Analisis Proksimat

BAB I

PENDAHULUAN

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan maupun untuk mempertahankan hidupnya. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan, agar ternak dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. Pakan yang diberikan pada ternak harus mengandung nutrien yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Analisis proksimat merupakan salah satu cara untuk mengetahui kandungan-kandungan nutrien yang ada di dalam bahan pakan. Analisis proksimat digunakan untuk mengetahui kandungan air, abu, serat kasar, lemak kasar, protein kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) yang terkandung dalam bahan pakan.
Tujuan dari Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum adalah agar mahasiswa terampil dalam melakukan analisis proksimat. Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat melakukan analisis bahan pakan isi rumen kambing menggunakan metode analisis proksimat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Analisis Proksimat

Analisis proksimat merupakan metode yang tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci, namun berupa nilai perkiraan (Soejono, 1990). Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stockman dari Weende Experiment Station di Jerman pada tahun 1865 (Tillman et al., 1991).
Analisis makronutrien analisis proksimat meliputi kadar abu total, air total, lemak total, protein total dan karbohidrat total, sedangkan untuk kandungan mikronutrien difokuskan pada provitamin A (β-karoten) (Sudarmadji et al., 1996). Analisis vitamin A dan provitamin A secara kimia dalam buah-buahan dan produk hasil olahan dapat ditentukan dengan berbagai metode diantaranya kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom absorpsi, kromatografi cair kinerja tinggi, kolorimetri dan spektrofotometri sinar tampak (Winarno, 1997).

2.1.1. Air

Banyaknya kadar air dalam suatu bahan pakan dapat diketahui bila bahan pakan tersebut dipanaskan pada suhu 105⁰C. Bahan kering dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persentase kadar air suatu bahan pakan yang dipanaskan hingga ukurannya tetap (Anggorodi, 1994). Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis). Metode pengeringan melalui oven sangat memuaskan untuk sebagian besar makanan, akan tetapi beberapa makanan seperti silase, banyak sekali bahan-bahan atsiri (bahan yang mudah terbang) yang bisa hilang pada pemanasan tersebut (Winarno, 1997).

2.1.2. Abu

Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Soejono, 1990). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 400-600oC sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Namun, abu juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan inorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 1994).

2.1.3. Serat Kasar

Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin, dan hemiselulosa tergantung pada species dan fase pertumbuhan bahan tanaman (Anggorodi, 1994). Pakan hijauan merupakan sumber serta kasar yang dapat merangsang pertumbuhan alat-alat pencernaan pada ternak yang sedang tumbuh. Tingginya kadar serat kasar dapat menurunkan daya rombak mikroba rumen (Farida, 1998).
Cairan retikulorumen mengandung mikroorganisme, sehingga ternak ruminasia mampu mencerna hijauan termasuk rumput-rumputan yang umumnya mengandung selulosa yang tinggi (Tillman et al., 1991). Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang terlarut dalam asam dengan pendidihan dengan asam sulfat bahan yang larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut adalah serat kasar (Soejono, 1990).

2.1.4. Lemak Kasar

Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet (Soejono, 1990). Lemak yang didapatkan dari analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter juga mengandung waks (lilin), asam organik, alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1994). Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut. Fungsi dari n heksan adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih (Mahmudi, 1997).

2.1.5. Protein Kasar

Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan kemudian dikali dengan faktor protein 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, dianggap bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein, kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 1990). Menurut Siregar (1994) senyawa-senyawa non protein nitrogen dapat diubah menjadi protein oleh mikrobia, sehingga kandungan protein pakan dapat meningkat dari kadar awalnya. Sintesis protein dalam rumen tergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ternak. Jika konsumsi N makanan rendah, maka N yang dihasilkan dalam rumen juga rendah. Jika nilai hayati protein dari makanan sangat tinggi maka ada kemungkinan protein tersebut didegradasi di dalam rumen menjadi protein berkualitas rendah.

2.1.6. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)

Kandungan BETN suatu bahan pakan sangat tergantung pada komponen lainnya, seperti abu, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar. Jika jumlah abu, protein kasar, esktrak eter dan serat kasar dikurangi dari 100, perbedaan itu disebut bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (Soejono, 1990). BETN merupakan karbohidrat yang dapat larut meliputi monosakarida, disakarida dan polisakarida yang mudah larut dalam larutan asam dan basa serta memiliki daya cerna yang tinggi (Anggorodi, 1994).

