apa kabar Minggumu ?

Minggu hampir menjelang siang, apa kabar Minggumu?
di sini kami sekeluarga sedang berlibur di rumah. ya, kau tahu kami tak begitu suka plesir kesana-kemari.
entah mengapa aku sedang senang menulis. ya, walau bukan tulisan berarti.

GALAU? mungkin.
atau
aku tak tahu pada siapa lagi aku mengadu.
ya. pasti pada Tuhan aku bisa.
dan entah mengapa aku lebih suka begini.

kau tahu? aku sedang mendengarkan berita tentang pernikahan yang hanya diakui oleh satu pihak.
pasti kau tahu kan? atau kau menutup diri dari serbuan berita kusir itu?

kau tahu? aku sangaaaat ingin pergi berbelanja, atau menghabiskan waktu bersama teman-temanku.
ya, kau juga pasti tahu aku tidak memiliki sumber uang lagi. beasiswaku sudah kadaluarsa.

oh iya, apa kau masih mau tahu?

kau pasti tahu

kau pasti tahu aku mulai menulis karenamu. kau juga pasti tahu aku tak pandai merangkai kata
tentu kau ingat kau selalu mengirimkan sepucuk puisimu. tidak, kalau aku tidak salah lebih dari lima setiap harinya.
mungkin itu juga kau kirimkah kepada teman-temanmu yang lain. walaupun saat itu kita lebih dari teman.
tapi tak mengapa. saat itu ponselku lebih hidup, pulsa lebih terpakai, dan charger lebih sering dicolokkan.
kau pasti tahu aku selalu memperbincangkanmu dengan Tuhan. ya, saat itu kau sedang menyelesaikan stratamu
apakah begitu banyaknya kau tahu tentang aku? sepertinya iya
apakah aku juga banyak tahu tentang kau? tentu saja iya. setelah kita tak bersama lagi.

oh iya, mungkin yang tidak kau tahu. aku lebih sering mengoperasikan kelenjar air mataku

silindris, miris di malam gerimis

aku tak perlu malu meluapkannya.
mendengar Indonesia Pusaka saja aku menitikan air mata.

kau tahu mataku ini silindris, miris di malam gerimis.
tentu saja tangisku bisa membersihkan bola mataku.
tak masalah akan bertambah merah atau mataku akan nampak lenyap.
yap! kau tahu aku bermata sipit.

kau tahu? kelenjar air mataku selalu mudah meledak karenamu.
tapi apakah kau tahu juga? siapa yang selalu ku ingat dalam tangisku?
jelas itu bukan kau.

noon-Run

waktu menunjukkan pukul 16:44 di tab dan aku tak kunjung menghampiri kamar mandi untuk sekedar menelisiknya.
apa kau tahu? sekarang ini Semarang menjadi semakin garang gersang kerontang.
atmosfer rumah yang dulu sejuk dan senang kau habiskan tidur siangmu di sini sekarang bak gedung sauna.
pikiran yang melayang melantur memikirkan skripsi dan artikel ilmiah menambah panasnya derajat kepala ini. rambutku pun rontok sebagai efek sampingnya.
tak usah kau risau kapan aku akan melaksanakan ujian terakhirku di strata ini, aku sudah berjanji untuk Oktober nanti. kau pun begitu. masih ingatkah?

kawanku sudah menempuh ujian akhir strata mereka, dan seperti yang kau lihat pada postingan instagramku. aku selalu menyempatkan diri hadir di tengah-tengah mereka.
iri? pasti. tapi aku ikhlas menjalaninya. aku tidak mengalami tekanan batin.
selalu ada kawan yang meluangkan waktunya untukku juga. mungkin akan ku kenalkan padamu jika kau singgah ke Semarang.

aah, kelenjar air mata ini meraung…

seperti yang pernah ku ceritakan, malam mingguku selalu ku habiskan di tempat Ponco.
entah mengapa aku mulai malas menghabiskan waktuku mempelajari setumpuk teka-teki soal anak-anak SMP.

Timur. ya, sepertinya aku ingin plesir kesana.
dan pasti jarak antara kita semakin eksponensial.

satu hal yang pasti, kita masih sama seperti dulu.

contoh Usulan Penelitian (UP)

berikut contoh Usulan Penelitian (UP) berdasarkan panduan Karya Tulis Ilmiah (KTI) di fakultas saya . semoga bermanfaat :)

JUDUL : KECERNAAN DAN HASIL FERMENTASI RUMINAL IN VITRO RUMPUT GAJAH YANG DISUPLEMENTASI DENGAN MINYAK BIJI KAPUK TERPROTEKSI

PENDAHULUAN

Latar belakang

Rumput gajah merupakan hijauan pakan yang banyak dimanfaatkan di daerah tropis. Hijauan di daerah tropis memiliki kandungan protein yang cukup, namun pertumbuhan yang cepat menyebabkan tingginya kandungan serat kasar hijauan sehingga kecernaan dan energi (TDN) rendah. Salah satu cara untuk mengatasi rendahnya energi (TDN) pada hijauan yaitu melalui suplementasi pakan. Suplementasi pakan yang memiliki densitas energi tinggi namun tidak bulky sangat penting. Pakan yang bulky akan menekan nafsu makan ternak sehingga membatasi konsumsi bahan kering pakan. Salah satu suplemen pakan yang memiliki densitas energi tinggi namun tidak bulky adalah minyak biji kapuk (MBK). Minyak biji kapuk merupakan sumber asam lemak tak jenuh. Pada ruminansia, asam lemak tak jenuh mampu menekan metanogenesis dan berpotensi sebagai sumber energi tanpa menghambat fermentasi mikrobial rumen yang mengakibatkan penurunan degradabilitas serat (Jenkins, 1993). Suplementasi ALTJ juga mampu mengubah pola fermentasi ruminal sehingga meningkatkan nisbah asam asetat/asam propionat (A/P) sehingga energi yang mampu dimanfaatkan lebih tingggi (Widiyanto et al., 2007).
Hambatan pemanfaatan MBK adalah kandungan zat antinutrisinya, yaitu asam siklopropenoat dan suplementasi MBK yang tinggi akan menurunkan kecernaan bahan pakan. Menurut Prawirodigdo et al. (1995) yang disitasi oleh Widyaningsih (2005) minyak biji kapuk mengandung asam siklopropenoat (C3H6) yang akan bereaksi dengan protein sulphydril sehingga bersifat racun. Efek samping tersebut dapat dieliminasi melalui proteksi parsial dengan tujuan untuk mengurangi pengaruh negatif dari suplementasi lemak berupa penurunan kecernaan dan hambatan aktivitas mikrobia rumen berkurang, serta mengurangi proses hidrogenasi lemak di dalam rumen (Wina dan Susana, 2013).
Proteksi bisa dilakukan dengan cara hidrogenasi parsial dan saponifikasi. Proteksi asam lemak tidak jenuh dengan menggunakan alkali (KOH) yang kemudian ditransformasi dengan CaCl2 sehingga gugus karboksil berikatan dengan kalsium akan mengurangi toksisitas asam lemak tak jenuh yang kemudian akan menurunkan hambatan metabolisme mikrobial (Widiyanto et al., 2007). Asam lemak tak jenuh yang tidak terproteksi masih bisa difermentasi di dalam rumen sehingga meningkatkan efisiensi energi dari pakan. Suplementasi pakan dapat menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas mikrobia rumen guna meningkatkan kecernaan dan efisiensi penggunaan pakan. Peningkatan kecernaan secara otomatis akan meningkatkan konsumsi dan suplai nutrien ke usus sehingga meningkatkan respon produksi secara keseluruhan (Puastuti, 2009).
Minyak biji kapuk adalah sumber asam lemak tak jenuh yang merupakan hasil samping kapuk dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Sentra produksi kapuk di Jawa Tengah terdapat di 31 kabupaten dengan total luas area 41.372,69 hektar dengan produksi 30.028,49 ton (Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, 2011).
Penelitian tentang suplementasi MBK terproteksi akan diberikan pada rumput gajah sebagai pakan tunggal sumber serat. Kualitas rumput gajah dan efek dari suplementasi MBK terproteksi akan dievaluasi melalui kecernaan dan hasil fermentasi ruminal secara in vitro yaitu produksi VFA dan amonia. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tambahan tentang tingkat optimal suplementasi MBK terproteksi pada rumput gajah sebagai bahan pakan suplai energi secara in vitro.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh kombinasi perlakuan suplementasi dan proteksi minyak biji kapuk sebagai bahan pakan suplai energi dalam ransum ternak yang dievaluasi dari kecernaan dan hasil fermentasi ruminal rumput gajah secara in vitro. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tambahan tentang tingkat optimal suplementasi minyak biji kapuk terproteksi pada rumput gajah sebagai bahan pakan suplai energi secara in vitro.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis dari penelitian ini adalah:
Ho = tidak ada interaksi antara suplementasi dan aras proteksi MBK terhadap kecernaan dan hasil fermentasi ruminal rumput gajah secara in vitro
H1 = ada interaksi antara suplementasi dan aras proteksi MBK terhadap kecernaan dan hasil fermentasi ruminal rumput gajah secara in vitro

