lamtoro merupakan leguminosa yang berasal dari Amerika tengah, Amerika selatan dan Kepulauan Pasifik. Tanaman ini tumbuh tegak, berupa pohon dan tidak berduri (Sutopo, 1988). Lamtoro dapat tumbuh pada daerah dataran rendah sampai dengan 500 m di atas permukaan air laut dengan curah hujan lebih dari 760 mm/th (Soedomo, 1985). Lamtoro dapat tumbuh baik pada tanah dengan tekstur berat dengan drainase yang baik dan sangat responsif terhadap Ca dan P pada tanah masam (Susetyo, 1985).
Bahan tanam dari lamtoro adalah berupa biji dan stek. Lamtoro dapat dipotong pertama kali setelah mencapai tinggi 0,6 – 0,9 m yaitu sekitar umur 4 – 6 bulan, dengan interval pemotongan 2 – 3 bulan (Soegiri et. al, 1982). Tanaman lamtoro dapat di tanam bersama dengan rumput Guinea. Daun muda lamtoro terdapat racun mimosin (Sutopo, 1988). Lamtoro berakar dalam, mempunyai ketinggian antara 6,5 sampai 33 ft. Daun – daunnya berkurang, berbunga dengan bentuk bola berwarna putih kekuning-kuningan atau merah muda. Lamtoro dapat ditanam untuk makanan ternak, pemotongan pertama dapat dilakukan 6 – 9 bulan sesudah penyebaran bijinya, pemotongan dilakukan sampai sisa tanaman adalah 2 sampai 4 inchi dari atas tanah dan kemudian pemotongan berikutnya dapat dilakukan tiap 45 bulan sekali. Petai cina atau lamtoro ini dapat ditanam sebagai tanaman annual dan perennial (Reksohadiprodjo, 1985).

2.2.5. Puero (Pueraria phaseoloides)

Puero (Pueraria phaseoloides) memiliki kultur teknis dikembangbiakkan dengan biji (Susilo, 1991). Puero termasuk tanaman jenis legum berumur panjang, yang berasal dari daerah subtropis, tetapi bisa hidup di daerah tropik dengan kelembaban yang tinggi. Tanaman ini tumbuh menjalar dan memanjat (membelit), bisa membentuk hamparan setinggi 60–75 cm (Sutopo, 1985). Puero berasal dari India Timur, siklus hidupnya perenial. Ciri-cirinya tumbuh merambat, membelit dan memanjat. Sifat perakarannya dalam, daun muda tertutup bulu berwarna coklat, daunnya berwarna hijau tua dan bunganya berwarna ungu kebiruan (Soegiri et al., 1982).

2.2.6. Orok-orok (Crotalaria juncea)
Crotalaria juncea L, meruapakan species yang tinggi nilainya, karena bermanfaat sebagai pupuk hijau, pakan ternak, dan produksi serat yang mempunyai peranan penting untuk dipakai sebagai bahan untuk industri kertas (Bang, 1990). Ciri-ciri tanaman ini adalah batangnya tumbuh tegak lurus, berbentuk bulat dan sedikit di atas permukaan tanah melebar. Warna kulit batang hijau muda atau hijau kekuning-kuningan. Cabangnya tumbuh memancar dan terdapat sepanjang batang dari pangkal sampai ujung. Tinggi batang, dari tanah sampai ujung, berdaun tunggal dan letaknya tersebar. Tangkai daun pendek, sedangkan daunnya berbentuk taji dengan tepi yang rata dengan ukuran panjang 3,5 sampai 5 cm dan lebar 0,75 sampai 1,95cm. Daun berwarna hijau muda berbulu halus seperti beludru, baik pada helaian atas maupun bawah dan berakhir pada ujung helaian daun (Joenoes, 1978).

BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Ilmu Tanaman Pakan tentang Pengenalan Jenis Hijauan Pakan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 10 Mei 2011 di Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi

Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas folio untuk menggambar jenis rumput dan legum, pensil, penghapus dan spidol. Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah tanaman rumput (lengkap dengan akar, batang dan daun) di antaranya yaitu rumput raja, rumput gajah, rumput benggala, rumput setaria dan rumput brachiaria, serta tanaman legum (lengkap dengan akar, batang dan daun) yaitu centro, kalopo, lamtoro dan gamal.

