Laporan Praktikum Produksi Ternak Perah

BAB I

PENGERTIAN

1.1. Anatomi Ambing

Sapi betina dapat berproduksi dengan baik pada umur dua tahun dan bobot badannya sekitar 225-300 kg. Produksi ternak perah tergantung dari jenis dan bangsa sapinya. Idealnya lama laktasi normal adalah 305 hari dengan 60 hari masa kering tergantung dengan proses kebuntingan dan masa perkawinannya kembali (Williamson dan Payne, 1993). Kelenjar mamae merupakan modifikasi kelenjar sudoriferosa. Kelenjar tersebut berkembang di sepanjang garis susu. Kulit ambing ditutupi rambut halus, tetapi puting sama sekali tidak tertutup rambut. Pemisahan ambing menjadi dua bagian kearah ventral ditandai dengan adanya kerutan longitudinal pada lekukan intermamae. Ambing sapi dapat menentukan kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan (Frandson, 1996).
Ambing terdiri atas dua bagian yaitu bagian sebelah kanan dan bagian sebelah kiri yang dipisahkan oleh selaput pemisah yang tebal dan terletak memanjang badan sapi dan membantu melekatkannya ambing pada tempatnya. Bagian ambing dibagi atas kuartir depan dan kuartir belakang yang dibatasi oleh jaringan pengikat yang tipis dan tiap perempatan ambing itu mempunyai saluran tempat keluarnya air susu yang disebut puting, rongga puting melebar ke arah rongga ambing (udder sistern) (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Dua kuartir depan biasanya berukuran 20% lebih kecil dari kuartir ambing bagian belakang dan antara kuartir itu bebas satu dengan yang lainnya (Blakely dan Bade, 1994). Ambing sapi di bagian luar terbungkus oleh dinding luar yang disebut ligamentum suspensorium lateralis sedangkan di bagian dalam ambing terpisah menjadi bagian kanan dan kiri oleh suatu selaput pemisah tebal yang berjalan longitudinal dan menjulur ke atas bertaut pada dinding perut yang disebut ligamentum suspensorium medialis. Fine membrane merupakan membran diantara keempat bagian kuartir ambing. Inter mammary groove terbentuk saat ligamentum suspensorium lateralis bertemu dengan ligamentum suspensorium medialis (Kesmavet FH UGM, 2010).
Ambing pada sapi dara secara anatomi sama dengan ambing pada sapi laktasi terutama pada kenampakan secara eksterior. Perbedaannya terletak pada ukuran ambing dan anatomi bagian dalamnya, yaitu belum sempurnanya kerja dari sel-sel penghasil susu. Ambing pada sapi dara terdiri dari banyak lemak dengan jaringan lobula alveoler yang sedikit dan pada sapi laktasi sebaliknya, dimana saluran-saluran tumbuh keluar dari saluran interlabuler. Pengganti tenunan lemak kemudian membentuk lobula alveoler (Blakely dan Bade, 1994). Setelah pubertas, kelenjar mammae akan dihadapkan pada siklus yang membutuhkan peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Efek dari hormon estrogen adalah pada perkembangan pembuluh, sedang hormon progesteron menstimulus perkembangan lobulus. Siklus estrus yang berulang, menyebabkan perkembangan jaringan kelenjar susu lebih cepat (Frandson, 1996).
Pengeluaran susu diatur oleh urat saraf dan hormon. Sapi induk pertama membutuhkan rangsangan sewaktu anak sapi menyusui, tekanan pertama dari anak sapi pada puting susu merupakan suatu rangsangan. Satu kali rangsangan dibentuk sistem saraf akan menyampaikan pesan pada glandula pituitaria posterior yang mana selanjutnya akan mengeluarkan hormon yang dikenal sebagai oksitosin. Hormon ini disirkulasikan dalam darah dibawa ke jaringan ambing, dan diprakarsai proses pengeluaran air susu, karena hormon berada dalam sirkulasi hanya dalam periode yang singkat, lebih cepat pemerahan dilaksanakan maka pemerahan menjadi lebih efisien (Williamson dan Payne, 1993). Rangsangan pada ambing mengahasilkan impuls saraf ke otak kemudian otak mengaktifkan pituitari posterior. Pituitaria posterior mengeluarkan hormon oksitosin ke dalam aliran darah ketika darah mengalir ke ambing sehingga air susu keluar (Blakely dan Bade, 1994).
Umur sapi perah adalah salah satu faktor yang mempengaruhi produksi susu dan pada umumnya, produksi pada laktasi pertama rendah dan akan meningkat pada periode laktasi selanjutnya (Tillman et al., 1991). Berbagai faktor mempengaruhi intensitas laktasi, misalnya suhu lingkungan, dan kebakaan yang merupakan kesanggupan ternak untuk menghasilkan susu yang tergantung kondisi genetik hewan. Jaringan sekresi (jumlah jaringan kelenjar) merupakan faktor dasar yang membatasi laktasi. Penyediaan zat makanan yang tidak cukup akan membatasi sekresi susu pada sapi perah (Anggorodi, 1994).

