Pengolahan Lahan

BAB I
PENDAHULUAN
Usaha peternakan ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu pakan, bibit dan pengelolaan. Penyediaan pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam mendukung perkembangan usaha peternakan karena biaya yang dikeluarkan adalah untuk memenuhi kebutuhan pakan 60-70%. Masalah utama yang dihadapi dalam penyediaan pakan adalah kuantitas, kualitas dan kontinuitas.
Usaha untuk mendapatkan penyediaan hijauan yang jumlahnya cukup harus dilakukan pengelolaan yang baik seperti pengolahan tanah, pembibitan, teknik penempatan pupuk, pergiliran tanaman, dan interval defoliasi yang semuanya dapat dipelajari dalam praktikum Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Mutu dan produktifitas hijauan ditentukan oleh sifat bawaan dari hijauan dan pengaruh perlakuan manusia sendiri. Perlakuan yang dimaksud adalah pengelolaan yaitu pemilihan lokasi, pemilihan bibit, pengelolaan tanah dan penanaman, pemeliharaan, defoliasi, peremajaan.
Tujuan praktikum Ilmu Tanaman Pakan Pertumbuhan Prokduktivitas dilahan adalah mengetahui cara pengolahan lahan yang benar, mampu memilih bahan tanam yang sesuai, mengetahui cara menanam yang benar, mengetahui jarak tanam yang tepat, mampu memupuk yang benar, mengetahui interval pemotongan yang tepat dan mampu memprediksi produksi hijauan pakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hijauan Pakan (Sesbania grandiflora)
Sesbania grandiflora atau yang banyak dikenal sebagai turi adalah tanaman legum yang sudah banyak dikenal seluruh nusantara, terutama untuk wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Tumbuhan ini merupakan tanaman legum yang berupa pohon dan tumbuh tegak. Tinggi tanaman 5-12 m, umur tanaman tidak panjang. Kulit luar batangnya berwarna abu-abu kehitaman, kasar, terdapat retakan vertikal yang panjang selebar 1-2 cm, kulit kayu bila dicukil pada bagian cambium terdapat lendir berwarna kuning kemerahan. Pertumbuhan tanaman cepat, dengan perakaran yang dangkal, cabangnya menggantung. Daunnya majemuk menyirip dengan jumlah anak daun genap. Bentuk anak daun oval, lonjong, atau lanset, jumlah anak daun per tangkai 22-48 buah (IKAPI, 2007). Susunan zat-zat makanan daun turi yang berbunga putih adalah : 40,62% protein, 5,66% lemak, 33,38% bahan ekstrak tanpa N, 10,67% serat kasar dan 9,68% abu. Angka-angka analisis untuk daun turi yang berbunga merah adalah : 31,68% protein, 7,05% lemak, 37,67% bahan ekstrak tanpa N, 12,4% serat kasar dan 11,20% abu (Lubis, 1992). Turi, bagian aerial, tumbuh 6 minggu,musim basah maupun kering, segar Wistariatree, scarlet, fresh mempunyai kandungan bahan kering 17% (Hartadi, 1980).

2.2. Pupuk dan Pemupukan

Pupuk adalah semua bahan yang diberikan kedalam tanah, baik organik maupun anorganik dengan maksud untuk mengganti kehilangan unsur tanah dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor keliling atau lingkungan yang baik (Kartasapoetra, 1989). Pemupukan artinya menambah zat-zat makanan yang ada dalam tanah bagi tanaman agar zat-zat itu terpenuhi dalam tanah (Susetyo et. al., 1969). Pemupukan dilakukan untuk menambah hara tanah, sehingga tanaman menjadi subur yang pada akhirnya akan mengurangi erosi, dijelaskan pula pemupukan akan mempertahankan kesuburan tanah, karena sisa pemupukan saat itu merupakan cadangan hara bagi tanaman selanjutnya (Poerwowidodo, 1991).