2.2. Isi Rumen Kambing

Pakan adalah campuran beberapa bahan pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang belum lengkapi, yang disusun secara khusus untuk dapat dimanfaatkan oleh ternak (Soejono, 1994). Bahan pakan merupakan segala sesuatu yang dapat diberikan kepada ternak baik berupa bahan organik maupun bahan anorganik yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak (Hartadi et al., 1997).
Isi rumen merupakan limbah pemotongan ternak ruminansia yang berasal dari pakan yang dikonsumsi dan belum menjadi feses yang terdapat di dalam rumen (Murni et al., 2008). Nutrisi yang terkandung dalam isi rumen antara lain serat kasar, karbohidrat, dan protein kasar yang merupakan media bagi kehidupan mikroba. Pemanfaatan bolus yang merupakan limbah sebagai bahan pakan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas ternak ruminansia. Isi rumen dapat meningkatkan kadar protein kasar dan menurunkan kadar serat kasar produk pemeraman (Sutrisno et al., 1992).
Kandungan nutrien isi rumen dipengaruhi oleh macam makanan, mikroba rumen, dan lama makanan dalam rumen. Bolus mengandung serat kasar yang tinggi, protein, mineral dan vitamin. Kandungan nutriennya adalah 10,90% air, 25,07% abu (Sutrisno et al., 1992), 10–27,6% bahan kering, 8,42–25% protein kasar, 18,26–38% serat kasar, 2–8,91% lemak kasar dan 30,2–63,17% BETN (Yudijeliman, 2008).

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum dengan materi Analisis Proksimat Bahan Pakan dengan sampel isi rumen kambing dilaksanakan pada hari Senin tanggal 28 November 2010 dari pukul 05.30-21.00 WIB dan hari Selasa tanggal 29 November 2010 dari pukul 05.30-22.30 WIB di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi

Materi yang digunakan adalah tepung isi rumen kambing, aquades, H2SO4 0,3 N, NaOH 1,5 N, aseton, air panas, n heksan, katalisator (selenium), H2SO4 pekat, H3BO4 4%, indikator (MR + MB), NaOH 45%, HCl 0,1 N. Alat yang digunakan adalah botol timbang dan timbangan analitis yang digunakan untuk menimbang sampel, oven untuk mensterilisasikan alat dan bahan, eksikator untuk mensterilisasikan alat dan bahan, penjepit untuk membantu dalam mengambil sampel, tanur listrik untuk analisis kadar abu, crusible porselin untuk tempat sampel, labu erlenmeyer untuk menempatkan larutan, becker glass untuk menempatkan larutan, gelas ukur sebagai pengukur larutan yang akan digunakan, corong buchner untuk alat bantu memasukkan sampel cair, kertas saring bebas abu untuk menyaring sampel pada analisis kadar serat kasar, tabung soxhlet untuk wadah sampel analisis kadar lemak kasar, pendingin tegak untuk analisis lemak kasar, labu kjeldahl untuk analisis protein kasar, buret untuk alat titrasi, kompor listrik untuk mendidihkan sampel pada analisis kadar lemak kasar, alat-alat destilasi sebagai destilator, lemari asam untuk analisis protein kasar, serta kertas minyak untuk menempatkan sampel.

3.2. Metode
3.2.1. Analisis Kadar Air
Langkah pertama adalah mencuci botol timbang, kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 105oC sampai 110oC selama 1 jam, memasukkan dalam eksikator selama 15 menit, kemudian menimbang botol timbang (x gram). Menimbang sejumlah sampel, misal beratnya y gram. Memasukkan sampel ke dalam botol timbang mengovennya selama 4-6 jam dengan suhu 105oC-110oC, selanjutnya adalah memasukkan sampel kedalam eksikator selama 15 menit. Setelah itu menimbang botol sampel, misal beratnya z gram. Mengulang pengeringan 3 kali masing-masing 1 jam sampai berat sampel konstan (selisih maksimal 0,2 mg). Menghitung kadar air dengan rumus :
Kadar air = x 100 %
Keterangan :

x = berat botol timbang
y = berat sampel
z = berat botol timbang dan sampel setelah dioven