1.2. Perkandangan

Perkandangan merupakan suatu lokasi atau lahan khusus yang diperuntukkan sebagai sentra kegiatan peternakan yang di dalamnya terdiri atas bangunan utama (kandang), bangunan penunjang (kantor, gudang pakan, kandang isolasi) dan perlengkapan lainnya (Sugeng, 1998). Tinggi atap kandang kurang lebih 2-2,5 m dari tanah, tinggi palung pakan sekitar 1,65 m dan lebarnya sekitar 0,80 m (Bandini, 2003). Kandang sapi perah dilengkapi dengan saluran pembuangan kotoran berupa selokan kecil yang memanjang di belakang posisi sapi. Sementara di bagian depan, kandang tersebut dilengkapi dengan wadah pakan. Gudang diperlukan untuk menyimpan peralatan atau pakan yang biasanya dilengkapi dengan perlengkapan gudang pakan seperti alat pencampur bahan pakan dan alat penggiling (Santosa, 2007).
Kandang sapi perah induk dewasa dan sapi dara yang telah berumur lebih dari satu tahun dan mempunyai bentuk dan ukuran yang sama dengan induk memerlukan kandang berukuran panjang 1,6 m dan lebar 1, 35 m (Siregar, 1995). Kandang sapi perah yang baik adalah kandang yang memiliki sirkulasi dan mendapat sinar matahari yang cukup, lantai kandang selalu kering, tempat pakan dan air minum yang luas dan terjamin (Sudono et al., 2005).

1.3. Pengamatan Iklim

Iklim dapat digolongkan menjadi dua, yaitu iklim yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap fisiologi ternak, serta iklim yang pengaruhnya di luar jangkauan manusia. Iklim mikro merupakan faktor-faktor iklim yang berpengaruh langsung seperti suhu lingkungan, radiasi matahari, kelembapan udara dan gerakan udara. Iklim makro merupakan faktor yang berpengaruh tidak langsung, yaitu interaksi antara tanah dan tumbuh-tumbuhan. Suhu tubuh ternak dan lingkungannya akan senatiasa seimbang. Terjadinya perubahan suhu lingkungan akan merubah keseimbangan tersebut, dan akhirnya dapat mengubah suhu tubuh ternak (Murtidjo, 1990). Suhu udara yang nyaman untuk ternak sapi perah adalah 21-27 ⁰C (Williamson dan Payne, 1993).
Suhu udara di Indonesia pada umumnya tinggi yaitu antara 24-34⁰C, dengan kelembaban udara juga tinggi yaitu antara 60%-90%, disebabkan oleh radiasi matahari yang tinggi (Frandson, 1996). Ternak harus mempertahankan keseimbangan panas antara panas yang diproduksi oleh tubuh atau panas yang didapat dari lingkungannya dengan panas yang hilang ke lingkungannya untuk mempertahankan suhu tubuhnya. Perubahan iklim mempengaruhi mafsu makan, sehingga mempengaruhi produksivitas yang bisa diukur dari pertumbuhannya dan produksi susunya (Williamson dan Payne, 1993).
Kelembaban yang tinggi bisa mengurangi atau menurunkan jumlah panas yang hilang akibat penguapan, sedangkan penguapan merupakan salah satu cara untuk mengurangi panas tubuh sehingga tubuh menjadi sejuk, jumlah panas yang hilang tersebut tergantung dari luas permukaan tubuh, bulu yang menyelubungi kulit, jumlah dan besar kelenjar keringat ternak, suhu dan kelembapan udara di lingkungan kandang (Sugeng, 1998). Kelembaban ideal yang dibutuhkan sapi perah adalah 60-70% (Sasono et al., 2005).