3.2. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum Ilmu Tanaman Pakan adalah mempersiapkan macam-macam tanaman pakan yaitu rumput dan legum lengkap dengan bagian-bagiannya (akar, batang, dan daun). Kemudian mengamati dan menggambar jenis tanaman pakan (rumput dan legum) pada kertas yang tersedia. Memberikan keterangan pada masing-masing bagian dan sistematikannya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Rumput (Gramineae)

4.1.1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)

Berdasarkan pengamatan terhadap rumput gajah, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 1 yang disajikan berikut ini :

Sumber : http://www.manglayang.blogsome.com
Ilustrasi 1. Gambar Pennisetum purpureum (Rumput Gajah)
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa rumput gajah (Pennisetum purpureum) memiliki ciri – ciri perakarannya dalam dan menyebar. Hal ini sesuai pendapat Soegiri et. al,(1982) yang menyatakan bahwa rumput gajah mempunyai perakaran dalam dan menyebar sehingga mampu menahan erosi serta dapat juga berfungsi untuk menutup permukaan tanah. Rumput gajah adalah tanaman tahunan yang berkembang dengan rhizoma untuk membentuk rumpun. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedomo (1985) yang menyatakan bahwa Rumput gajah adalah tanaman tahunan, tumbuh tegak, mempunyai perakaran dalam dan berkembang dengan rhizoma untuk membentuk rumpun.

4.1.2. Rumput Raja (Pennisetum purpupoides)

Berdasarkan pengamatan terhadap rumput raja, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 2 yang disajikan berikut ini :

Sumber : http://www.duniasapi.com

Ilustrasi 2. Gambar Pennisetum purpupoides (Rumput Raja)

Berdasarkan hasil praktikum, rumput raja mempunyai ciri-ciri tumbuh tegak dan membentuk rumpun. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Reksohadiprodjo (1985) yang menyatakan bahwa rumput raja tumbuh tegak membentuk rumpun, tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai tinggi dengan curah hujan sekitar 1000 – 1500 mm/th, tidak tahan naungan dan genangan air, hidup pada tanah dengan pH sekitar 5.
4.1.3. Rumput Setaria (Setaria sphacelata)

Berdasarkan pengamatan terhadap rumput setaria, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 3 yang disajikan berikut ini

Sumber : http://www.manglayang.blogsome.com

Ilustrasi 3. Gambar Setaria sphacelata (Rumput Setaria)

Berdasarkan hasil pengamatan, rumput Setaria sphacelata daunnya lebar dan agak berbulu pada permukaan atasnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soegiri et al. (1982) yang menyatakan bahwa rumput Setaria sphacelata daunnya lebar dan agak berbulu pada permukaan atasnya. Pangkal batangnya berwarna cokelat keemasan. Setaria sphacelata biasanya dikembangbiakkan dengan pols. Rumput setaria merupakan tanaman yang tanpa stolon dan rhizoma. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprodjo (1985) yang menyatakan bahwa rumput setaria merupakan tanaman yang dapat membentuk rumpun yang lebat, kuat, dengan atau tanpa stolon dan rhizoma.

4.1.4. Rumput Benggala (Panicum maximum)

Berdasarkan pengamatan terhadap rumput benggala, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 4 yang disajikan berikut ini :

Sumber : http://www.dombafarm.wordpress.com

Ilustrasi 4. Gambar Panicum maximum (Rumput Benggala)

Berdasarkan hasil pengamatan rumput benggala mempunyai daun yang halus, membentuk rumpun, buku dan lidah daun berbuku dan warnanya hijaukekuningan. Hal ini sesuai dengan pendapat Setyati (1980) yang menyatakan bahwa ciri tanaman ini adalah tumbuh tegak membentuk rumpun, tinggi dapat mencapai 1 – 1,8 m, daun lebih halus dari pada rumput gajah, buku dan lidah daun berbuku, banyak membentuk anakan, bunga tersusun dalam malai dan berwarna hijau atau kekuningan, serta akar serabut dalam. Rumput benggala dapat diolah dalam bentuk silase maupun digunakan untuk penggembalaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprodjo (1985) yang menyatakan bahwa rumput jenis ini dapat berfungsi sebagai penutup tanah, penggembalaan, ataupun diolah dalam bentuk hay dan silase.
4.2. Legum

4.2.1. Gamal (Gliricidia sepium)

Berdasarkan pengamatan terhadap gamal, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 5 yang disajikan berikut ini :

Sumber: deptan.go.id
Ilustrasi 5. Gambar Gliricidia sepium (Gamal)