TINJAUAN PUSTAKA

Rumput Gajah
Hijauan pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam pengembangan usaha peternakan, khususnya ruminansia. Hijauan pakan yang sangat potensial dan sering diberikan pada ternak ruminansia adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum) (Lasamadi et al., 2013). Menurut Hendrawan (2002) dalam Zakariah (2012), rumput gajah memiliki 21,2% bahan kering, 13,5% protein kasar, 54% TDN, dan 34% serat kasar.

Minyak Biji Kapuk
Biji kapuk merupakan hasil ikutan dari buah kapuk yang merupakan dua pertiga bagian buah tersebut. Biji kapuk akan sebanyak 22 – 25% minyak yang berwarna kekuning – kuningan dan hampir tidak ada rasanya (Septinputri, 2010). Menurut Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, biji kapuk tersedia setiap tahun rata – rata 114.400 ton, bila dikonversikan ke hasil minyak maka akan diperoleh 251.200 ton minyak biji kapuk setiap tahun. Volume tersebut menyediakan potensi suplementasi minyak biji kapuk pada pakan ternak ruminansia. Minyak biji kapuk memiliki kerapatan 0,917 kg/l, bilangan iodine atau derajat kejenuhan 88, dan bilangan fiksasi 181. Minyak biji kapuk mengandung asam lemak tidak jenuh sekitar 71,95%, lebih tinggi dibandingkan dengan minyak kelapa (Dzikriansyah, 2011). Minyak biji kapuk berwarna kekuningan, tidak berbau dan rasanya tawar. Minyak biji kapuk diperoleh dengan cara memisahkan biji kapuk yang bersih dari serat buah kapuk, kemudian biji dipres dua kali (Sahid et al., 2000).

Suplementasi Lemak
Ternak ruminansia dengan tingkat produksi yang tinggi membutuhkan energi dalam jumlah yang besar dan dengan pemberian pakan konvensional belum dapat memenuhi jumlah energi yang dibutuhkan. Lemak merupakan sumber nutrien yang banyak mengandung energi, namun penggunaan lemak dalam ransum ternak ruminansia sangat terbatas (Widyaningsih, 2005). Lemak berfungsi sebagai sumber energi yang berdensitas tinggi. Lemak menghasilkan energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan nutrien lain ketika dimetabolisme dalma tubuh (Wina dan Susana, 2013). Suplemen pakan yang mengandung lemak akan berasosiasi dengan partikel pakan dan mikroba rumen melalui penutupan permukaan secara fisik. Bakteri rumen mempunyai kemampuan lipolisis yang kuat sehingga dengan cepat dapat menguraikan lemak yang menyelimutinya (Puastuti, 2009).
Suplementasi asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda merupakan teknik manipulasi pakan untuk mengatasi kelemahan – kelemahan hijauan pakan tropik. Tujuan suplementasi asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda pada ternak ruminansia yaitu: (1) peningkatan densitas energi, (2) mengubahan pola fermentasi untuk meningkatkan efisiensi energi dalam metabolisme ruminal dan penurunan nisbah asam asetat/asam propionat (A/P), (3) meningkatkan absorpsi asam – asam lemak terpilih (dalam hal ini utamanya asam linoleat), guna menghasilkan performa ternak yang dikehendaki dan atau profil lipida produk ternak ke arah peningkatan kandungan asam lemak Omega – 6 dan pada kemudian akan menurunkan kadar kolesterol (Schauff dan Clark, 1992).

Proteksi Lemak
Minyak biji kapuk mengandung saponin yang mempunyai efek defaunasi (mengurangi populasi protozoa penghuni rumen) karena adanya interaksi saponin-kolesterol membran sel yang menyebabkan sel protozoa pecah. Populasi protozoa yang rendah dalam rumen menyebabkan menurunnya jumlah bakteri yang didegradasi menjadi amonia, sehingga aliran protein atau asam amino ke usus halus lebih meningkat yang juga akan meningkatkan produktivitas ternak (Puastuti, 2009).
Asam lemak tak jenuh berpotensi menghambat fermentasi mikrobial rumen, utamanya mikrobia fibriolitik yang berakibat pada penurunan degradabilitas serat. Proteksi diperlukan untuk mengeliminasi pengaruh negatif dari suplementasi asal lemak tak jenuh pada pakan, salah satunya dengan cara saponifikasi melalui pembentukan garam kalsium (Widiyanto et al., 2009). Mathius et al. (2000) menjelaskan bahwa pemberian sumber energi dalam bentuk lemak dapat dilakukan setelah adanya perlakuan tertentu agar tidak berpengaruh negatif terhadap proses fermentasi pakan dalam rumen. Menurut Wina dan Susana (2013) proteksi asam lemak dengan menggunakan kalsium akan mengurangi pengaruh negatif asam lemak terhadap rumen tetapi penggunaannya dalam pakan ruminan sangat terbatas.
Kecernaan serat dapat diperbaiki oleh sabun kalsium melalui aksi penghilangan efek negatif asam lemak terhadap bakteri. Proteksi asam lemak tidak jenuh menggunakan alkali (KOH) akan mengubah ikatan lemak menjadi gliserol dan garam asam lemak (gugus COOH asam lemak diikat oleh kation basa) (Tanuwiria et al. 2006). Kemudian ditransformasi dengan CaCl2 sehingga gugus karboksil berikatan dengan kalsium. Pengikatan gugus karboksil tersebut mengurangi toksisitas asam lemak tak jenuh sehingga menurunkan hambatan metabolisme mikrobial (Widiyanto et al., 2007). Mekanisme proteksi dari produk sabun kalsium tidak berdasarkan pada titik cair asam lemak, tetapi berdasarkan pada tingkat keasaman atau pH (Tanuwiria et al. 2006).
Proteksi sumber asam lemak tidak jenuh berfungsi menghambat biohidrogenasi mikrobial, sehingga memungkinkan peningkatan absorpsi asam ‐ asam lemak tidak jenuh yang dikehendaki, yakni asam ‐ asam lemak tak jenuh ganda (ALTJG) (Widiyanto et al., 2007).

Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik
Kecernaan bahan pakan adalah bagian dari bahan pakan yang tidak disekresikan melalui feses dan diasumsikan disimpan oleh tubuh ternak. Kecernaan bahan pakan dipengaruhi oleh proporsi total bahan pakan yang dapat larut, lignifikasi dari serat dan komposisi bahan kimia (Van Soest, 1982 yang disitasi oleh Widyaningsih, 2005)
Pengukuran kecernaan pakan dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan teknik in vitro (Sutrisno et al., 2012). Kelebihan teknik in vitro adalah waktu yang dibutuhkan singkat, biaya ringan, jumlah sampel yang digunakan sedikit, kondisinya mudah dikontrol, dan dapat mengevaluasi bahan pakan dalam jumlah yang relatif banyak dalam waktu yang singkat (Tillman et al., 1991). Faktor yang mempengaruhi kecernaan in vitro adalah larutan penyangga, suhu fermentasi, derajat keasaman (pH), sumber inokulum, periode fermentasi, fermentasi akhir dan prosedur analisis (Siregar, 1994).
Peningkatan kecernaan bahan kering diikuti dengan naiknya produksi metana yang menunjukkan adanya kenaikan aktivitas mikroba rumen. Dengan meningkatnya kecernaan serat kasar, secara otomatis meningkatkan konsumsi dan suplai nutrien ke usus, sehingga akan meningkatkan respon produksi secara keseluruhan (Puastuti, 2009). Nilai kecernaan bahan kering yang rendah karena lemak terproteksi oleh garam kalsium sehingga tidak mudah dihidrolisis oleh bakteri rumen (Wina dan Susana, 2013).

