Posted in akademik

Ekonomi Perusahaan Peternakan

BAB I
PENDAHULUAN
Perusahaan adalah suatu tempat untuk melakukan kegiatan proses produksi barang atau jasa dan merupakan kesatuan teknis yang bertujuan menghasilkan barang atau jasa. Dalam era globalisasi, dunia usaha menjadi semakin kompetitif sehingga menuntut perusahaan untuk mampu beradaptasi agar terhindar dari kebangkrutan dalam persaingan.
Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan ini bertujuan agar praktikan mengetahui kegiatan-kegiatan perekonomian Peternakan yang dilakukan oleh suatu perusahaan, khususnya Peternakan Kemitraan dipedesaan. Manfaat yang dapat diambil dari Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan adalah praktikan lebih memperdalam pengetahuan yang telah didapat dari materi perkuliahan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teknis Usaha Peternakan
Keberhasilan suatu peternakan tergantung kepada tata laksana yang dilakukan. Tanpa tata laksana yang teratur dan baik produksi yang dihasilkan ternak tidak akan sesuai dengan yang diharapkan, bahkan suatu kerugian dan kehancuran yang cukup besar akan senantiasa mengancam, peranan manajer dalam suatu usaha perusahaan peternakan sangat menonjol / kehadiran tenaga terlatih yang sangat terampil melakukan segala tata laksana peternakan disertai penataan perlengkapan dan peralatan. Perusahaan peternakan yang disesuaikan dengan faktor fisik dan ekonomi akan menentukan keberhasilan tujuan tersebut (Santosa, 2001). Zat makanan yang dibutuhkan oleh sapi digunakan untuk hidup pokok dan produksi, kebutuhan sapi potong akan zat-zat makanan erat kaitannya dengan bobot badan dan produksi dagingnya (Nur, 2004).

2.2. Analisis Laporan Keuangan

Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang bermanfaat kepada investor, kreditor dan pemakai lainnya baik yang sekarang maupun potensial dalam pembuatan investasi, kredit dan keputusan sejenis yang rasional (Zainudin dan Hartono, 1999). Laporan keuangan merupakan alat yang penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Laporan keuangan terdiri atas neraca, dan perhitungan laba rugi serta laporan perubahan modal (Indrayani, 2009). Analisis laporan keuangan terdiri atas tiga bagian, yaitu analisis data horizontal, analisis vertikal dan analisis rasio. Analisis horizontal berisi laporan keuangan selama beberapa periode waktu. Analisis vertikal berisi laporan keuangan dengan menghitung persentase besar setiap komponennya terhadap jumlah total. Analisis rasio meghubungkan beberapa data terpilih dari laporan keuangan (Purnomo, 2010).
2.2.1. Biaya

Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Biaya terbagi menjadi dua, yaitu biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit adalah biaya yang terlihat secara fisik, misalnya berupa uang. Sementara itu, yang dimaksud dengan biaya implisit adalah biaya yang tidak terlihat secara langsung, misalnya biaya kesempatan dan penyusutan barang modal (Fair dan Ray, 2006).

2.2.1.1. Biaya tetap. Biaya tetap adalah sesuatu biaya-biaya yang tetap tidak berubah, meskipun volume produksi mengalami perubahan. Contoh biaya tetap antara lain biaya sewa, depresiasi, bunga dan gaji. Semakin besar volume produksinya semakin kecil biaya tetap per unitnya, semakin turun produksinya semakin besar biaya tetap perunitnya (Sigit, 1982).

2.2.1.2. Biaya variabel. Biaya variabel adalah biaya yang dilihat dari sudut volume produksi berubah sesuai dengan perubahan volume produksi. Jika volume produksi naik maka naiklah biaya variabel, volume produksi turun maka turunlah biaya variabel (Sigit, 1982). Variable cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan perubahan volume penjualan, dimana perubahannya tercermin dalam biaya variabel secara total.