2.3. Teknik Budidaya Tanaman
2.3.1. Pengolahan Lahan
Pengelolaan tanah adalah suatu perlakuan mekanik terhadap tanah menciptakan keadaan tanah masih dianggap suatu kegiatan rutin yang harus dilakukan setiap akan bertanam tanpa mempunyai dasar yang jelas dan tidak selalu meningkatkan produksi (Purwanto, 2007). Pengolahan tanah yang baik meliputi pembersihan areal, pembajakan dan penggarukan. Pembersihan areal bertujuan untuk membersihkan areal dari semak-semak, alang – alang atau tumbuhan lainnya. Pembajakan untuk memecah tanah atau lapisan tanah menjadi bongkahan sehingga gembur dengan tujuan agar proses mineralisasi bahan organik akan berlangsung lebih cepat. Penggarukan bertujuan menghancurkan bongkahan-bongkahan besar menjadi struktur remah sekaligus membersihkan sisa-sisa tumbuhan liar (Setyati, 1982).

2.3.2. Penanaman

Penanaman tanaman dilakukan dengan biji, pols, atau stek. Penanaman tanaman dengan biji dapat dilakukan dengan dua cara yaitu larikan dan disebar. Penanaman biji dengan cara larikan biasanya dilakukan pada suatu areal yang sempit dan tenaga cukup. Keuntungan penanaman dengan cara larikan adalah mempermudah penanaman karena sebelumnya sudah ditarik hasilnya lebih baik dibandingkan yang disebar (Kartosapoetra, 1989). Penanaman legum dapat menggunakan biji. Penanaman secara langsung dilakukan dengan sistem baris. Biji ditanam dengan kedalaman kurang dari 2,5 cm, jarak antara baris penanaman berkisar 1,5 – 4 meter (Purwanto, 2007).

2.3.3. Pengairan

Pengairan adalah usaha-usaha mengalirkan air dari sungai-sungai atau sumber air lain untuk keperluan pertanian. Air dapat mengurangi atau melenyapkan zat-zat yang dibentuk oleh tanaman itu sendiri dan menjadi racun (asam organik yang dikeluarkan oleh akar-akar tanaman). Air yang mengandung oksigen mempengaruhi proses-proses oksidasi, tetapi walaupun banyak mengandung oksigen, air itu bila diberikan terus-menerus udara di dalam tanah terdesak keluar dan tidak diganti lagi (Susetyo et al., 1969). Produktivitas tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara dalam tanaman serta pengairan yang cukup (Subagyo, 1985).

2.3.4. Penyiraman
Sistem penyiraman merupakan sistem pemberian air dengan cara melakukan penyemprotan sehingga jatuhnya air ke tanaman berbentuk butiran menyerupai hujan dengan menggunakan alat misalnya gembor, pipa berlubang, selang dan sprinkler (Subagyo, 1985). Air bagi tanah merupakan sistem pelarut sel, dan merupakan media untuk mengangkut hara dari dalam tanah. Air juga diperlukan sebagai hara untuk pembentukkan senyawa baru (Sosroedirdjo, 1995).

2.3.5. Defoliasi
Defoliasi adalah pemotongan bagian tanaman yang ada di permukaan tanah, baik oleh manusia ataupun oleh renggutan hewan. Faktor yang perlu diperhatikan dalam defoliasi adalah frekuensi tinggi rendahnya batang tanaman yang ditinggalkan, pemotongan paksa dan pengaturan dalam blok pemotongan (Sosroatmodjo, 1980). Serangga hama makan pada berbagai lokasi bagian tanaman seperti daun, batang, ranting, kulit pohon, tunas, bunga, buah, biji, akar dan umbi. Serangan hama ulat mampu mendefoliasi daun tanaman, sementara belalang menghabiskan daun dan batang tanaman (Purnomo, 2010). Defoliasi berat dapat mengakibatkan penurunan kesuburan tanah dan menghambat terbentuknya tunas baru, terkurasnya cadangan makanan. Defoliasi bertujuan menstimulir pertumbuhan, memperbanyak anakan dan menyeragamkan pertumbuhan berikutnya. Pertumbuhan kembali terjadi setelah dilakukan pemotongan, sehingga hasilnya dapat berproduksi (Reksohadiprojo,1990). Pertumbuhan merupakan proses dalam kehidupan tanaman yang mengakibatkan perubahan bentuk dan ukuran tanaman serta menentukan hasil tanman, pertambahan ukuran tubuh tanaman, secara keseluruhan merupakan hasil dari pertumbuhan ukuran bagian-bagian atau organ-organ tanaman akibat dari pertumbuhan jaringan sel (Sitompul dan Guritno, 1995).