Produksi Volatile Fatty Acid (VFA) dan Amonia (NH3)
McDonald et al., (2002) menyatakan bahwa pakan yang masuk ke dalam rumen difermentasi untuk menghasilkan prosuk utama berupa VFA, sel – sel mikroba serta gas metan dan CO2. Volatile Fatty Acids (VFA) yang terdapat didalam rumen tidak hanya berasal dari hasil fermentasi karbohidrat, sebagian berasal dari bekerjanya mikroba rumen terhadap protein atau ikatan lain yang mengandung nitrogen (Wijayanti et al., 2012). VFA berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroba rumen, dan merupakan sumber kerangka karbon bagi pembentukan protein mikroba. Kelebihan asam amino hasil dari hidrolisis protein diubah menjadi asam α-keto dan NH3 yang kemudian α-keto akan diubah menjadi VFA (Widodo et al., 2012).
VFA optimal yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba adalah 80 – 160 mM (Widodo et al., 2012). Soebarinoto et al. (1991) menjelaskan bahwa banyaknya VFA yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh tipe pakan, pengolahan, frekuensi pemberian pakan. Peningkatan jumlah VFA menunjukkan mudah atau tidaknya pakan tersebut didegradasi oleh mikroba rumen.
Amonia berasal dari protein yang didegradasi oleh enzim proteolitik mikroba (Firsoni et al., 2008). Urea merupakan sumber NPN bagi mikroba untuk berkembang biak secara optimal. Urea oleh mikroba rumen akan diubah menjadi amonia dan CO2. Amonia yang terbentuk di dalam rumen sebagian besar digunakan oleh mikroba untuk membentuk protein tubuhnya. McDonald et al. (2002) menjelaskan bahwa konsentrasi NH3 yang tinggi dapat menunjukkan proses degradasi protein pakan lebih cepat daripada proses pembentukan protein mikroba, sehingga amonia yang dihasilkan terakumulasi dalam rumen. Rahmadi et al. (2010) menyatakan bahwa konsentrasi NH3 yang dibutuhkan untuk mendukung sintesis protein mikroba adalah 3,57 – 7,14 mM.

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu
Penelitian tentang kecernaan dan hasil fermentasi ruminal in vitro rumput gajah yang disuplementasi minyak biji kapuk terproteksi akan dilaksanakan pada bulan Maret – April 2014 di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

Materi
Materi yang digunakan adalah ransum basal rumput gajah dari PT Tossa Agro Kendal, minyak biji kapuk dari CV THT Pati, reagen KOH dan CaCl2 untuk proteksi minyak biji kapuk, cairan rumen segar dari rumen sapi, aquades, larutan McDougall, gas CO2, air es, H2SO4 0,0055 N, H2SO4 15%, HCl 0,5 N, Na2CO3 jenuh, H3PO3, vaselin, indikator Phenolptalein 1%, dan indikator methyl red. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tabung fermentor 100 ml, tutup karet berventilasi, termos, kain kasa, gelas ukur, pompa vakum, mikroburet 0,001 ml, labu Erlenmeyer, seperangkat alat destilasi, kompor, crucible porselain, timbangan digital, oven, tanur, sentrifuge, water bath, kertas saring Whatman No. 41, botol untuk supernatan.

Variabel yang diukur
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik (%)
KcBK dan KcBO diukur dengan menggunakan Tilley dan Terry (1963)
Konsentrasi VFA Total (mM)
Konsentrasi VFA total diukur dengan menggunakan teknik destilasi uap (General Laboratory Procedures, 1966).
Konsentrasi NH3 (Amonia) (mM)
Konsentrasi NH3 diukur dengan menggunakan metode mikrodifusi Conway (General Laboratory Procedures, 1966).

Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 5 dengan 2 ulangan dan 2 kali periode pengambilan cairan rumen. Faktor yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari dua faktor yaitu: Faktor I (suplementasi MBK): 1) S0 = tanpa suplementasi MBK 2) S1 = 5% suplementasi MBK, 3) S2 = 10% suplementasi MBK, 4) S3 = 15% suplementasi MBK; faktor II (aras proteksi): P0 = 0%, P1 = proteksi 25%, P2 = proteksi 50%, P3 = proteksi 75%, P4 = proteksi 100%.
Model matematika yang digunakan adalah:
Yijk = µ + τi + αj + βk + (αβ)jk + εijk ……………………………………….. (1)
Keterangan:
Yijk : Nilai pengamatan dari perlakuan ke-i, faktor ransum basal ke-j dan faktor sumplemen ransum ke-k
µ : Nilai tengah populasi
τi : Pengaruh dari perlakuan ke-i (i = 1, 2, 3, …, 16)
αj : Pengaruh suplementasi MBK ke-j (j= 0, 5, 10 dan 15%)
βk : Pengaruh aras proteksi MBK ke-k (k= 0, 25, 50, 75, dan 100%)
(αβ)jk : Pengaruh interaksi antara suplementasi MBK dan aras proteksi MBK
εijk : Pengaruh galat percobaan

Susunan Perlakuan
Suplementasi minyak biji kapuk terproteksi pada rumput gajah yang digunakan pada penelitian ini dengan rincian sebagai berikut:

S0P0 : Rumput gajah

S1P0 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 0%
S1P1 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 25%
S1P2 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 50%
S1P3 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 75%
S1P4 : Rumput gajah + MBK 5% + Proteksi 100%

S2P0 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 0%
S2P1 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 25%
S2P2 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 50%
S2P3 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 75%
S2P4 : Rumput gajah + MBK 10% + Proteksi 100%

S3P0 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 0%
S3P1 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 25%
S3P2 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 50%
S3P3 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 75%
S3P4 : Rumput gajah + MBK 15% + Proteksi 100%