Analisis Kadar Abu

Langkah pertama dalam analisis kadar abu ini adalah mencuci crusible porselin dengan air sampai bersih, kemudian mengeringkannya dalam oven pada suhu 105oC-110oC selama 1 jam dan mendinginkan dalam eksikator selama 15 menit, kemudian menimbangnya, misal beratnya x gram. Menimbang sejumlah sampel, misal beratnya y gram, penimbangan dengan menggunakan crusible porselin sebagai tempatnya. Setelah itu memijarkan sampel dan cawan dalam tanur listrik pada suhu 400oC-600oC selama 4-6 jam, sampai menjadi abu putih semua. Mengangkat crusible porselin dari tanur listrik dan mendinginkannya sampai suhu 120oC, kemudian memasukkannya dalam eksikator selama 15 menit. Setelah itu menimbang crusible porselin, misal beratnya z gram, kemudian menghitung kadar abu dengan rumus :
Kadar abu = x 100 %
Keterangan:
z = berat crusible porselin dan sampel setelah ditanur
y = berat sampel
x = berat crusible porselin setelah dioven

Analisis Kadar Serat Kasar

Langkah dalam analisis kadar serat kasar adalah mempersiapkan semua alat-alat dan pereaksi yang akan digunakan. Mencuci semua alat dan memasukkannya ke dalam oven dengan suhu 105oC–110oC selama 1 jam dan memasukkanya ke dalam eksikator selama 15 menit. Menimbang sampel, misal beratnya x gram dan memasukkannya ke dalam becker glass. Memasukkan H2SO4 0,3 N 50 ml dalam labu erlenmeyer yang berisi sampel tersebut dan memasaknya hingga mendidih selama 30 menit. Mendinginkan sampel tersebut sebentar dan menambahkan dengan NaOH 1,5 N 25 ml serta memasaknya sampai mendidih selama 30 menit.
Menimbang crusible porselin dan kertas saring, misal berat kertas saring a gram, memasukkan ke dalam oven selama 1 jam dengan suhu 105oC–110oC dan memasukkan di dalam eksikator selama 15 menit. Cairan yang berisi sampel disaring dengan menggunakan crusible porselin dan kertas saring yang dipasang corong bunchner. Mencuci sampel berturut-turut dengan 50 ml air panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50 ml air panas dan 25 ml aseton. Memasukkan crusible porselin dan kertas saring beserta isinya pada suhu 105oC-110oC selama 1 jam dan memasukkan ke eksikator selama 15 menit. Selanjutnya menimbang crusible porselin dan isinya, misal beratnya y gram. Kemudian memijarkan crusible porselin dan isinya dalam tanur pada suhu 400oC-600oC selama 4-6 jam sampai menjadi abu putih dan mendinginkannya dalam eksikator selama 15 menit. Setelah itu menimbangnya misal beratnya z gram. Penghitungan kadar serat kasar dengan rumus :
Kadar serat kasar = “y – z – a” /”x” x 100 %
Keterangan :
a = kertas saring
x = berat sampel
y = berat sampel dan crusible porselin setelah dioven
z = berat sampel, crusible porselin dan kertas saring setelah ditanur

Analisis Kadar Lemak Kasar
Langkah pertama dalam analisis kadar lemak adalah mencuci dan memasukkan semua alat dalam oven pada suhu 105oC-110oC selama 1 jam, kemudian memasukkannya ke dalam eksikator selama 15 menit dan menimbang, misal beratnya a gram. Menimbang sampel dan kertas, misal beratnya b gram. berat sampel adalah (b-a) = x gram.
Membungkus sampel dengan kertas saring dan memasukkan ke dalam oven selama 4-6 jam pada suhu 105oC-110oC dan eksikator selama 15 menit, serta menimbang kertas saring misal beratnya y gram. Memasukkan sampel dan kertas saring dalam alat soxhlet, kemudian menambahkan n heksan serta memasang alat pendingin tegak yang dialiri air dingin. Melakukan penyaringan sampai 8-10 kali sirkulasi, sampel dikeluarkan dan diangin-anginkan. memasukkannya dalam oven dengan suhu 105oC -110oC selama 1 jam, memasukkan ke eksikator selama 15 menit. Menimbang kertas saring yang berisi sampel tersebut dengan menggunakan timbangan analitis, misal beratnya z gram. Perhitungan untuk analisis kadar lemak adalah sebagai berikut:
Kadar lemak = “x – y” /”x – z” x 100 %