Berdasarkan hasil pengamatan diketahui ciri gamal adalah tanamannya berbentuk pohon, warna pada batangnya putih kecoklatan serta akarnya kuat. Hal ini sesuai dengan pendapat Syarief (1986) yang menyatakan bahwa gamal adalah sejenis legum yang mempunyai ciri-ciri tanaman berbentuk pohon, warna batang putih kecoklatan, perakaran kuat dan dalam. Tanaman gamal batangnya tumbuh lurus panjang dan rangkaian bunganya berwarna merah muda keputihan. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprodjo (1985) yang menyatakan bahwa tanaman gamal tinggi menjulang dengan batang lurus panjang. Kulit batangnya mudah sekali lecet atau terkelupas. Bunga gamal tersusun dalam rangkaian dengan warna merah muda keputihan.
4.2.2. Kalopo (Calopogonium mucunoides)

Berdasarkan pengamatan terhadap Calopogonium mucunoides, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 6 yang disajikan berikut ini :

Sumber : http://www.imagekalopo.com

Ilustrasi 6. Gambar Calopogonium mucunoides (Kalopo)

Berdasarkan hasil pengamatan, ciri-ciri dari tanaman kalopo adalah tumbuh menjalar ataupun merambat dan tumbuh dengan baik pada daerah yang lembab. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sukamto (2006) yang menyatakan bahwa pertumbuhan kalopo menjalar, merambat, tidak tahan terhadap penggembalaan, tidak tahan naungan yang lebat akan tetapi dapat tumbuh dengan baik didaerah yang lembab. Batang dan daun pada tanaman kalopo ditumbuhi oleh bulu-bulu panjang yang berwarna coklat. Hal ini sesuai dengan pendapat Soegiri et. al (1982) yang menyatakan bahwa kalopo memiliki batang lunak ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna cokelat dan daunnya ditutupi oleh bulu halus berwarna cokelat keemasan, sehingga kurang disukai oleh ternak.

4.2.3. Lamtoro (Leucaena leucocephala)

Berdasarkan pengamatan terhadap lamtoro, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 7 yang disajikan berikut ini :

Sumber : http://www.bumi-herbal.com

Ilustrasi 7. Gambar Leucaena leucocephala (Lamtoro)

Berdasarkan hasil pengamatan ciri – ciri tanaman lamtoro antara lain tanamannya tumbuh dengan tegak yang berupa pohon serta tidak berduri, bunganya berbentuk bola warna putih kekuningan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutopo (1988) yang menyatakan bahwa tanaman lamtoro tumbuh tegak, berupa pohon dan tidak berduri. Serta hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprodjo (1985) yang menyatakan bahwa sistem perakarannya dalam, daunnya berkarang dan bunganya berbentuk bola warna putih kekuningan atau merah muda. Lamtoro berakar dalam. Lamtoro dapat ditanam untuk makanan ternak. Petai cina atau lamtoro ini dapat ditanam sebagai tanaman annual dan perennial.

4.2.4. Sentro (Centrosema pubescens)

Berdasarkan pengamatan terhadap centro, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 8 yang disajikan berikut ini :

Sumber : http://www.moa.gov.jm

Ilustrasi 8. Gambar Centrosema pubescens (Sentro)

Berdasarkan hasil pengamatan Centrosema pubescens mempunyai ciri-ciri batangnya panjang, tiap tangkai berdaun tiga lembar yang berbentuk elips dan bulu halus pada kedua permukaanya, bunga berbentuk tandan yang berwarna ungu muda. Hal ini sesuai dengan pendapat Widjajanto (1992) yang menyatakan bahwa batang Centro panjang dan sering berakar pada bukunya, tiap tangkai berdaun tiga lembar, berbentuk elips dengan ujung tajam dan bulu halus pada kedua permukaannya. Bunga berbentuk tandan berwarna ungu muda bertipe kacang ercis dan kapri. Polong berwarna coklat gelap, panjang 12 cm, sempit dengan ujung tajam terdiri dari 20 biji. Centrosema pubescens tumbuh menjalar beserta rumput menutupi permukaan tanah, berakar pada bukunya, mempunyai tiga anak daun yang berbentuk telur dan berambut. Hal ini sesuai dengan pendapat Susetyo (1985) yang menyatakan bahwa Centrosema pubescens tumbuh dengan membelit pada tanaman lain atau menjalar di pagar dan juga menjalar bersama–sama dengan rumput menutupi permukaan tanah. Batang panjang, sering berakar pada bukunya, daun dengan tiga anak daun yang berbentuk telur dengan ujung tajam, berambut, panjangnya 5 – 12 cm dan lebar 3 – 10 cm.