Prosedur Percobaan
Persiapan Rumput Gajah. Rumput gajah dikeringkan dengan oven dan digiling dengan menggunakan Willey Cutting Mill dengan diameter saringan 1 mm. Sampel rumput gajah dianalisis kandungan nutriennya dan digunakan dalam perlakuan dalam bentuk kering udara.
Proteksi Minyak Biji Kapuk. Proteksi MBK dilakukan melalui saponifikasi dengan KOH, kemudian ditransformasi menjadi garam Ca menggunakan CaCl2. Menghitung jumlah KOH dan CaCl2 yang digunakan sesuai aras proteksi berdasarkan angka penyabunan MBK yang ditentukan menurut metode Cabatit (1979). Menimbang sejumlah KOH dan CaCl2 sesuai degan hasil perhitungan, kemudian melarutkannya dengan aquades. Memanaskan MBK dalam penangas air selama 4 jam pada suhu 200ºC untuk mengeliminasi zat antinutrisinya. Memasukkan MBK ke dalam tabung Erlenmeyer, kemudian memanaskannya dalam penangas air hingga mencapai suhu 90ºC selama 10 menit. Mempipetkan sejumlah MBK sesuai dengan persentase suplementasi ke dalam tabung fermentor, kemudian menuangkan KOH ke dalam MBK yang tengah dipanaskan, mengaduk selama 10 menit hingga terbentuk suspensi sabun kalium. Memasukkan larutan CaCl2 ke dalam suspensi sabun kalium sambil dipanaskan pada suhu 90ºC hingga terbentuk endapan garam Ca. Mendiamkan minyak biji kapuk yang diproteksi tersebut selama beberapa saat, kemudian membuang supernatan, dan mencampur endapam dengan porsi MBK yang tidak diproteksi (sesuai aras proteksi).
Pengukuran Kecernaan secara in vitro. Uji in vitro dilakukan dengan simulasi kondisi rumen yang sebenarnya. Uji ini dilakukan berdasarkan metode Tilley dan Terry (1963) menggunakan rumen tiruan yang berupa tabung fermentor 100 ml, larutan McDougall sebagai pengganti cairan saliva dan cairan rumen segar dari sapi sebagai inokulum. Memasukkan sampel rumput gajah dengan berat 0,55 – 0,56 g ke tabung fermentor, kemudian menuangkan cairan rumen sebanyak 10 ml dan cairan McDougall sebanyak 40 ml atau dengan perbandingan 1 : 4. Menambahkan gas CO2 selama 30 detik dan menutup tabung fermentor dengan penutup karet berventilasi. Memasukkan tabung fermentor ke dalam inkubator, menggojognya 6 jam sekali selama 48 jam. Menghentikan proses fermentasi dengan cara memasukkan tabung fermentor ke dalam air es. Campuran disentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Supernatan dibuang, kemudian endapan dimasukkan ke dalam tabung yang ditambahkan 50 ml larutan pepsin 0,2%. Inkubasi dilanjutkan selama 48 jam secara anaerob dengan penggojogan 6 jam sekali. Sisa pencernaan disaring dengan kertas saring Whatman no. 41 menggunakan pompa vakum. Hasil saringan dimasukkan ke dalam crucible porselin dan dikeringkan dalam oven 105ºC untuk mengetahui residu bahan kering dan diabukan dalam tanur 600ºC untuk menghitung residu bahan organiknya. Kecernaan dihitung dengan rumus:
KcBK = “BK sampel – (BK residu – BK blanko) ” /”bobot BK sampel” x “100%” ……………… (2)

KcBO = “BO sampel – (BO residu – BO blanko)” /”bobot BO sampel” x “100%” ……………….. (3)
Keterangan :
KcBK = Kecernaan Bahan Kering (%)
KcBO = Kecernaan Bahan Organik (%)
BK = Bahan Kering (g)
BO = Bahan Organik (g)

Pengukuran Hasil Fermentasi Ruminal. Menuangkan cairan rumen sebanyak 10 ml dan cairan McDougall sebanyak 40 ml atau dengan perbandingan 1 : 4, serta sampel dengan berat 0,55 – 0,56 g ke tabung fermentor. Menambahkan gas CO2 selama 30 detik untuk dan menutup tabung fermentor dengan penutup karet yang berventilasi. Memasukkan tabung fermentor dalam inkubator selama 3 jam. Menghentikan proses fermentasi dengan cara memasukkan tabung fermentor ke dalam air es. Memasukkan cairan dari tabung fermentor ke dalam tabung sentrifuge, kemudian memasukkan sampel ke dalam sentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Memasukkan supernatan (cairan) yang diperoleh dari sampel yang telah disentrifuge ke dalam botol.
Pengukuran Produksi VFA. Pengukuran produksi VFA dilakukan dengan metode destilasi uap. Memasukkan 5 ml supernatan ke dalam tabung suling destilasi, menambahkan 1 ml H2SO4 15% dan tabung segera ditutup. Proses destilasi dilakukan dengan cara menghubungkan tabung dengan labu yang berisi air mendidih. Destilat ditampung di dalam labu Erlenmeyer yang berisi NaOH 0,5 N hingga volumenya mencapai 100 ml, setelah itu menambahkan indikator Phenolptalein sebanyak 2 tetes dan dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai warna titrat berubah dari merah muda menjadi jernih atau tidak berwarna. Setelah itu membuat blanko yang berisi NaOH sebanyak 5 ml, kemudian mentitrasi blanko dengan HCl. Menghitung produksi VFA dengan rumus :
Produksi VFA = (y – z) x N HCl x “1000” /”5″ mM ………………………… (4)
Keterangan :
y : ml titran HCl untuk menitrasi blanko
z : ml titran HCl untuk menitrasi sampel
N HCl : normalitas HCl

Pengukuran Produksi Amonia. Pengukuran produksi amonia dilakukan dengan metode mikrodifusi Conway. Mengoleskan vaselin pada tepi dinding cawan Conway. Memasukkan 1 ml H3BO3 dan indikator methyl red sebanyak 1 ml pada bagian tengah cawan. Setelah itu memasukan 1 ml Na2CO3 di bagian kanan dan 1 ml supernatan pada bagian kiri cawan. Menutup rapat cawan Conway hingga tidak ada rongga udara. Menggoyang secara perlahan cawan hingga supernatan dengan Na2CO3 tercampur. Mendiamkan sampel selama 24. Setelah 24 jam, mentitrasi sampel menggunakan H2SO4 0,0055 N, yang semula warna ungu berubah menjadi merah muda. Produksi amonia dihitung dengan rumus :
Produksi N-NH3 = (ml titran x N H2SO4 x 1000) mM ……………… (5)
Keterangan :
ml titran : ml titran H2SO4 yang digunakan
N H2SO4 : normalitas H2SO4

Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Pelaksanaan
Pengolahan data
Penyusunan laporan
Konsultasi

DAFTAR PUSTAKA

Dzikriyansyah, M. V. 2011. Pemanfaatan minyak biji kapuk randu (Ceiba pentandra) sebagai bahan bakar alternatif biodiesel dalam penanggulangan masalah kelangkaan BBM di Indonesia. (http://dzikriansyah.blogspot.com/2011/10/pemanfaatan-minyak-biji-kapuk-randu.html). Diakses pada 5 Oktober 2013.

Firsoni., J. Sulistyo, A. S. Tjakradidjaja dan Suharyono. 2008. Uji fermentasi in vitro terhadap pengaruh suplemen pakan dalam complete feed. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008. Hal : 233-240.

Jenkins, T.C. 1993. Lipid metabolism in the rumen. J. Dairy Sci. 76 : 3851–3863.

Lasamadi, R.D., S. S. Malalantang, Rustandi dan S. D. Anis. 2013. Pertumbuhan dan perkembangan rumput gajah dwarf (Pennisetum purpureum cv. Mott) yang diberi pupuk organik hasil fermentasi EM4. Jurnal Zootek 32 (5): 158-166.

Mathius, I. W., D. Yulistiani, E. Wina, B. Haryanto, A. Wilson dan A. Thalib. 2000. Pemanfaatan energi terlindungi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan pada domba induk. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 6 (1) : 7-13.

McDonald, P., R. Edwards and J. Greenhalgh. 2002. Animal Nutrition. Sixth Edition. New York.

Puastuti, W. 2009. Manipulasi bioproses dalam rumen untuk meningkatkan penggunaan pakan berserat. Wartazoa 9 (4): 180 -190.

Rahmadi, D., Sunarso, J. Achmadi, E. Pangestu, A. Muktiani, M. Christiyanto, Surono dan Surahmanto. 2010. Ruminologi Dasar. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

Sahid, M., B. Saroso, Mukani dan Buadi. 2000. Diversifikasi hasil, pengolahan hasil utama dan hasil samping tanaman kapuk. Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan.

Schauff, D. J. and J. H. Clark. 1992. Effects of feeding diets containing calcium salts of long-chain fatty acids to lactating dairy cows. J. Dairy Sci. 75 : 2990-3002.

Septinputri. 2010. Manfaat Biji kapuk sebagai pakan ternak. (http://septinputri.wordpress.com/2010/12/22/manfaat-biji-kapuk-sebagai-pakan-ternak/). Diakses pada 5 Oktober 2013.

Siregar, S. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Soebarinoto, S. Chuzaemi dan Mashudi. 1991. Ilmu Gizi Ruminansia. Animal Husbandary Project, Universitas Brawijaya, Malang.