2.2.2. Penerimaan
Penerimaan adalah harga dikali kuantitas output yang diputuskan kan diproduksi dijual oleh suatu perusahaan (Case dan Fair, 2007). Macam-macam penerimaan yaitu total penerimaan, penerimaan rata-rata yang tiap produksi diterima dan penerimaan marginal adalah tambahan penerimaan sebagai akibat dari tambahan produksi (Mulyadi, 2011).

2.2.3. Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh perusahaan dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk dan atau jasa kepada pelanggan. Bagi investor, pendapatan kurang penting apabila dibandingkan dengan keuntungan, yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah dikurangi pengeluaran (Juanda dan Cahyono, 2005). Pendapatan dari kegiatan normal perusahaan biasanya diperoleh dari hasil penjualan barang ataupun jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan. Pendapatan yang bukan berasal dari kegiatan normal perusahaan adalah hasil di luar kegiatan utama perusahaan yang sering disebut hasil non operasi. Pendapatan non operasi biasanya dimasukkan ke dalam pendapatan lain-lain, misalnya pendapatan bunga dan deviden (Case dan Fair, 2007).

2.2.4. Neraca Keuangan

Neraca melaporkan kekayaan dan tuntutan terhadap kekayaan perusahaan tersebut pada suatu waktu tertentu (Lipsey dan Steiner, 1984). Neraca merupakan gambaran tentang aktiva dan sumber-sumber keuangan untuk membeli aktiva tersebut pada suatu saat. Neraca terdiri dari dua sisi, yaitu aktiva yang dimiliki perusahaan dan pasiva yang menunjukkan dari mana dana untuk memperoleh aktiva tersebut.. Sisi aktiva terdiri dari aktiva lancar dan aktiva tetap. Sisi pasiva terdiri atas hutang lancar, hutang jangka panjang dan modal sendiri pemegang saham (Saragih et al., 2005).

2.2.5. Pengertian Laporan Rugi Laba

Laporan laba rugi adalah suatu keuangan yang meringkas penerimaan dan pengeluaran suatu perusahaan selama periode akuntansi. Jadi, laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang menunjukkan hasil-hasil operasi perusahaan selama periode tersebut (Gittinger, 1995).

2.2.6. Analisis Ratio Keuangan

2.2.6.1. Likuiditas. Likuiditas adalah suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi, atau dengan kata laim perusahaan tersebut belum tentu mempunyai kemampuan untuk membayar (Indrayani, 2009). Ukuran likuiditas perusahaan yang hingga saat ini masih sering digunakan adalah current ratio dan quick ratio. Current ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar (current asset) dengan hutang lancar (current liabilities), sedangkan quick ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dikurangi persediaan hutang lancar (Brigham dan Daves, 2004).

2.2.6.2. Solvabilitas. Semakin tinggi rasio solvabilitas maka semakin tinggi pula resiko kerugian yang dihadapi, tetapi juga ada kesempatan untuk mendapatkan laba yang besar. Sebaliknya apabila perusahaan memiliki rasio solvabilitas yang rendah tentu mempunyai resiko kerugian yang lebih kecil pula (Munawir, 2002). Solvabilitas perusahaan menunjukan kemampuan dimana perusahaan dalam memenuhi semua kewajiban finansialnya jika dilikuidasi. Solvabilitas dimaksudkan sebagai kemampuan suatu perusahaan membayar semua hutang-hutangnya. Rasio solvabilitas didasari oleh perbandingan antara jumlah aktiva dengan jumlah utang, maka setiap penambahan jumlah utang akan menurunkan tingkat solvabilitas (Indrayani, 2009).

2.2.6.3. Rentabilitas. Rentabilitas merupakan suatu hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan, sebagai suatu usaha efisiensi di mana setiap perusahaan dalam operasinya selalu berusaha meningkatkan labanya agar asset rentabilitas sesuai dengan standar (Haryono, 1981). Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut, dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Zaki, 1988). Rentabilitas suatu perusahaan merupakan pencerminan kemampuan modal perusahaan yang bersangkutan untuk mendapatkan keuntungan yang diinginkan. Rentabilitas atau profitabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba selama periode tertentu (Munawir, 2002).