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan acara Pengolahan Lahan dilaksanakan pada tanggal 25 April 2011 sampai 7 Juni 2011 di Lahan Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

2.1. Materi

Alat yang dipergunakan dalam praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan materi pengolahan lahan antara lain cangkul untuk menggemburkan lahan, sabit untuk menyiangi lahan, meteran mengukur lahan, tali rafia untuk memberi batas pada lahan, alat tulis mencatat data hasil pengamatan, lahan seluas 3 x 4 m sebanyak satu lahan, cutter untuk memotong legum, serta amplop sebagai tempat untuk menempatkan legum yang sudah dipotong. Bahan-bahan yang diperlukan dalam praktikum Ilmu Tanaman Makanan Ternak benih legum turi (Sesbania glandiflora).

2.2 Metode

Pelaksanaan praktikum ini di mulai dengan membuat sampel petak tanah yang telah di olah dengan luasan tiap petak 3 x 4 m. Melakukan penanaman biji legum turi (Sesbania glandiflora). Pengamatan dilakukan setiap minggu sampai minggu keenam dengan parameter tinggi tanaman yang diukur mulai dari bagian tanaman di atas permukaan tanah sampai ujung tumbuhnya cabang batang tanaman dengan menggunakan penggaris dan penghitungan daun pada setiap tumbuhan. Kemudian pada minggu keenam, memotong legum turi. Menimbang bobot legum turi. Lalu memasukkan legum turi kedalam amplop yang sudah dilubangi. Memasukkan amplop kedalam oven selama 24 jam. Menimbang bobot akhir setelah dioven. Hitung BK dan produksi per tahun tanaman legum turi. Mencatat pada lembar kerja.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pertumbuhan Legum Turi
4.1.1. Tinggi Legum
Berdasarkan hasil pengamatan tinggi tanaman legum dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3. Hasil Pengamatan Pertumbuhan Tinggi Legum Turi
Parameter Minggu ke-n
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6
Rata-rata tinggi legume 4.31 6.31 7.07 8.28 10.01 11
Sumber : Data Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2011.

Grafik 3. Hasil Pengamatan Pertumbuhan Tinggi Legum Turi

Sumber : Data Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2011.

Berdasarkan data pengamatan terhadap tinggi legum turi diperoleh data bahwa dari minggu ke minggu tanaman mengalami pertambahan tinggi yang menandakan adanya pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sitompul dan Guritno (1995) bahwa pertumbuhan merupakan proses dalam kehidupan tanaman yang mengakibatkan perubahan bentuk dan ukuran tanaman serta menentukan hasil tanaman, pertambahan ukuran tubuh tanaman, secara keseluruhan merupakan hasil dari pertumbuhan ukuran bagian-bagian atau organ-organ tanaman akibat dari pertumbuhan jaringan sel.

4.1.2. Jumlah Daun
Berdasarkan hasil pengamatan jumlah daun tanaman legum dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Legum Turi
Parameter Minggu ke-n
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6
Rata-rata jumlah daun legum 5.74 4.01 4.26 5.76 5.74 6.37
Sumber : Data Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2011.