Sutrisno, Widodo dan F. Wahyono. 2012. Kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan NH3 complete feed dengan level jerami padi berbeda secara in vitro. Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

Tanuwiria, U. H., D. C. Budi Nuryanto, S. Darodjah dan W. S. Putranto. 2006. Studi suplemen kompleks mineral minyak dan mineral-organik dan pengaruhnya terhadap fermentabilitas dan kecernaan ransum in vitro serta pertumbuhan pada domba jantan. Jurnal Protein 14 (2): 167-176.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Prawirokusumo, S. Reksohadiprodjo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Widodo, F. Wahyono dan Sutrisno. 2012. Kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan NH3 complete feed dengan level jerami padi berbeda secara in vitro. Anim. Agric. J., 1 (1): 215-230.

Widiyanto, M. Soejono, Z. Bachrudin, H. Hartadi, dan Surahmanto. 2007. Pengaruh suplementasi minyak biji kapok terproteksi terhadap daya guna pakan serat secara in vitro. J. Ind. Trop. Anim. Agric. 32 (1): 51-57.

Widyaningsih, D. 2005. Produksi NH3 dan protein total cairan rumen domba in vitro dengan pakan tunggal rumput lapangan yang disuplementasi dengan minyak biji kapuk terproteksi. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro, Semarang.

Wijayanti, E., F. Wahyono dan Surono. 2012. Kecernaan nutrien dan fermentabilitas complete feed dengan level ampas tebu berbeda secara in vitro. Anim Agric. J., 1 (1): 167-179.

Wina, E. dan I. W. R. Susana. 2013. Manfaat lemak terproteksi untuk meningkatkan produksi dan reproduksi ternak ruminansia. Wartazoa, 23 (4):176-184

Zakariah, M. A. 2012. Evaluasi kecernaan beberapa bahan pakan pada ternak Peranakan Ongole (PO) dan Peranakan Frisien Holstein (PFH). Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

contoh Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

berikut contoh laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) berdasarkan panduan Karya Tulis Ilmiah (KTI) di fakultas saya . semoga bermanfaat :)

BAB I

PENDAHULUAN

Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi cukup besar sebagai ternak penghasil daging dan menjadi prioritas dalam pembangunan peternakan dengan adanya wacana Swasembada Daging yang dicanangkan oleh pemerintah. Namun pertumbuhan populasi sapi secara nasional tidak mampu mengimbangi peningkatan konsumsi, sehingga kebutuhan daging sapi tidak dapat tercukupi. Besarnya peluang pengembangan usaha ternak sapi potong menjadikan usaha ini sebagai salah satu pilihan utama dalam usaha di bidang peternakan.
Keberhasilan usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh aspek pemuliabiakan (breed), pakan (feed), dan pengelolaan (management). Upaya untuk memenuhi permintaan daging sapi dapat dilaksanakan dengan cara pemilihan bibit unggul dan manajemen yang baik. Manajemen produksi sapi potong yang mencakup usaha penggemukan sapi dari hulu hingga ke hilir meliputi pemilihan bakalan, manajemen penggemukan, manajemen pemberian pakan, manajemen pemeliharaan, manajemen perkandangan, manajemen sanitasi dan pencegahan penyakit hingga pemanenan dan pemasaran. Penerapan manajemen produksi sapi yang baik mampu memberikan keuntungan yang baik pula.
Sapi Peranakan Ongole merupakan persilangan sapi Ongole jantan dengan sapi Jawa betina (Murtidjo, 1990). Sapi Peranakan Ongole telah banyak digemukkan karena dianggap mampu beradaptasi dengan iklim dan lingkungan di Indonesia. Menurut Aziz (1993) dengan manajemen produksi yang baik, sapi Peranakan Ongole memiliki PBBH yang cukup tinggi, yaitu 0,4 – 0,8 kg.
Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk mengkaji manajemen produksi sapi Peranakan Ongole yang diterapkan di PT Prisma Mahesa Unggul, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Manfaat yang diperoleh adalah mahasiswa memperoleh tambahan informasi, pengetahuan, dan pengalaman mengenai manajemen produksi sapi potong. Selain itu, melalui Praktek Kerja Lapangan mahasiswa dapat membandingkan antara teori dan pustaka yang diperoleh dibangku perkuliahan dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sapi Peranakan Ongole

Sapi Peranakan Ongole merupakan persilangan sapi Ongole jantan dengan sapi Jawa betina (Murtidjo, 1990). Persilangan tersebut telah berlangsung sejak tahun 1908 yang bertujuan untuk memperoleh ternak sapi yang dapat digunakan bagi keperluan tenaga tarik membantu petani mengolah tanah pertanian dan transportasi (Atmadilaga, 1979; Erlangga, 2009). Keunggulan sapi Peranakan Ongole yaitu memiliki daya adaptasi terhadap iklim tropis yang tinggi, tahan terhadap panas, tahan terhadap gangguan parasit seperti gigitan nyamuk dan caplak, dan memiliki toleransi yang baik terhadap pakan yang mengandung serat tinggi (Astuti, 2003).
Sapi Peranakan Ongole mempunyai ciri – ciri sebagai berikut: warna kelabu kehitam-hitaman pada bagian kepala, leher dan lutut berwarna gelap sampai hitam, bertanduk pendek, bobot badan sapi PO mencapai 430 – 500 kg pada sapi jantan dan 320 – 400 kg pada sapi betina (Hardjosubroto, 1994). Pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi Peranakan Ongole sebesar 0,4 – 0,8 kg (Aziz, 1993).

2.2. Lokasi Peternakan Sapi Potong

Pemilihan lokasi ditujukan untuk menunjang keberhasilan usaha peternakan. Pemilihan lokasi memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain; sumber air, topografi wilayah, dan lingkungan yang sehat. Lokasi peternakan harus dekat dengan sumber air, karena air mutlak dibutuhkan untuk air minum ternak, sanitasi maupun keperluan lainnya. Lingkungan yang sehat adalah lokasi peternakan tidak terjangkit suatu penyakit menular dan membahayakan bagi ternak (Rianto dan Purbowati, 2009). Lokasi peternakan sebaiknya jauh dari permukiman warga agar bau dan kotoran ternak tidak mengganggu kesehatan warga (Asmaki et al., 2008).
Pemilihan lokasi usaha penggemukan sapi potong harus memperhatikan iklim lokasi yang dipilih (Sugeng, 1998). Suhu lingkungan yang ideal untuk penggemukan sapi potong adalah 17 – 27ºC, kelembaban 60 – 80%, dan curah hujan 800 – 1500 mm/tahun. Ketersediaan pakan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena biaya terbesar dalam usaha peternakan adalah biaya pakan, sehingga lokasi peternakan sebaiknya tidak jauh dari sumber pakan (Soeprapto dan Abidin, 2006). Sebaiknya peternakan berada di tempat yang strategis, yaitu mudah dalam memperoleh bibit sapi, mudah dalam pengadaan pakan dan air, dan akses jalan yang mudah (Yulianto dan Saparinto, 2010).