2.2.7. Return On Investment (ROI)

Dalam rasio keuangan, analisis ROI memiliki arti penting sebagai salah satu teknik analisis rasio keuangan yang bersifat menyeluruh (komprehensif) (Munawir, 2000). Return on Investment merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (tingkat pengembalian) yang akan digunakan untuk menutupi investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk mengukur rasio ini adalah laba bersih setelah pajak (Sutrisno, 2000). Rasio ini membandingkan keuntungan yang diperoleh dari sebuah kegiatan operasi perusahaan dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut (Sunardi, 2010).

2.2.8. Payback Period

Payback period tidak menentukan perbandingan apapun yang diperlukan untuk investasi lain atau bahkan untuk tidak melakukan investasi. Kelebihan metode payback period ini digunakan sebagai alat pertimbangan resiko karena semakin pendek payback periodnya maka semakin pendek pula resiko kerugiannya. Kelemahan dari metode ini yaitu tidak memperhitungkan time value of money (nilai waktu akan uang), dan tidak mempedulikan cash flow yang diperoleh setelah payback period, serta tidak memperhatikan adanya keuntungan yang diperoleh setelah payback period dilakukan (Riyanto, 2001). Payback period adalah kriteria investasi, yang ikut menentukan suatu proyek yang akan diterima atau tidak, hal ini merupakan salah satu pertimbangan untuk memutuskan akan menerima atau menolak suatu proyek bersama dengan kriteria yang lain (Kamaluddin, 2010).

BAB III
METODOLOGI
3.1. Materi
Survei praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 4 Juni 2011 di perusahaan peternakan sapi potong “Bina Lembu Manunggal”, Subah, Batang.
3.2. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan adalah wawancara dan terjun langsung ke perusahaan peternakan pemilik perusahaan. Wawancara dilaksanakan dengan menyusun pertanyaan yang akan diberikan kepada pemilik perusahaan. Wawancara dilaksanakan di tempat perusahaan peternakan yang diketuai Bapak Andi Trisna, kemudian dilanjutkan dengan terjun langsung ke lapangan atau ke peternakan yang dikelola.

3.3. Rumus Perhitungan
3.3.1. Ratio Likuiditas

Current Ratio =

3.3.2. Ratio Solvabilitas

Solvabilitas =

3.3.3. Ratio Rentabilitas

Rentabilitas Ekonomis / RE = x 100 %
Rentabilitas Modal Sendiri / RMS = x 100 %

3.3.4. Return on Investment

ROI = x 100 %

Kriteria :
ROI tingkat bunga bank = usaha layak untuk dilakukan karena mampu menghasilkan keuntungan.

3.3.5. Payback Period

PP = x 1 tahun
Kriteria :
PP > jangka waktu yang ditetapkan = usaha tidak layak beropersi karena pengembalian investasi lebih lama dari jangka waktu yang ditetapkan.
PP < jangka waktu yang ditetapkan = usaha layak beropersi karena pengembalian investasi lebih cepat dari jangka waktu yang ditetapkan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Teknis Usaha Peternakan
Unit Usaha Ternak Potong “Bina Lembu Manunggal” milik Andi Trisna berdiri pada Desember 2007 di Subah, Batang dengan luas tanah yang diinvestasikan 750 m2 dan memiliki berbagai macam ternak antara lain sapi perah, sapi potong dan kambing. Jumlah ternak sapi potong awal sebanyak 3 ekor. Setelah berkembang, kini sapi potong yang ditenakkan adalah Peranakan Ongol (PO) dan Peranakan Shorthorn (PS) yang berjumlah 24 ekor. Modal awal hingga sekarang merupakan modal mandiri (modal pribadi) sebesar Rp. 109.000.00,00.