Keterangan :

x = berat kertas saring dan sampel sebelum diekstraksi
y = berat kertas saring dan sampel setelah diekstraksi
z = berat kertas saring

Analisis Kadar Protein Kasar

Metode yang digunakan dalam analisis kadar protein ada 3 yaitu proses destruksi yang merupakan terjadinya proses oksidasi perubahan N atau protein menjadi (NH4)2 SO4, proses destilasi yaitu pemecahan (NH4)2SO4 yang dilakukan oleh basa kuat, yaitu NaOH serta proses titrasi, yaitu terjadinya reaksi asam basa.
Mencuci labu destruksi, kemudian memasukkannya dalam oven pada suhu 105oC-110oC selama 1 jam dan memasukkan labu destruksi ke eksikator selama 15 menit. Menimbang sampel, misal beratnya x gram, kemudian memasukannya ke dalam labu destruksi. Menambahkan katalis yang terdiri dari selenium 0,3gr dan menambahkan H2SO4 pekat 25 ml. Memanaskan semua bahan yang ada dalam labu destruksi tersebut secara perlahan-lahan dalam lemari asam, dimana mula-mula dengan nyala kecil sama tidak berasap atau tidak berbuih lagi, dengan nyala diperbesar. Melakukan pendidihan (destruksi) bahan dalam labu destruksi sampai terjadi perubahan warna larutan menjadi hijau jernih atau kuning jernih. Perubahan warna yang terjadi secara bertahap adalah hitam, merah, hijau keruh dan kemudian hijau jernih.
Proses selanjutnya adalah proses destilasi yaitu mendinginkan labu destruksi tersebut lalu sampel dimasukkan labu destilasi yang telah dipasang pada rangkaian alat destilasi. Menggojog labu tersebut membentuk angka delapan dengan menambahkan 50 ml aquades dan 40 ml NaOH 45%. Menampung hasil sulingan dalam erlemeyer yang telah berisi asam borat (H3BO4) sebanyak 20 ml dan menambahkan indikator MR + MB sebanyak 1 tetes sampai warna berubah dari ungu menjadi hijau jernih. Selanjutnya melakukan titrasi dengan menggunakan HCl 0,1 N, hingga membentuk warna ungu.
Membuat larutan blangko yaitu memasukkan aquades 50 ml dan 40 ml NaOH 45% kedalam labu destilasi. Melakukan destilasi dan menangkapnya dengan campuran H3BO4 sebanyak 20 ml dan indikator MR + MB sebanyak 1 tetes sampai penangkap tersebut berubah warna dari ungu menjadi hijau. Mentitrasi dengan menggunakan HCl 0,1 N sampai membentuk warna unggu kembali, kemudian menghitung protein kasar dengan rumus :
Kadar protein = (“titran sampel – blangko” )” x N HCl x 0,014 x 6,25″ /”sampel” x 100%
Keterangan :
0,014 = 1 ml alkali ekuivalen dengan 1 ml larutan N yang mengandung 0,014 g N
6,25 = Protein mengandung 16 % N
N HCl = Normalitas HCl (1 N)

Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)

Menghitung kadar bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) dengan rumus :
BETN = [100 – (kadar abu + kadar SK + kadar LK + kadar PK)] %

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Berdasarkan hasil praktikum analisis proksimat dengan sampel tepung isi rumen kambing, data tersebut dapat di lihat pada tabel 1 :

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Tepung Isi Rumen Kambing

Pengamatan Bahan kering (%)a Literatur (%)
Air 40,14 10,90c
Abu 25,94 25,07c
Serat kasar 30,72 18,26-38 b
Lemak kasar 6,61 2-8,91 b
Protein kasar 13,59 8,42-25 b
BETN 23,14 30,2-63,17 b
Sumber : a = Data Primer Praktikum Bahan Pakan Formulasi Ransum, 2011.
b = Yudijeliman (2008).
c = Sutrisno et al. (1992).