2.3. Perkandangan

Perkandangan adalah segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu peternakan (Rianto dan Purbowati, 2009).
Sarana maupun prasarana yang menunjang kelengkapan suatu peternakan antara lain kantor pengelola, rumah karyawan (mess), gudang, kebun hijauan pakan, reservoir air, jalan dan tempat pembuangan kotoran. Kantor pengelola sebaiknya berada di depan lokasi kandang dengan jarak 25 – 50 meter dari kandang. Rumah karyawan digunakan sebagai tempat tinggal karyawan guna pengawasan atau kemanan ternak dan lingkungannya (Rianto dan Purbowati, 2009). Gudang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan pakan maupun peralatan, sehingga kebutuhan pakan ternak selalu tercukupi (Santosa, 2008).
Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung sapi dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat, dan mempermudah dalam pelaksanaan pemeliharaan sapi tersebut (Abidin, 2008). Tipe kandang berdasarkan bentuknya ada dua, yaitu kandang tunggal dan kandang ganda. Kandang tunggal terdiri atas satu baris kandang yang dilengkapi dengan lorong jalan dan selokan atau parit. Kandang ganda ada dua macam yaitu sapi saling berhadapan (head to head) dan saling bertolak-belakang (tail to tail) yang dilengkapi dengan lorong untuk memudahkan pemberian pakan dan pengontrolan ternak (Ngadiyono, 2007).
Kandang individu diperuntukkan bagi satu ekor sapi dengan ukuran 2,5 x 1,5 m. Sedangkan pada kandang koloni, sapi – sapi ditempatkan dalam satu kandang pada periode tertentu (Abidin, 2008). Sebuah kandang koloni yang berukuran 7 m x 9 m dapat menampung 20 – 24 ekor sapi (Yulianto dan Saparinto, 2010).
Pembuatan kandang sapi potong perlu memperhatikan konstruksi kandang, yaitu: atap kandang, dinding kandang, lantai kandang, tempat pakan dan minum, jalan, dan selokan (Rianto dan Purbowati, 2009). Atap dapat berupa genting, asbes, seng, atau rumbia (Rukmana, 2005). Apabila atap terbuat dari genting, maka kemiringannya 30 – 45 derajat sedangkan atap yang terbuat dari asbes dan seng kemiringannya 15 – 20 derajat. Ketinggian atap yang terbuat dari genting adalah 4,5 m untuk lokasi kandang di dataran rendah sampai menegah dan 4 m untuk lokasi kandang di dataran tinggi, sedangkan atap asbes dan seng ketinggiannya 4 m untuk lokasi kandang di dataran rendah sampai menengah dan 3,5 m untuk lokasi di dataran tinggi (Siregar, 2008).
Dinding kandang dapat dibuat dari tembok semen atau papan kayu dengan ketinggian 1,5 m dari lantai kandang. Lantai kandang biasanya terbuat dari lantai tanah, beton semen, asapal atau batu – batuan. Lantai kandang harus rata, tidak licin, tidak terlalu keras atau tajam, tahan lama dan dibuat miring sekitar 5 – 10 derajat (Rianto dan Purbowati, 2009). Kandang perlu dilengkapi dengan tempat pakan dan minum, panjang tempat pakan sekitar 1,45 – 1,50 m dengan panjang tempat ransum 0,95 – 1 m, lebar 0,5 m dan kedalaman 0,4 m serta tempat minum dengan panjang 0,45 – 0,55 m, lebar 0,50 m dan kedalaman 0,40 m. Penyekat antara palung air minum dan ransum setebal 0,075 – 0,10 m (Sugeng, 1998).
Letak gang disesuaikan dengan tipe kandang, jika kandang terdiri dari dua lajur, gang bisa ditempatkan di tengah. Gang dibuat dengan lebar 1 – 1,5 m. Selokan dibuat tepat di belakang jajaran ternak dengan lebar 0,40 – 0,50 m, kedalaman 0,15 – 0,20 m (Rianto dan Purbowati, 2009). Peralatan kandang yang diperlukan antara lain alat suntik, sekop, ember plastik, sapu lidi, garu kecil, selang, sikat dan tali (Yulianto dan Saparinto, 2010).
Kebun hijauan pakan sangat diperlukan untuk menunjang pemenuhan pakan hijauan bagi ternak. Luas kebun hijauan pakan disesuaikan dengan jumlah ternak yang dipelihara. Reservoir air berupa bak tanam maupun menara air (Rianto dan Purbowati, 2009). Bak – bak penampung air ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air minum ternak, pembersihan kandang dan untuk memandikan ternak (Santosa, 2008). Tempat pembuangan kotoran sangat penting dalam perkandangan, jarak tempat pembuangaan kotoran sekurang – kurangnya 10 m dari kandang (Rianto dan Purbowati, 2009).

2.4. Pengadaan Bakalan

Parameter standar untuk seleksi sapi bakalan mencakup kualitas dan kuantitas sapi yang dapat dievaluasi dengan penilaian dan pengamatan tubuh sapi bagian luar (Sugeng, 1998). Bakalan yang akan digemukkan sangat mempengaruhi keberhasilan penggemukan sapi. Kriteria pemilihan bakalan: berasal dari induk yang memiliki potensi genetik yang baik, bakalan agak kurus, umur bakalan 2 – 2,5 tahun, sehat dan tidak mengidap penyakit, serta bentuk tubuh yang proporsional (Rianto dan Purbowati, 2011).

2.5. Pakan

Pakan merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjang produktivitas ternak. Bahan pakan ternak dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu hijauan dan konsentrat (Williamson dan Payne, 1993). Sapi memerlukan sebanyak 10% berat basah pakan atau 3% berat kering pakan dari bobot badan sapi perhari (Fikar dan Ruhyadi, 2010).
Semakin baik kualitas hijauan maka semakin sedikit persentase konsentrat yang digunakan. Jenis pakan yang pertama diberikan adalah konsentrat untuk menyuplai makanan bagi mikroba rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk ke dalam rumen, mikroba rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Pada kandang koloni, pemberian pakan harus diperhitungkan dengan cermat agar tidak terjadi kompetisi dalam merebutkan pakan (Abidin, 2008). Pada penggemukan sapi secara intensif, konsentrat diberikan dalam jumlah besar yaitu antara 60 – 80% dan hijauan 20 – 40% (Blakely dan Bade, 1994; NRC, 1996; Parakkasi, 1999) atau konsentrat 85% dan hijauan 15% (Sumadi et al., 1991; Ngadiyono, 1995).
Kandungan nutrisi pada pakan akan diubah menjadi energi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, dan apabila kebutuhan pokok sudah terpenuhi maka kelebihan nutrisi pakan akan digunakan untuk pertumbuhan dan produksi (Tillman et al., 1991). Semakin tinggi bobot badan, semakin tinggi pula kebutuhan untuk hidup pokok demikian pula dengan pertambahan bobot badan hariannya. Semakin tinggi pertambahan bobot badan harian ternak, semakin tinggi pula kebutuhan zat pakannya. Kebutuhan nutrisi sapi potong berdasarkan bobot badan dan pertambahan bobot badan hariannya, dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Sapi Berdasarkan Bobot Badan dan
Pertambahan Bobot Badan Harian (Kearl, 1982)

Bobot Badan PBBH BK PK TDN
——————————————– kg —————————————-
250 0,00
0,25
0,50
0,75
1,00 4,8
5,8
6,2
6,5
6,6 0,264
0,486
0,564
0,644
0,724 2,1
2,7
3,3
3,9
4,5
300 0,00
0,25
0,50
0,75
1,00
1,10 5,5
6,7
7,1
7,4
7,6
7,3 0,303
0,526
0,604
0,717
0,764
0,797 2,4
3,1
3,8
4,5
5,2
6,1
350 0,00
0,25
0,50
0,75
1,00
1,10
1,20 6,1
7,4
8,0
8,3
8,5
8,5
8,4 0,340
0,557
0,637
0,717
0,797
0,829
0,860 2,7
3,5
4,3
5,0
5,8
6,1
6,4

Bahan pakan yang biasa diberikan kepada sapi antara lain adalah jerami padi, rumput gajah, dan rumput lapangan. Selain itu sapi juga diberi pakan konsentrat untuk mendapatkan pertambahan bobot badan yang tinggi. Jerami padi adalah hasil samping dari tanaman padi yang sudah diambil hasil utamanya. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak memiliki kendala yaitu kandungan serat kasarnya yang tinggi, kecernaan dan kandungan nutrisi yang rendah (Santosa, 2008). Jerami padi memiliki serat kasar yang tinggi yaitu 35,5% (Siregar, 2003).
Rumput gajah merupakan salah satu pakan hijauan yang berkualitas, tumbuh relatif cepat dan banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak (Yulianto dan Saparinto, 2010). Menurut Rukmana (2005) kandungan nutrien rumput gajah antara lain: 19,9% BK, 10,2% PK, 1,6% lemak, 34,2% SK, 11,7 abu dan 42,3% BETN.
Konsentrat merupakan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%. Konsentrat berasal dari biji – bijian, umbi – umbian, serta limbah peternakan dan industri (Darmono, 1999). Fungsi dari konsentrat adalah meningkatkan dan memperkaya nutrisi bahan pakan lain yang nilai nutrisinya lebih rendah (Sugeng, 1998).
Pakan sebaiknya tidak diberikan sekaligus dalam jumlah banyak setiap harinya, melainkan dibagi menjadi beberapa bagian, misalkan pagi dan sore hari (Rianto dan Purbowati, 2009). Tatacara pemberian pakan sapi potong dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tatacara Pemberian Pakan Sapi Potong

Waktu Kegiatan Kegiatan yang dilakukan
06.30
08.00
09.00
11.00
14.00
15.00
16.00
21.00 Membersihkan tempat pakan dan minum
Memberikan konsentrat dan dedak
Memberikan hijauan
Memberikan air minum
Memberikan konsentrat dan dedak
Memberkan hijauan
Memberikan air minum
Memberikan hijauan
Sumber : Fikar dan Ruhyadi (2010).