4.2.5. Puero (Pueraria phaseoloides)

Berdasarkan pengamatan terhadap puero, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 9 yang disajikan berikut ini :

Sumber : http://www.indonesia.tropicalforages.info

Ilustrasi 9. Gambar Pueraria phaseoloide (Puero)

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa ciri-ciri tanaman puero adalah tumbuh merambat, membelit dan memanjat, warna daunnya hijau tua dan bunganya berwarna ungu kebiruan. Hal ini sesuai dengan pendapat Soegiri et al., (1982) yang menyatakan bahwa ciri-cirinya tumbuh merambat, membelit dan memanjat. Sifat perakarannya dalam, daun muda tertutup bulu berwarna coklat, daunnya berwarna hijau tua dan bunganya berwarna ungu kebiruan.
4.2.6. Orok-orok (Crotalaria juncea)

Berdasarkan pengamatan terhadap orok-orok, hasil pengamatan dapat dilihat pada ilustrasi 10 yang disajikan berikut ini :

Sumber : http://www.indonesia.tropicalforages.info
Ilustrasi 10. Crotalaria juncea (Orok-orok)

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa ciri-ciri tanaman orok-orok adalah batangnya tumbuh tegak lurus, berbentuk bulat, warna kulit batang hijau muda, daun berbulu halus. Hal ini sesuai dengan pendapat Joenoes (1978) yang menyatakan bahwa ciri-ciri tanaman ini adalah batangnya tumbuh tegak lurus, berbentuk bulat dan sedikit di atas permukaan tanah melebar. Warna kulit batang hijau muda atau hijau kekuning-kuningan. Daun berwarna hijau muda berbulu halus seperti beludru, baik pada helaian atas maupun bawah dan berakhir pada ujung helaian daun.

BAB V

KESIMPULAN

Hijauan pakan yang diberikan kepada ternak digolongkan menjadi dua yaitu kelompok legum dan rumput. Jika diamati dari bentuk fisik, kelompok legum memiliki ciri umum yaitu batangnya diliputi rambut dengan buku dan ruas menyatu, daun trifoliate (3 helai daun tiap tangkai daun), bunga berbentuk tandan, dan biji dalam polong. Sedangkan untuk kelompok rumput memiliki ciri umum yaitu daunnya lambat mengayu, batangnya silindris berbuku dan beruas dengan sifat padat dan memperkuat, bunga tumbuh pada akhir batang batang utama. Ada tiga tipe daun pada kelompok rumput yaitu bentuk bulir, tandan dan malai.

DAFTAR PUSTAKA
Bang, Ji Hwan.1990. Pengaruh tanaman sela,Crotalaria juncea L.dan pemberian kalium terhadap efiensi kalium untuk pertumbuhan dan hasil pertumbuhan jagung. Thesis Fakultas pascasarjana UGM. Yogyakarta.

Joenoes, A. 1978. Respon Crotalaria juncea pada Usaha Tani Padi.

Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Biji Rumput dan Legum Makanan Ternak Tropik. BPFE UGM, Yogyakarta.

Rukmana, H. R. 2005. Budidaya Rumput Potong. Trubus, Jakarta.

Rukmana, R. 2005. Budidaya Rumput Unggul. Kanisius. Yogyakarta.

Setyati, S. H. 1980. Pengantar Agronomi. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soedomo, R 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. PT Gramedia, Jakarta.

Soegiri, H. S., Ilyas dan Damayanti. 1982. Mengenal Beberapa Jenis Hijauan Makanan Ternak Daerah Tropik. Direktorat Bina Produksi Pertanian, Jakarta.

Sukamto, B. 2006. Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

Susetyo, S. 1985. Hijauan Makanan Ternak. Dirjen Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta.

Susilo, Herawati. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press, Jakarta.

Sutopo, L. 1988. Teknologi Benih. CV. Rajawali, Jakarta.

Syarief. 1986. Hijauan Makanan Ternak Potong Kerja dan Perah. Kanisius, Yogyakarta.

Widjajanto, D. W. 1992. Pertumbuhan dan Produksi Potong pada Berbagai Kadar Lengas Tanah. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

Author:

IG @dinata__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s