BAB II

TUJUAN DAN MANFAAT

2.1. Tujuan

Tujuan dari Praktikum Anatomi Ambing adalah agar praktikan dapat mengetahui anatomi ambing dan keterkaitan dengan fisiologinya. Tujuan dari Praktikum Perkandangan adalah agar praktikan mengetahui dan memahami sistem perkandangan yang sesuai untuk menunjang produksi ternak perah. Tujuan dari Praktikum Pengamatan Iklim adalah agar praktikan dapat mengetahui dan memahami iklim yang sesuai untuk menunjang produksi ternak perah.

2.2. Manfaat

Manfaat dari Praktikum Anatomi Ambing adalah praktikan dapat mengetahui anatomi ambing dan keterkaitan dengan fisiologinya. Manfaat dari Praktikum Perkandangan adalah praktikan mengetahui dan memahami sistem perkandangan yang sesuai untuk menunjang produksi ternak perah. Manfaat dari praktikum Pengamatan Iklim adalah agar praktikan dapat mengetahui dan memahami iklim yang sesuai untuk menunjang produksi ternak perah.

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Produksi Ternak Perah dengan materi Perkandangan, Pengamatan Iklim dan Anatomi Ambing dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 17 November 2011 pukul 06.00-07.00 WIB di Kandang Sapi Perah dan pada pukul 20.00-22.00 WIB di Laboratorium Ilmu Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang.
3.1. Materi

Materi yang digunakan dalam anatomi ambing adalah ambing sapi dara dan ambing sapi laktasi yang diawetkan sebagai objek yang diamati dalam analisa ambing, sarung tangan digunakan untuk melapisi tangan dalam mengambil ambing yang sudah diawetkan dengan formalin, masker yang digunakan untuk melapisi hidung agar mengurangi bau formalin yang menyengat hidung, alat terakhir adalah buku tulis dan buku praktikum yang digunakan untuk mencatat data hasil praktikum. Materi yang digunakan dalam praktikum Perkandangan dan Meteran yang digunakan untuk mengukur luas kandang yang diamati. Sedangkan Praktikum Pengamatan Iklim membutuhkan kandang sapi perah yang digunakan sebagai objek pengamatan. Termometer yang digunakan untuk mengukur suhu lingkungan. Black globe untuk mengukur radiasi matahari. Higrometer untuk mengukur kelembaban udara, baik kelembaban mikro dalam kandang maupun mikro luar kandang.
3.2 Metode

3.2.1. Anatomi Ambing

Langkah pertama dalam praktikum ambing kali ini adalah mengambil ambing dari toples yang sudah diawetkan menggunakan sarung tangan dan mengamati bagian-bagiannya serta mengukur bagian-bagian ambing tersebut menggunakan penggaris. Mengukur bagian ambing meliputi LSM, LSL, FM, jarak antar putingnya baik jarak puting bagian belakang, bagian depannya maupun bagian kanan dan kirinya. Mencatat hasil pengukuran tadi didalam buku praktikum.