2.6. Penggemukan Sapi

Penggemukan sapi adalah usaha memacu pertumbuhan sapi untuk mencapai peningkatan bobot badan pada fase pertumbuhan yang tepat (Yulianto dan Saparinto, 2010). Sistem penggemukan terdiri dari tiga macam, yaitu dry lot fattening, pasture fattening, dan kombinasi antara keduanya (Siregar, 2008).
Penggemukan dry lot fattening diperuntukkan bagi sapi berumur 1 tahun dan lamanya penggemukan sekitar 4-6 bulan dengan pemberian biji – bijian atau kacang – kacangan. Penggemukan pasture fattening adalah penggemukan sapi dengan yang digembalakan di padang penggembalaan. Kombinasi pasture – dry lot fattening dilakukan di daerah tropis dengan cara pada saat musim penghujan ternak dilepas di padang penggembalaan dan pada saat musim kemarau ternak dikandangkan dan diberi makanan biji – bijian dan hay (Murtidjo, 1990).
Sistem penggemukan kereman dilakukan dengan cara menempatkan sapi dalam kandang selama beberapa waktu (intensif). Pakan yang diberikan terdiri atas hijauan dan konsentrat sesuai dengan ketersediaan pakan (Siregar, 2008). Menurut Tillman et al. (1991) sapi yang digemukkan secara feedlot adalah sapi yang memiliki pertumbuhan yang tinggi sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai bobot tertentu menjadi lebih singkat. Waktu penggemukan yang lebih singkat ini dimaksudkan untuk memperoleh efisiensi ekonomi dalam penggunaan pakan.
Hasil akhir ternak sapi potong adalah sapi yang gemuk dan dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh dan recahan sebanyak 46,5%. Waktu yang dibutuhkan untuk pembesaran sapi tergantung target akhir dari bobot sapi yang ditentukan dan bakalan sapi yang dibesarkan (Yulianto dan Saparinto, 2010).
Pertambahan bobot badan harian sapi PO menurut Amini (1998) adalah 0,52 kg/hari yang diberi ransum jerami dan konsentrat sebesar 61% dari seluruh ransum. Menurut Sumadi et al. (1991) PBBH sapi PO sebesar 0,70 kg pada pemeliharaan secara intensif dengan yang diberi pakan konsentrat sebanyak 85% dari total ransum.
Parakkasi (1999) menyatakan bahwa sistem pemeliharaan ternak sapi dibagi menjadi tiga, yaitu intensif, ekstensif dan mixed farming system. Pemeliharaan ternak secara intensif adalah sistem pemeliharaan ternak sapi dengan cara dikandangkan secara terus – menerus dengan sistem pemberian pakan secara cut and carry. Pemeliharaan secara ekstensif adalah pemeliharaan ternak di padang penggembalaan. Sapi perlu dimandikan secara rutin untuk menjaga kebersihan tubuh dan mencegah muculnya sarang penyakit pada tubuh sapi. Pembersihan kandang dilakukan setiap hari agar kandang selalu bersih, mencegah timbulnya penyakit, dan memberikan kenyamanan bagi sapi (Ngadiyono, 2007).

2.7. Sanitasi dan Pencegahan Penyakit

Upaya penjagaan kesehatan ternak tidak lepas dari usaha penjagaan kebersihan kandang dan lingkungan sekitar dengan cara vaksinasi secara teratur, sanitasi, desinfeksi pada kandang dan peralatan, memeriksa kesehatan ternak secara teratur, dan memisahkan ternak yang sakit dengan ternak yang sehat (Rianto dan Purbowati, 2009). Sanitasi dilakukan pada ternak, lingkungan kandang, dan peternaknya. Sanitasi terhadap ternak dapat dilakukan dengan cara memandikan sapi. Sanitasi kandang dilakukan dengan cara membersihkan kandang dan kotoran yang dapat dilakukan 2 – 3 kali sehari (Soeprapto dan Abidin, 2006).
Pencegahan merupakan tindakan untuk melawan berbagai penyakit. Usaha pencegahan ini meliputi karantina atau isolasi ternak, vaksinasi, deworming, serta pengupayaan peternakan yang higienis (Sudarmono dan Sugeng, 2008). Bakalan yang akan digemukkan atau yang baru dibeli di pasar hewan, perlu dimasukkan ke dalam kandang karantina yang letaknya terpisah dari kandang penggemukan. Pemberian vaksin biasanya dilakukan pada saat sapi bakalan berada di kandang karantina. Pemberian vaksin cukup dilakukan sekali untuk setiap ekor karena sapi hanya dipelihara dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar 3 – 4 bulan (Abidin, 2008).

2.8. Pemanenan dan Pemasaran

Sapi hasil penggemukan biasanya dijual setelah penggemukan selama 4 – 6 bulan dengan bobot jual 584 – 600 kg. Sebelum memasarkan sapi perlu dilakukan penimbangan sapi, penentuan harga jual, menentukan pasar tujuan, jalur pemasaran, alat angkut dan strategi pemasaran (Fikar dan Ruhyadi, 2010). Jangka waktu pemeliharaan yang singkat dibutuhkan pengaturan sehingga produksi dapat berjalan terus menerus. Informasi pasar dapat memberikan manfaat besar, selain dapat digunakan untuk mengatur kegiatan produksi juga dapat menjamin kesinambungan produksi (Rianto dan Purbowati, 2009).

2.9. Evaluasi dan Analisis Usaha

Evaluasi dapat diketahui melalui konversi pakan dan efisiensi pakan. Konversi pakan adalah perbandingan jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan (Santosa, 2008). Konversi pakan yang baik bagi sapi potong adalah 8,56 – 13,29. Semakin kecil angka konversi pakan maka pertambahan bobot badan yang dihasilkan semakin tinggi. Efisiensi pakan yang baik pada sapi potong adalah 7,52 – 11,29% (Siregar, 2003). Efisiensi pakan merupakan sebagai perbandingan jumlah unit produk yang dihasilkan (pertambahan bobot badan) dengan jumlah unit konsumsi pakan dalam satuan waktu yang sama (Santosa, 1995).

BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1. Waktu dan Tempat

PraktekKerjaLapangan (PKL) ini dilaksanakan dari 4 Februari sampai 11 Maret 2013 di PT Prisma Mahesa Unggul, Kampung Geleweran, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

3.2. Materi

Materi yang digunakandalamkegiatan PKL ini adalah sapi Peranakan Ongole yang berjumlah 216 ekor yang terdiri dari 129 ekor sapi jantan dan 87 ekor sapi betina. Sampel yang diamati adalah 10 ekor sapi Peranakan Ongole berjenis kelamin jantan yang dikenali melalui tanda pengenal berupa eartag. Sapi kelompok I diambil dari salah satu paddock di kandang koloni (kandang A) dengan jumlah populasi 45 ekor dan jumlah sampel 4 ekor, sedangkan sapi kelompok II diambil dari kandang individu (kandang B) dengan jumlah sampel 6 ekor. Alat yang digunakanadalah meteran untuk mengukur kandang, timbangan untuk menimbang bobot badan ternak dan untukmenimbangpakan, hygrometer untuk mengukur suhu serta kelembaban, kamera untuk dokumentasi pelaksanaan kegiatan, daftar kuisioner untuk menanyakan informasi yang dibutuhkan, dan alat tulis untuk mencatat data yang diperoleh.