4.2. Analisis Laporan Keuangan
4.2.1. Biaya

Biaya adalah pengorbanan ekonomis yang dikeluarkan untuk dapat memproduksi barang dan jasa. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Fair dan Ray (2006) semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi.
Biaya total per periode Bina Lembu Manunggal merupakan penjumlahan biaya tetap dengan biaya variabel, yaitu Rp. 161.800.500,00.

4.2.1.1. Biaya tetap. Biaya tetap meliputi gaji karyawan, biaya pembelian kandang dan peralatan, serta biaya beli tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sigit (1982) yang menyatakan bahwa contoh biaya tetap antara lain biaya sewa, depresiasi, bunga dan gaji. Semakin besar volume produksinya semakin kecil biaya tetap per unitnya, semakin turun produksinya semakin besar biaya tetap perunitnya. Gaji karyawan sebesar Rp 24.000,00 per hari, jadi per periode gaji karyawan sebesar Rp. 2.880.000. rincian biaya tetap Bina Lembu Manunggal per periode sebagai berikut :

Tabel 1. Penghitungan Total Biaya Tetap per Periode (4 bulan)
Jenis Biaya Jumlah (Rp)
Biaya tetap
Gaji Karyawan 2.880.000,00
Penyusutan kandang 4.500.000,00
Peralatan kandang 9.000.000,00
Total biaya tetap 15.880.500,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

4.2.1.2. Biaya variabel, terdiri dari biaya untuk pembelian bakalan, biaya pakan, biaya obat obatan, biaya listrik dan biaya pemasaran dimana jumlah totalnya berubah sebanding dengan kegiatan perusahaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sigit (1982) yang menyatakan bahwa Jika volume produksi naik maka naiklah biaya variabel, volume produksi turun maka turunlah biaya variabel. Rincian biaya variabel dari Bina Lembu Manunggal yaitu sebagai berikut:

Tabel 2. Penghitungan Total Biaya Variabel Per Periode (4 bulan)
Jenis Biaya Jumlah (Rp)
Biaya Variabel
Pembelian bakalan 144.000.000,00
Biaya pakan 720.000,00
Biaya obat-obatan dan vitamin 400.000,00
Biaya listrik 200.000,00
Biaya transportasi 600.000,00
Total biaya variabel 145.920.000,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

Biaya pakan di Bina Lembu Manunggal ini tidak terlalu banyak, yaitu biaya konsentrat sebesar Rp. 6000,00 setiap hari. Jika dihitung per periode maka biaya pakan sekitar Rp 720.000,00. Sedangkan pakan seperti rumput dan jerami tidak memerlukan biaya karena di Bina Lembu Manunggal tersebut juga menanam sendiri rumput dengan pupuk organik hasil kotoran kambing yang dipelihara disana. Biaya listrik, air dan lain-lain sekitar Rp. 800.000.00 per periode. Sehingga biaya variabel Bina Lembu Manunggal per periode adalah Rp. 145.920.000,00.

4.2.2. Penerimaan

Tabel 3. Tabel Perhitungan Penerimaan Per Periode
Jenis Biaya Jumlah (Rp)
Penjualan Sapi Potong/ekor 8.400.000,00
Jumlah Total Penerimaan (24 ekor) 201.600.000,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

Penerimaan disini adalah uang yang didapat Bina Lembu Manunggal tersebut setiap periode. Sapi potong dijual dengan harga Rp. 8.400.000,00, dimana sapi potong yang digemukkan selama 4 bulan pemanenannya juga setiap 4 bulan. Penerimaan kotor Bina Lembu Manunggal sebesar Rp. 201.600.000,00.

4.2.3. Pendapatan

Pendapatan dapat diperoleh dari selisih antara penerimaan dan total biaya produksi. Case dan Fair (2007) Pendapatan dari kegiatan normal perusahaan biasanya diperoleh dari hasil penjualan barang ataupun jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan. Pendapatan yang didapatkan oleh Bina Lembu Manunggal Rp. 39.799.500,00 per periode (4 Bulan). Pendapatan ini diperoleh dari biaya penerimaan dikurangi total biaya produksi.