3.2.2. Perkandangan

Langkah pertama dalam praktikum perkandangan ini adalah mengamati dan mengukur kandang dengan meteran yang telah disediakan dan mencatatnya, mengukur kandang sapi perah secara umum, mengukur selokan, tempat pakan, tempat sapi (petak kandang), kamar susu, gudang penyimpanan pakan, tempat pengambilan air, tempat air minum, ventilasi kandang, dan menggambar denah kandangnya.

3.2.3. Pengamatan Iklim

Langkah pertama dalam pengamatan iklim ini adalah mengukur suhu (wet dan dry) lingkungan mikrodalam kandang dan mikro luar kandang menggunakan termometer pada pukul 06.00, 12.00, 18.00, dan pukul 00.00, mengukur kelembaban menggunakan higrometer, pertama membaca suhu bola kering (dry bulb temperature/DBTnya), kemudian membaca juga suhu bola basahnya (wet bulb temperature/WBT), lalu menghitung selisih antra DBT dengan WBT, lalu melihat tabel konversinya yang terletak pada tengah alat, dan mencatat pada buku praktikum. Kemudian menghitung radiasi matahari dengan menggunakan black globe, dengan melihat angka yang ditunjukkan pada alat tersebut kemudian catatlah.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Anatomi Ambing

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap ambing sapi perah, yang diamati antara lain LSL (Ligamentum suspensorium lateralis) yang merupakan bagian ambing yang menempel langsung pada tubuh sapi perah, LSM (Ligamentum suspensorium medialis) yang merupakan pembatas antara ambing sebelah kanan dan sebelah kiri, FM (Fine membrane) yang merupakan membran antara keempat kuartir ambing, panjang puting, dan panjang antar puting. Hal ini sesuai dengan pendapat Kesmavet FH UGM (2010) yaitu ambing sapi di bagian luar terbungkus oleh dinding luar yang disebut ligamentum suspensorium lateralis sedangkan di bagian dalam ambing terpisah menjadi bagian kanan dan kiri oleh suatu selaput pemisah tebal yang berjalan longitudinal dan menjulur ke atas bertaut pada dinding perut yang disebut ligamentum suspensorium medialis. Fine membrane merupakan membran diantara keempat bagian kuartir ambing. Ambing sapi dara dan sapi laktasi tidak memiliki perbedaan yang cukup mencolok, perbedaannya antara lain ukuran ambing dan teksturnya. Ambing sapi dara sel-selnya belum berkembang dan belum berfungsi secara maksimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa ambing sapi dara dan sapi laktasi tidak memiliki perbedaan yang cukup mencolok terutama bila diamati eksteriornya. Perbedaannya terletak pada ukuran ambing dan anatomi bagian dalamnya, yaitu belum sempurnanya kerja dari sel-sel penghasil susu. Ambing pada sapi dara terdiri dari banyak lemak dengan jaringan lobula alveoler yang sedikit dan pada sapi laktasi sebaliknya, dimana saluran-saluran tumbuh keluar dari saluran interlabuler.
Sekresi susu dipengaruhi oleh rangsangan dari luar, misalnya adanya massage dari pemerah atau rangsangan dari anak sapi yang ingin menyusu. Kemudian rangsangan tersebut diteruskan ke hipotalamus yang kemudian diteruskan ke hipofisa yang kemudian dilanjutkan dengan sekresi hormon dan sekresi susu. Menurut Williamson dan Payne (1993) pengeluaran susu diatur oleh urat saraf dan hormon. Sapi induk pertama membutuhkan rangsangan sewaktu anak sapi menyusui, tekanan pertama dari anak sapi pada puting susu merupakan suatu rangsangan. Rangsangan pada ambing mengahasilkan impuls saraf ke otak kemudian otak mengaktifkan pituitaria posterior. Pituitaria posterior mengeluarkan hormon oksitosin ke dalam aliran darah ketika darah mengalir ke ambing sehingga air susu keluar (Blakely dan Bade, 1994).