Pembahasan

Kadar Air

Berdasarkan hasil analisis, kadar air tepung isi rumen kambing adalah 40,14 %. Hasil analisis ini tidak sesuai dengan pendapat Sutrisno et al., (1992) yaitu isi rumen kambing mengandung 10,90% air. Hasil analisis yang lebih tinggi dikarenakan kandungan nutrien tepung isi rumen kambing dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi oleh ternak. Hal ini didukung oleh pendapat Sutrisno et al., (1992) yang menyatakan bahwa kandungan nutrien isi rumen dipengaruhi oleh macam makanan, mikroba rumen, dan lama makanan dalam rumen.

Kadar Abu

Kadar abu tepung isi rumen kambing adalah 25,94%. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sutrisno et al., (1992) yaitu isi rumen kambing mengandung 25,07% abu. Hasil analisis yang lebih tinggi dari standar dikarenakan kandungan nutrien tepung isi rumen kambing dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi oleh ternak. Hal ini didukung oleh pendapat Sutrisno et al., (1992) yang menyatakan bahwa kandungan nutrien isi rumen dipengaruhi oleh macam makanan, mikroba rumen, dan lama makanan dalam rumen. Sehingga kadar abu yang merupakan senyawa-senyawa anorganik dan mineral dalam tepung isi rumen kambing tinggi.

Kadar Serat Kasar

Berdasarkan hasil analisis, kadar serat kasar isi rumen kambing tinggi yaitu 30,72%. Hal ini sesuai dengan pendapat Yudijeliman (2008) yang menyatakan bahwa isi rumen kambing mengandung 18,26-38% serat kasar. Tingginya kadar serat kasar pada isi rumen kambing dikarenakan isi rumen kambing mengkonsumsi pakan berupa hijauan. Ternak ruminansia dapat mengonsumsi pakan dengan kadar serat tinggi dikarenakan dalam rumen terdapat mikroorganisme pencerna serat kasar. Menurut Tillman et al. (1991) menambahkan bahwa cairan retikulorumen mengandung mikroorganisme, sehingga ternak ruminasia mampu mencerna hijauan termasuk rumput-rumputan yang umumnya mengandung selulosa yang tinggi.

Kadar Lemak Kasar

Berdasarkan hasil analisis, kadar lemak kasar isi rumen kambing adalah 6,61%. Hal ini sesuai dengan pendapat Yudijeliman (2008) yang menyatakan bahwa isi rumen kambing mengandung 2-8,91% lemak kasar. Kadar lemak kasar yang cukup tinggi dikarenakan hasil yang diperoleh bukanlah kadar lemak sesungguhnya melainkan campuran dari berbagai zat, sehingga disebut lemak kasar. Hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1994) yaitu selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter juga mengandung waks (lilin), asam organik, alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan lemak tidak sepenuhnya benar. Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut. Hal ini sesuai dengan pendapat Mahmudi (1997) yaitu fungsi dari n heksan adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih.

Kadar Protein Kasar

Berdasarkan hasil analisis, kadar protein kasar tepung isi rumen kambing termasuk dalam standar rendah yaitu 13,59 %. Hal ini sesuai dengan pendapat Yudijeliman (2008) yang menyatakan bahwa tepung isi rumen kambing mengandung 8,42-25% protein kasar. Kadar protein kasar pada tepung isi rumen kambing ynag cukup ini dikarenakan nutrisi bahan pakan yang dikonsumsi ternak cukup dan mikrobia dalam rumen dapat mengubah senyawa non protein nitrogen (NPN) menjadi protein. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1994) yang menyatakan bahwa senyawa-senyawa non protein nitrogen dapat diubah menjadi protein oleh mikrobia. Sintesis protein dalam rumen tergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ternak.