Grafik 4. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Legum Turi

Sumber : Data Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2011.
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dari praktikum, didapatkan hasil dari minggu ke minggu mengalami kenaikan dan penurunan jumlah daun akibat serangan hama ulat pada daun yang sedang tumbuh, akibatnya daun yang pada minggu pertama naik, pada minggu kedua jumlah daun turun dan selanjutnya mengalami peningkatan lagi pada minggu ketiga dan selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Purnomo (2010) bahwa serangga hama makan pada berbagai lokasi bagian tanaman seperti daun, batang, ranting, kulit pohon, tunas, bunga, buah, biji, akar dan umbi. Serangan hama ulat mampu mendefoliasi daun tanaman, sementara belalang menghabiskan daun dan batang tanaman.

4.2. Produksi Legum Turi
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data bahwa produksi rata-rata hijauan pakan adalah 5,83 gram per m2 atau 58333,33kg/ha, yang membutuhkan pupuk urea 266,67 gram per petak, SP18 336,34 gram per petak dan KCl 120 gram per petak, dimana petak berukuran 12 m2. Prediksi produksi hijauan pakan (legum turi) per tahun adalah 0,42 ton/ha/tahun. Pada proses pemotongan legum, didapatkan berat basah legum turi 70 gram, setelah di oven didapatkan berat turi 35 gram dengan berat amplop 22,5 gram. Dapat disimpulkan bahwa hasil produksi bahan kering legum turi adalah 17,86%. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi (1980) bahwa turi, bagian aerial, tumbuh 6 minggu,musim basah maupun kering, segar Wistariatree, scarlet, fresh mempunyai kandungan bahan kering 17%.

BAB V
KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini diperoleh kesimpulan bahwa pertumbuhan legum turi tidak normal dengan ciri-ciri pertumbuhan melambat hal ini disebabkan karena penanaman di serang oleh hama tanaman. Pertumbuhan legum turi mulai tumbuh pesat pada minggu pertama, tapi setelah minggu-minggu selanjutnya tanaman di serang hama, sehingga daun berkurang dari minggu sebelumnya dan jumlah daun menjadi naik turun. Dari hasil penghitungan didapatkan prediksi produksi hijauan pakan (legum turi) per tahun adalah 0,42 ton/ha/tahun dan pada perhitungan bahan kering didapatkan prosentase bahan kering 17,86% dari 70 gram turi basah (sebelum di oven). Hal tersebut menunjukkan bahwa produksi bahan kering turi telah memenuhi standar dimana standar produksi adalah 17%.

DAFTAR PUSTAKA
Fitter, A. H. 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hartadi, H. 1980. Tabel-tabel dari Komposisi Bahan Pakan Ternak untuk Indonesia. Published by the International Feedstuffs Institute Utah Agricultural Experiment Station, Utah State University Logan, Utah. November 1980.

IKAPI. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae. Kanisius , Yogyakarta.

Kartasapoetra, A.G. 1989. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. PT Rineka Cipta, Jakarta.

Lubis, L.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan, Jakarta.

Poerwowidodo. 1991. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa, Bandung.

Purnomo, Hari. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati. CV. Andi Offset, Yogyakarta.

Purwanto, I. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae Cetakan ke-1. Kanisius, Yogyakarta.

Setyati, S. H. 1982. Pengantar Agronomi. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian Bogor.

Sitompul, S.M. dan Guritno, B. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gajahmada University Press, Yogyakarta.

Sosroatmodjo, P. 1980. Pembukaan Lahan dan Pengolahan Tanah. Lembaga Penunjang Pembangunan, Jakarta.

Sosrosoedirjo, S. 1995. Ilmu Memupuk. CV. Yasaguna, Jakarta.

Subagyo. 1985. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Soeroengan, Jakarta.

Susetyo, S, J., et. al. 1969. Hijauan Makanan Ternak. Dirjen Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s