4.2. Perkandangan

Berdasarkan pengamatan terhadap kandang sapi perah, kandang sapi ini berukuran 1,75 m x 1,07 m, dan ukuran kandang ini sudah bisa dikatakan normal karena dilihat dari panjang kandang yang sudah melebihi batas kandang sapi perah pada umumnya yaitu sekitar 1,6 m, dan luas kandang yang sedikit berlebih ini memudahkan ternak dalam bergerak maupun beraktivitas. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1995) yaitu kandang sapi perah induk dewasa dan sapi dara yang telah berumur lebih dari satu tahun dan mempunyai bentuk dan ukuran yang sama dengan induk memerlukan kandang dengan ukuran kira-kira panjang 1,6 m dan lebar 1,35 m. Kandang sapi perah memiliki ventilasi yang cukup, sehingga sirkulasi udara lancar dan sinar matahari yang masuk cukup. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudono et al., (2005) yaitu kandang sapi perah yang baik adalah kandang yang memiliki sirkulasi dan mendapat sinar matahari yang cukup.
Tinggi kandang 3,2 m dan lebarnya 8,7 m, tinggi palung (tempat pakan) 0,5 m dan lebarnya 0,8 m. Struktur, tinggi dan ukuran kandang mempengaruhi produktivitas ternak perah, karena secara tidak langsung mempengaruhi suhu dan kelembaban mikro dalam kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Bandini (2003) yaitu tinggi atap kandang kira-kira 2-2,5 m dari tanah. Murtidjo (1990) menambahkan bahwa produktivitas ternak akan maksimal apabila suhu ternak dan lingkungannya seimbang. Kandang memiliki luas 101,682 m2 (12,6 m x 8,07 m) dan dilengkapi dengan selokan sebagai tempat pembuangan kotoran dan sisa pakan, kamar susu sebagai tempat penyimpanan susu setelah diperah, gudang pakan sebagai tempat penyimpanan pakan dan tempat penampung air yang digunakan sebagai sumber air untuk minum ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Santosa (2007) yang menyatakan bahwa kandang sapi perah dilengkapi dengan saluran pembuangan kotoran berupa selokan kecil, wadah pakan untuk menaruh pakan ternak, kamar susu dan gudang untuk penyimpanan peralatan dan pakan.

4.3. Pengamatan Iklim
Berdasarkan hasil pengamatan suhu dan kelembaban kandang sapi perah sudah nyaman untuk ternak, yaitu mikro dalam kandang, suhu rata-rata dry 28,37 ⁰C dan wet 25,37 ⁰C serta kelembaban 77,25 %. Mikro luar kandang, suhu rata-rata dry 28,18 ⁰C dan wet 26,62 ⁰C serta kelembaban 73,5 %. Suhu dan kelembaban mikro dalam kandang dan mikro dalam kandang yang nyaman akan meningkatkan produksi ternak perah. Hal ini sesuai dengan pendapat ynag dikemukakan oleh Frandson (1992) yaitu kelembaban kandang sapi perah di Indonesia pada umumnya antara 60-90 %. Williamson dan Payne (1993) menambahkan bahwa suhu udara yang nyaman untuk ternak sapi perah adalah 21-27⁰C.
Suhu lingkungan mempengaruhi intensitas laktasi ternak sapi perah. Apabila suhu lingkungan tidak nyaman bagi ternak, maka energi yang diperoleh ternak dari pakan akan digunakan untuk kebutuhan hidup pokoknya, yaitu untuk menyeimbangkan suhu tubuh dengan suhu lingkungannya. Sehingga energi yang digunakan untuk produktivitas ternak akan lebih sedikit karena lebih banyak energi yang dibutuhkan untuk kebutuhan hidup pokoknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1994) yaitu suhu lingkungan mempengaruhi intensitas laktasi. Murtidjo (1990) juga menyatakan bahwa terjadinya perubahan suhu lingkungan akan merubah keseimbangan tersebut, dan akhirnya dapat mengubah suhu tubuh ternak.