Kadar BETN

Berdasarkan hasil perhitungan, isi rumen kambing mengandung 23,14% BETN. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Yudijeliman (2008) yang menyatakan bahwa isi rumen kambing mengandung 30,2-63,1% BETN. Kadar BETN yang rendah dipengaruhi oleh kadar nutrien lainnya yang cukup tinggi. Hal ini didukung oleh pendapat Soejono (1990) yaitu kandungan BETN dipengaruhi oleh kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar dikurangi dari 100%.
Hasil analisis yang lebih rendah dari standar juga dikarenakan bahan pakan yang dikonsumsi oleh ternak. Hal ini didukung oleh pendapat Sutrisno et al., (1992) yang menyatakan bahwa kandungan nutrien isi rumen dipengaruhi oleh macam makanan, mikroba rumen, dan lama makanan dalam rumen. Sehingga kadar BETN yang merupakan senyawa-senyawa karbohidrat yang memiliki daya cerna tinggi dalam tepung isi rumen kambing rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1994), yaitu BETN merupakan karbohidrat yang mudah larut dalam larutan asam dan basa serta memiliki daya cerna yang tinggi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Tepung isi rumen kambing merupakan bahan pakan inkonvensional. Jika dilihat dari kadar air yang tinggi dalam tepung isi rumen kambing, kandungan nutrien lainnya seperti abu, serat kasar, lemak kasar, protein kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) memiliki kadar yang rendah. Kandungan nutrien isi rumen kambing cukup tinggi dipengaruhi oleh kandungan nutrien dalam pakan yang dikonsumsi. Kandungan nutrien yang cukup tinggi dalam tepung isi rumen kambing membuktikan bahwa bahan pakan ini memiliki potensi yang cukup besar untuk dijadikan bahan pakan ternak.

5.2. Saran
Pelaksanaan Praktikum Bahan Pakan Formulasi Ransum berjalan dengan lancar, namun kurangnya ketelitian menyebabkan waktu yang digunakan untuk menganalisis komposisi bahan kimia bahan pakan terlalu banyak. Harapan kedepannya, praktikum dilaksanakan lebih teliti terutama pada analisis kadar protein kasar yang prosesnya cukup panjang.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Farida, W. R. 1998. Pengimbuhan Konsentrat dalam Ransum Penggemukan Kambing Muda di Wamena, Irian Jaya. Media Veteriner 5 (2) : 21-26

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, dan A. D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Mahmudi, M. 1997. Penurunan Kadar Limbah Sintesis Asam Fosfat Menggunakan Cara Ekstraksi Cair-Cair dengan Solven Campuran Isopropanol dan n-Heksan. Semarang: Universitas Diponegoro.

Murni, R., Suparjo, Akmal, dan B. L. Ginting. 2008. Buku Ajar Teknologi Pemanfaatan Limbah untuk Pakan. Laboratorium Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

Siregar, S. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Soejono, M. 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Soejono, M. 1994. Pengenalan dan Pengawasan Kualitas Bahan Baku dan Pakan. Ditjen Peternakan. Dit. Bina Produksi, Jakarta.

Sudarmaji, Slamet, Haryono, dan B. Suhadi. 1996. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada. Liberty, Yogyakarta.

Sutrisno, C. I., G. Pratiwihardjo, Nurwantoro, S. Mukodiningsih, dan B. Sulistyanto. 1992. Perbandingan Kelompok-Kelompok Mikrobia dalam Bolus Sapi dan Kambing. Bull. Sintesis. 4 (2) : 3-6.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Yudijeliman. 2008. Pengaruh Berbagai Tingkat Isi Rumen Sapi Potong dalam Konsentrat Terhadap Performa Produksi Kambing Peranakan Ettawah (PE). http://2.bp.blogspot.com

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan Kadar Air

No Kertas I Kertas II Botol timbang Sampel Oven
——————————————– (g) ———————————————–
1 0,3467 0,3467 12,9924 1,0027 13,8614
2 0,3962 0,3981 12,9773 1,0007 13,8465
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.

Berat sampel

Sampel = (sampel + B. kertas I) – B. kertas II
Sampel 1 = (1,0027 + 0,3467) – 0,3467
= 1,0027 g
Sampel 2 = (1,0026 + 0,3962) – 0,3981
= 1,0007 g

Berat segar = 1000 g
Berat kering udara = 500 g
Berat kering = 448 g
KA I = “1000 – 500″ /”1000″ x 100 %
= 50 %

BK I = (100-50) %
= 50 %

KA II = “500 – 448″ /”500″ x 100 %
= 10,4 %

BK II = (100-10,4) %
= 89,6 %

Lampiran 1. Perhitungan Kadar Air (Lanjutan)

KA total = “(BK II x B.kering udara)” /”B.basah”
= “(89,6 x 448)” /”1000″
= 40,14 %
BK total = “100 – ” “(BK II x B.kering udara)” /”B.basah”
= “100 – ” “(89,6 x 448)” /”1000″
= 100 – 40,14
= 59,86 %

Lampiran 2. Perhitungan Kadar Abu

No Kertas minyak Sampel Crusible porselin Sampel + crusible porselin setelah ditanur
—————————————— (g) ————————————————-
1 0,3341 1,0193 13,0179 13,1743
2 0,3419 1,0221 12,4539 12,6147
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.