4.2.4. Neraca Keuangan

Neraca merupakan gambaran tentang aktiva dan sumber-sumber keuangan untuk membeli aktiva tersebut pada suatu saat. Neraca terdiri dari dua sisi, yaitu aktiva yang dimiliki perusahaan dan pasiva yang menunjukkan dari mana dana untuk memperoleh aktiva tersebut. Sisi aktiva terdiri dari aktiva lancar dan aktiva tetap. Sisi pasiva terdiri atas hutang lancar, hutang jangka panjang dan modal sendiri pemegang saham (Saragih et al., 2005). Neraca keuangan Bina Lembu Manunggal adalah sebagai berikut:
Lampiran 4. Perhitungan Neraca Keuangan Per Periode (4 bulan)
Jumlah (Rp)
Aktiva lancar
• Kas 20.000.000,00
• Piutang 3.500.000,00
• Perlengkapan 9.000.000,00
Total aktiva lancar 32.500.000,00
Aktiva tetap 109.000.000,00
Akumulasi penyusutan 31.140.000,00
Total aktiva tetap 77.860.000,00
Total aktiva 110.360.000,00
Utang lancar
Total utang lancar 6.500.000,00
Ekuitas
– Modal setor 103.860.000,00
Total ekuitas 103.860.000,00
Total pasiva 110.360.000,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

4.2.5. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi berisi penerimaan dan pengeluaran suatu perusahaan, hal ini sesuai dengan pendapat Gittinger (1995) yang menyatakan bahwa laporan laba rugi adalah suatu keuangan yang meringkas penerimaan dan pengeluaran suatu perusahaan selama periode akuntansi. Jadi, laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang menunjukkan hasil-hasil operasi perusahaan selama periode tersebut.

Lampiran 5. Perhitungan Laba Rugi Per Periode (4 bulan)
Jumlah (Rp)
Total penerimaan 201.600.000,00
Total biaya produksi 161.800.500,00
Laba 39.799.500,00
EBIT 39.799.500,00
EBT 39.799.500,00
Pajak 2.729.950,00
EAIT 37.069.550,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.
Total penerimaan Bina Lembu Manunggal per periode sebesar Rp. 201.600.000,00, biaya produksi Rp. 161.800.000,00 per periode (4 bulan) sehingga EBIT (Earning Before Interest and Tax) sebesar Rp. 39.799.500,00.
Namun, pada peternakan sapi potong ini tidak dikenakan pajak karena masih merupakan peternakan dalam skala kecil dan tidak adanya bunga (interest) dikarenakan peternakan Bina Lembu Manunggal tidak melakukan pinjaman baik kepada bank maupun instansi lain, sehingga EBT (Earning Before Tax) Bina Lembu Manunggal sebesar Rp. 39.799.500,00. EAIT (Earning After Interest and Tax) yang diperoleh sebesar Rp. 37.069.550,00 setelah dikurangi dengan pajak pendapatan sebesar 10%.

4.2.6. Analisis Ratio Keuangan

Laporan keuangan merupakan alat yang penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Laporan keuangan terdiri atas neraca, dan perhitungan laba rugi serta laporan perubahan modal (Indrayani, 2009). Analisis ratio keuangan ini dibagi menjadi 3 yaitu, ratio likuiditas, ratio solvabilitas dan ratio rentabilitas.
4.2.6.1. Ratio likuiditas. Menurut Indrayani (2009) likuiditas adalah suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Ratio likuiditas Bina Lembu Manunggal sebesar 50%, hal ini menunjukkan bahwa setiap 1 rupiah hutang jangka pendek yang sudah jatuh tempo dapat ditanggung oleh perusahaan sebesar 50 rupiah.