BAB V

KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum pengamatan terhadap eksterior ambing sapi dara dan sapi laktasi, tidak terdapat perbedaan yang berarti. Perbedaan antara ambing sapi dara dan sapi laktasi hanya terdapat pada ukuran, tekstur (penyusun) serta lebih berfungsinya sel-sel pada ambing sapi laktasi. Berdasarkan hasil pengamatan kandang, kandang sapi perah memiliki satu bangunan utama dengan kamar susu, gudang pakan ternak serta tempat penampungan air minum. Kandang sapi perah memiliki sarana pelengkap antara lain tiang pembatas tiap ternak, tempat pakan dan tempat minum. Berdasarkan pengamatan terhadap iklim mikro dalam kandang dan makro luar kandang sapi perah, suhu dry sebesar 28,27⁰C, suhu wet 25,99⁰C serta kelembaban 75,37 % yang sudah sesuai untuk pemeliharaan ternak sapi perah.

5.1. Saran
Praktikum Produksi Ternak Perah sebaiknya menggunakan objek pengamatan ambing sapi dara dan sapi laktasi asli, bukan awetan, sehingga praktikan bisa lebih jelas dan faham perbedaan antara ambing sapi dara dan ambing sapi laktasi. Peralatan dalam kandang demi menunjang lancarnya praktikum juga harus lebih diperhatikan, apalagi keberadaan ternak, itu sangat dibutuhkan demi menunjang Praktikum Produksi Ternak Perah.
DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Bandini, Y. 2003. Sapi Bali. Penebar Swadaya, Jakarta.

Blakely, J., dan Bade, D. H. 1994. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan Oleh B. Srigandono).

Frandson. R. D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Pres, Yogjakarta.

Kesmavet FH UGM. 2010. Fisiologi Sifat Fisik Dan Kimia Susu. (Online) (Http:://Fh.Ugm.Ac.Id/Fisiologi-Sifat-Fisik-Dan-Kimia-Susu.Html) Diunduh Tanggal 20 November 2011

Murtidjo, A. 1990. Sapi Potong. Kanisius, Yogyakarta.

Prihadi, S. 1997. Dasar Ilmu Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM. Jogjakarta.

Santosa, U. 2007. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, S. 1995. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudono, A., R. F. Rosdiana dan B. S. Setiawan. 2005. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Sugeng, Y. B. 1998. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

Syarief, M. Z. dan Sumoprastowo. 1990. Teknik Pemeliharaan Sapi Perah. Kanisius, Yogyakarta.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Williamson, G., dan Payne, W. J. A. 1993. Pengantar Peternakan Di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perbedaan Ambing Sapi Dara dan Sapi Laktasi

Tabel 1. Perbedaan Ambing Sapi Dara dan Sapi Laktasi
Pembeda (cm) Sapi Dara Sapi Laktasi
LSL P : 28 , L : 25 P : 21 , L : 19
LSM 28 21
FM 19 1
Panjang Puting
• Kanan depan
• Kanan belakang
• Kiri depan
• Kiri belakang
5
5
4,5
4,5
4
3,5
4
3,5
Jarak Puting
• Depan kanan-kiri
• Belakang kanan-kiri
• Kanan depan-belakang
• Kiri depan – belakang
10

5

3

3
10

5

3

3
Jarak antar puting
• Depan
• Belakang
5,5
5
5
6
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.

Lampiran 2. Anatomi Ambing

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.
Ilustrasi 1. Anatomi Ambing Sapi Dara

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.
Ilustrasi 2. Anatomi Ambing Sapi Laktasi

Keterangan :