Kadar Abu = “(sampel + crusible porselin ditanur) – crusible porselin ” /”b.sampel ” ” ” x 100 %

Kadar Abu 1 = “13,1743 – 13,0179″ /”1,0193″ x 100 %
= “0,1564” /”1,0193″ x 100 %
= 15,34 %

Kadar Abu 2 = “12,6147 – 12,4539″ /”1,0221″ x 100 %
= “0,1608” /”1,0221″ x 100 %
= 15,73 %

Kadar Abu = ” (15,34 + 15,73) %” /”2″
= 15,53 %

% BK = ” 100″ /”BK” x K Abu
= ” 100″ /”59,86″ x 15,53
= 25,94 %

Lampiran 3. Perhitungan Kadar Serat Kasar

No Sampel Kertas sampel Kertas sisa Crusible porselin Oven Kertas saring Tanur
———————————————- (g) ———————————————
1 1,0007 0,3380 0,3379 17,8012 18,0140 1,0261 16,8123
2 1,0061 0,3364 0,3364 0,3364 19,7284 1,0416 18,4931
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.

Kadar SK = “(setelah oven – setelah tanur) – kertas saring ” /” sampel awal” x 100 %

Kadar SK 1 = “(18,0140 – 16,8123) – 1,0261 ” /”1,0007″ x 100 %
= “0,1756” /”1,0007″ x 100 %
= 17,54 %

Kadar SK 2 = “(19,7284 – 18,4931) – 1,0416″ /”1,0061″ x 100 %
= “0,1937” /”1,0061″ x 100 %
= 19,25 %

Kadar SK = ” (17,54 + 19,25) %” /”2″
= 18,39 %
% BK = ” 100″ /”BK” x Kadar SK
= ” 100″ /”59,86″ x 18,39
= 30,72 %

Lampiran 4. Perhitungan Kadar Lemak Kasar

No Sampel Kertas saring Sebelum ekstraksi Setelah ekstraksi
——————————————— (g) ———————————————-
1 1,0020 0,8987 1,8057 1,7331
2 1,0030 0,9476 1,8381 1,7916
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.

Kadar LK = “sebelum ekstraksi – setelah ekstraksi ” /”sebelum ekstraksi – kertas saring ” x 100 %

Kadar LK 1 = “1,8057 – 1,7331 ” /”1,8057 – 0,8987″ x 100 %
= “0,0726” /”0,907″ x 100 %
= 8,00 %

Kadar LK 2 = “1,8381 – 1,7916″ /”1,8381 – 0,9476″ x 100 %
= “0,0465” /”0,8905″ x 100 %
= 5,22 %

Kadar LK = ” (8,00 + 5,22) %” /”2″
= 6,61 %

Lampiran 5. Perhitungan Kadar Protein Kasar

No Kertas I Sampel Kertas II Titran sampel Blangko
———————- (g) —————————- ————— (ml) —————–
1 0,3639 1,0011 0,3651 10,3 0,85
2 0,3500 1,0074 0,3524 10,1 0,85
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.

Kadar PK = “(titran sampel – blangko) x N HCl x 0,014 x 6,25 ” /”b.sampel ” x 100 %

PK 1 = “(10,3 – 0,85) x 0,1 x 0,014 x 6,25″ /”1,0011″ x 100 %
= “0,0826” /”1,0011″ x 100 %
= 8,25 %

PK 2 = “(10,1 – 0,85) x 0,1 x 0,014 x 6,25″ /”1,0074″ x 100 %
= “0,0809” /”1,0074″ x 100 %
= 8,03 %

PK = ” (8,25 + 8,03) %” /”2″
= 8,14 %
% BK = ” 100″ /”BK” x Kadar PK
= ” 100″ /”59,86″ x 8,14 %
= 13,59 %

Lampiran 6. Perhitungan Kadar BETN

BETN (% BK) = [100 – (kadar abu + kadar SK + kadar LK + kadar PK)] %
= [100 – (25,94 + 30,72 + 6,61 + 13,59)] %
= [100 – 76,86] %
= 23,14 %

About these ads

4 thoughts on “Analisis Proksimat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s