4.2.6.2. Ratio solvabilitas. Solvabilitas perusahaan menunjukan kemampuan dimana perusahaan dalam memenuhi semua kewajiban finansialnya jika dilikuidasi. Solvabilitas dimaksudkan sebagai kemampuan suatu perusahaan membayar semua hutang-hutangnya. Rasio solvabilitas didasari oleh perbandingan antara jumlah aktiva dengan jumlah utang, maka setiap penambahan jumlah utang akan menurunkan tingkat solvabilitas (Indrayani, 2009). Ratio solvabilitas Bina Lembu Maunggal berdasarkan perhitungan adalah sebesar 169,79%, artinya setiap Rp 100,00 pendanaan perusahaan, Rp 169,79 dibiayai perusahaan.

4.2.6.2. Ratio rentabilitas. Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut, dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Zaki, 1988). Ratio rentabilitas Bina Lembu Manunggal sebesar 0,37 %.

4.2.7. Return on Investment
Return on Investment merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (tingkat pengembalian) yang akan digunakan untuk menutupi investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk mengukur rasio ini adalah laba bersih setelah pajak (Sutrisno, 2000). ROI didapatkan dari hasil perhitungan EAIT dibagi investasi. Berdasarkan perhitungan, ROI dari Bina Lembu Manunggal adalah sebesar 34 % yang memiliki arti setiap 1 rupiah investasi menghasilkan EAIT 34 rupiah.

4.2.8 Payback Period

Payback period adalah kriteria investasi, yang ikut menentukan suatu proyek yang akan diterima atau tidak, hal ini merupakan salah satu pertimbangan untuk memutuskan akan menerima atau menolak suatu proyek bersama dengan kriteria yang lain (Kamaluddin, 2010). Berdasarkan perhitungan, ROI dari Bina Lembu Manunggal adalah sebesar 0,67 yang berarti pengembalian investasi didapat setelah perusahaan berproduksi selama 0,67 tahun.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan

Unit Usaha Ternak Sapi Potong “Bina Lembu Manunggal” milik Andi Trisna berdiri pada Desember 2007 di Subah, Batang. Jumlah ternak sapi potong awal sebanyak 3 ekor. Setelah berkembang, kini sapi potong yang diternakkan adalah Peranakan Ongol (PO) dan Peranakan Shorthorn (PS) yang berjumlah 24 ekor. Modal awal hingga sekarang merupakan modal mandiri (modal pribadi) sebesar Rp. 109.000.00,00. Dalam satu kali periode (4 bulan), Bina Lembu Manunggal membutuhkan Rp. 161.800.500,00 untuk produksi, dengan penerimaan Rp. 201.600.000,00. Sehingga pendapatan bersih Bina Lembu Manunggal dalam satu periode sebesar Rp. 39.799.500,00. Berdasarkan laporan laba rugi, EAIT (Earning After Interest and Tax) per periode sebesar Rp. 37.069.550,00. Berdasarkan perhitungan payback period, Bina Lembu Manunggal akan mendapatkan modal awalnya dalam waktu 0,67 tahun atau 7 bulan.

5.2. Saran

Pelaksanaan Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan sudah berjalan dengan baik. Namun perlu adanya peningkatan kemampuan praktikan dalam memahami konsep-konsep ekonomi perusahaan peternakan, melalui berbagai sumber agar lebih mudah dalam penyusunan laporan.

DAFTAR PUSTAKA

Gray, C., P. Simanjuntak., L. K. Sabur., P. F. L. Maspaitella., R. C. G. Varley. 2005. Pengantar Evaluasi Proyek edisi ke-2. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Haryono, Y. 1981. Dasar-Dasar Akuntansi. Yogyakarta : Bagian Penerbitan Akuntansi YKPN.

Kamaluddin. 2010. Payback Periode. http://www.kamaluddin86.com/2010/06/28.

Manullang, H. 1991. Pengantar Ekonomi Perusahaan. Liberty. Yogyakarta.