1. LSL (Ligamentum Suspensorium Lateralis)
2. LSM (Ligamentum Suspensorium Medialis)
3. FM (Fine Membrane)

Lampiran 3. Ukuran kandang

Tabel 2. Ukuran kandang
No Pengamatan Panjang (m) Lebar (m) Tinggi (m) Jumlah (buah)
1 Kandang secara umum 12,6 8,07 3,2 4
2 Selokan 0,923 0,27 0,04 3
3 Tempat pakan 0,4 0,894 0,5 2
4 Tempat sapi 1,75 1,07 0,65 14
5 Kamar susu 2,95 3
6 Gudang penyimpanan ransum 2,95 3 3,2 1
7 Tempat pengambilan air 0,54 1,50 0,34 1
8 Ventilasi kandang 8,94 1,57 2
9 Tempat air minum 1,50 0,54 0,34 1
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.

Lampiran 4 . Pengamatan Iklim

Tabel 3. Suhu dan Kelembaban
Mikro (Dalam Kandang) Mikro (Luar Kandang)
Waktu Suhu (⁰C) Kelembaban (Rh) Suhu (⁰C) Kelembaban
(Rh)
Dry Wet Dry Wet
06.00 25,5 24 88 27 26 92
12.00 34 28 61 34,5 30 74
18.00 29 25,5 68 27 27 32
00.00 25 24 92 24 23,5 96
Total 113,5 101,5 309 112,5 106,5 294
Rata-rata 28,37 25,37 77,25 28,12 26,62 73,5
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.

Tabel 4. Radiasi Sinar Matahari
Tanggal Waktu Mikro
(Dalam Kandang) Mikro
(Luar Kandang)
17 November 2011 06.00 381 392
12.00 432 489
18.00 402 397
24.00 381 392
Total 1596 1670
Rata-rata 399 417,5
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.

Lampiran 5. Perhitungan Radiasi Matahari

Rumus :
R = δ T4
Keterangan :
R : Radiasi matahari (Kcal m-2 jam-1)
δ : Konstanta Stefan Boltzman (4,903 x 10-8)
T4 : Suhu mutlak dalam derajat Kelvin (273 + ⁰C)

- Mikro dalam kandang – Mikro luar kandang

R6 = δ T64
= 4,903 x 10-8 x (297)4
= 381 Kcal m-2 jam-1

R12 = δ T124
= 4,903 x 10-8 x (306,5)4
= 432 Kcal m-2 jam-1

R18 = δ T64
= 4,903 x 10-8 x (301)4
= 402 Kcal m-2 jam-1

R24 = δ T64
= 4,903 x 10-8 x (297)4
= 381 Kcal m-2 jam-1

Lampiran 6. Perkandangan

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.
Ilustrasi 3. Perkandangan

Keterangan :
1. Kandang sapi perah
2. Gudang pakan
3. Kandang sapi potong
4. Kandang domba

Lampiran 6. Perkandangan (Lanjutan)

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.
Ilustrasi 4. Kandang Tampak Depan

Keterangan :
1. Atap
2. Tembok
3. Kamar susu
4. Gudang pakan
5. Kamar ternak

Lampiran 6. Perkandangan (Lanjutan)

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.
Ilustrasi 5. Kandang Tampak Samping

Keterangan :
1. Atap
2. Tembok
3. Palung
4. Ventilasi
5. Tempat air

Lampiran 6. Perkandangan (Lanjutan)

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.
Ilustrasi 6. Kandang Tampak Atas

Keterangan :
1. Kamar susu
2. Gudang pakan
3. Selokan
4. Pembatas kamar sapi
5. Palung
6. Tempat air

Lampiran 6. Perkandangan (Lanjutan)

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2011.
Ilustrasi 5. Kandang Tampak Belakang

Keterangan :
1. Atap
2. Tembok
3. Kamar susu
4. Gudang pakan
5. Kamar ternak
6. Tempat penampungan air

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s