Munawir, S. 2002. Analisis Laporan Keuangan. Liberty, Yogyakarta.

Nur, K.S., 2004. Mengupayakan Usaha Sapi Perah Tetap Bertahan. Poultry Indonesia. Gappi. No 291. Pp 64-65.

Prastowo, D., dan Julianti, R. 2002. Analisis Laporan Keuangan: Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Riyanto, B. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit.

Santosa, U., 2001. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sidik, EC.H. 1981. Dasar-Dasar Ekonomi Perusahaan. Ofset Alumni. Bandung.

Sigit,Soehardi. 1982. Pengantar Ekonomi Perusahaan Praktis. Armurrita, Yogyakarta.

Suharyadi, dan S.K., Purwanto. 2004. Statistika untuk Ekonomi dan Keuangan Modern. Jakarta: Salemba Empat.

Syamsuddin, L. 1985. Manajemen Keuangan Perusahaan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Zaki, B. 1988. Intermediate Accounting. Yogyakarta : Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Investasi & Penyusutan
Jenis Nilai
Awal (Rp) Nilai
Akhir (Rp) UE Penyusutan Akumulasi
Tanah 50.000.000 –
Kandang 50.000.000 5.000.000 10 4.500.000 -27.000.000
Peralatan 9.000.000 720.000 8 1.035.000 -4.140.000
Total 109.000.000 5.720.000 5.535.000 -31.140.000
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

Lampiran 2. Penghitungan Total Biaya per Periode (4 bulan)
Jenis Biaya Jumlah (Rp)
Biaya tetap
Gaji Karyawan 2.880.000,00
Penyusutan kandang 4.000.500,00
Peralatan kandang 9.000.000,00
Total biaya tetap 15.880.500,00

Biaya Variabel
Pembelian bakalan 144.000.000,00
Biaya pakan 720.000,00
Biaya obat-obatan dan vitamin 400.000,00
Biaya listrik 200.000,00
Biaya transportasi 600.000,00
Total biaya variabel 145.920.000,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

Lampiran 3. Perhitungan Pajak
Interval penghasilan Persentase pajak (%) Total (Rp)
0-25 jt 5 1.250.000,00
25-50 jt 10 1.479.950,00
Jumlah pajak (Rp) 2.729.950,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

Lampiran 4. Perhitungan Neraca Keuangan Per Periode (4 bulan)
Jumlah (Rp)
Aktiva lancar
• Kas 20.000.000,00
• Piutang 3.500.000,00
• Perlengkapan 9.000.000,00
Total aktiva lancar 32.500.000,00
Aktiva tetap 109.000.000,00
Akumulasi penyusutan 31.140.000,00
Total aktiva tetap 77.860.000,00
Total aktiva 110.360.000,00
Utang lancar
Total utang lancar 6.500.000,00
Ekuitas
– Modal setor 103.860.000,00
Total ekuitas 103.860.000,00
Total pasiva 110.360.000,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

Lampiran 5. Perhitungan Laba Rugi Per Periode (4 bulan)
Jumlah (Rp)
Total penerimaan 201.600.000,00
Total biaya produksi 161.800.500,00
Laba 39.799.500,00
EBIT 39.799.500,00
EBT 39.799.500,00
Pajak 2.729.950,00
EAIT 37.069.550,00
Sumber: Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2011.

Lampiran 6. Perhitungan Rasio Likuiditas

= x 100%
= 50 %

Lampiran 7. Perhitungan Rasio Solvabilitas

Solvabilitas = x 100%
= x 100%
= 169,79 %

Lampiran 8. Pehitungan Rasio Rentabilitas

x 100%
= 0,37 %

Lampiran 9. Perhitungan Rasio Profitabilitas

x 100%
= 34 %

Lampiran 10. Perhitungan Payback Period

Payback Period

x 1 tahun
= 0,67 tahun

Author:

IG @dinata__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s