3.3. Metode

Metode yang digunakan dalam PKL ini adalah observasi dan partisipasi aktif dengan melakukan kegiatan yang ada pada peternakan tersebut guna memperoleh data. Data yang dikumpulkan terdiri atas dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi langsung serta wawancara dengan petugas kandang dan pengelola peternakan. Data sekunder diperoleh dari catatan – catatan, baik yang ada di peternakan maupun lembaga – lembaga terkait seperti kelurahan dan kecamatan.
Data yang dikumpulkan pada PKL meliputi keadaan peternakan secara umum dan aspek – aspek produksi dalam manajemen produksi peternakan, yaitu: konsumsi pakan, PBBH, konversi pakan, efisiensi pakan dan Feed Cost per Gain. Data keadaan peternakan secara umum diperoleh dengan melakukan wawancara dengan pemilik atau karyawan peternakan. Data pengadaan bakalan diperoleh dengan melihat kriteria bakalan, harga dan bobot bakalan.
Pengukuran bobot badan dilakukan dengan menimbang sapi secara langsung menggunakan mesin timbang, pertambahan bobot badan dihasilkan dari pengurangan bobot badan akhir dengan bobot badan awal per kurun waktu pengamatan. Satu ikat rumput gajah kurang lebih 10 kg, 1 ikat jerami padi kurang lebih 30 kg, dan pemberian konsentrat dilakukan menggunakan sekop kecil dengan 1 sekop kurang lebih 1 kg. Pengukuran konsumsi pakan dilakukan dengan menimbang jumlah pakan yang diberikan selama 24 jam kemudian dikurangi jumlah sisa pakan pada hari yang sama. Data tentang kesehatan ternak diperoleh dengan wawancara dan melihat kegiatan apa saja yang dilakukan untuk menjaga kesehatan ternak.
Rumus yang digunakan:
Konsumsi Pakan = Pemberian – Sisa
PBBH = “Bobot akhir – Bobot awal” /”Lama pemeliharaan”
Konversi pakan = “Total Konsumsi Pakan” /”PBBH”
Efisiensi pakan = “PBBH” /”Total Konsumsi Pakan” x 100%
Feed Cost per Gain = “Biaya Pakan yang dibutuhkan” /”PBBH”
Data mengenai tenaga kerja diperoleh dengan cara melakukan wawancara kepada para pekerja dengan menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan. Pengukuran kandang dilakukan dengan mengukur bagian – bagian kandang dengan menggunakan pita ukur.
Data yang diperoleh kemudian diolah secara deskriptif dan dibandingkan dengan data yang ada di pustaka, kemudian hasilnya dibahas menurut permasalahan. Berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya disusun sebagai Laporan Praktek Kerja Lapangan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Umum

PT Prisma Mahesa Unggul bergerak di bidang penggemukan sapi potong. Peternakan ini beralamat di Jl. Raya Wisata Gunung Pancar, Kampung Gelewer RT 06/IV Desa Karang Tengah, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. PT Prisma Mahesa Unggul didirikan pada tanggal 28 Agustus 2009 yang merupakan kerjasama dari PT Sahabat Indonesia dan PT Prisma Lembu Surau. Usaha tersebut sekarang telah mengalami perkembangan dan mempunyai 4 buah kandang dengan kapasitas 1.200 ekor sapi.
Sapi yang dimiliki oleh PT Prisma Mahesa Unggul berjumlah 836 ekor. Bangsa sapi yang digemukkan meliputi216 ekor sapi Peranakan Ongole, 10 ekor sapi Peranakan Simmental, 250 ekor sapi Peranakan Limousin, 21 ekor sapi peranakan Friesian Holstein, 290 ekor sapi Bali, dan 49 ekor sapi Madura.Sapi Peranakan Ongole yang dimiliki oleh PT Prisma Mahesa Unggulterdiri atas 129 ekor sapi jantan untuk digemukkan dan 87 ekor sapi betina untuk pembesaran yang kemudian akan dijual sebagai indukan.

4.1.1. Lokasi

PT Prisma Mahesa Unggul terletak di Jl. Raya Wisata Gunung Pancar, Kampung Gelewer RT 06/IV Desa Karang Tengah, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, seperti yang tercantum pada Lampiran 1. Adapun mengenai batas wilayah Desa Karang Tengah adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup
Sebelah Timur : Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur
Sebelah Selatan : Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang
Sebelah Barat : Desa Sumur Batu, Kecamatan Babakan Madang
Desa Karang Tengah terletak pada 060 33’30”- 060 38’30” LS dan 1060 53’05” – 1060 58’35” BT dan memiliki luas 2.859 ha (BPS, 2009). Ketinggian desa ini berada pada 529 mdpl dengan suhu udara rata – rata 26 – 27ºC dan kelembaban 75%. Hal tersebut menunjukkan bahwa peternakan ini sudah berada pada lokasi yang tepat karena memiliki iklim yang sejuk. Menurut Soeprapto dan Abidin (2008), suhu lingkungan yang ideal untuk penggemukan sapi potong adalah 17 – 27ºC dan kelembaban 60 – 80%.
Jarak lokasi peternakan dengan permukiman penduduk sekitar 30 m. Jarak tersebut merupakan jarak miminal yang tergolong baik untuk meminimalisir pencemaran udara akibat bau yang ditimbulkan dari pemeliharaan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyid dan Hartati (2007) yaitu jarak minimal peternakan dengan permukiman adalah 10 m. Asmaki et al. (2008) menambahkan bahwa lokasi peternakan sebaiknya jauh dari permukiman warga agar bau dan kotoran ternak tidak mengganggu kesehatan warga.
Lokasi peternakan cukup strategis karena ditunjang dengan adanya akses jalan yang cukup baik. Jarak dengan jalan raya sekitar 300 m. Hal tersebut tentunya menunjang pemenuhan kebutuhan dalam melaksanakan usaha penggemukan sapi potong seperti yang dinyatakan oleh Yulianto dan Saparinto (2010) yaitu sebaiknya peternakan berada di tempat yang strategis, yaitu mudah dalam memperoleh bibit sapi, mudah dalam pengadaan pakan dan air, dan akses jalan yang mudah.
Luas area PT Prisma Mahesa Unggul adalah 20 ha dengan rincian: 2 ha 160 m2 kandang sapi, 100 m2 gudang pakan, 180 m2 mushola dan kantor, 36 m2 mess, 8 m2 kantor keamanan, 200 m2septic tank, 2442 m2 lahan parkir dan lahan terbuka 14.774 m2. Wilayah di sekitar lokasi peternakan merupakan kawasan pertanian berupa kebun dan sawah. Hal tersebut mampu membantu pemenuhan kebutuhan pakan dengan memanfaatkan limbah pertanian berupa jerami padi. Lokasi peternakan yang dekat dengan sumber pakan dapat menekan biaya produksi untuk penyediaan pakan, hal ini sesuai dengan pendapat Soeprapto dan Abidin (2008) yaitu untuk menekan biaya pakan, maka sebaiknya lokasi peternakan tidak jauh dari sumber pakan. Sumber air berasal dari air tanah pada musim penghujan dan air isi ulang pada musim kemarau. Hal ini menunjukkan bahwa pihak peternakan telah bisa menyediakan air untuk kebutuhan air minum, sanitasi dan kebutuhan lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009), bahwa lokasi peternakan harus dekat dengan sumber air, karena air mutlak dibutuhkan untuk air minum ternak, sanitasi maupun keperluan lainnya.

4.1.2. Organisasi

PT Prisma Mahesa Unggul dimiliki oleh Bapak Probo Prasetyo yang membawahi Bapak H. Irfan Harahap sebagai Manajer Personalia, Bapak Ir. H. Wasdiro sebagai Manajer Produksi, dan Bapak Surjono Senti sebagai Manajer Keuangan. Manajer Produksi membawahi Bapak Surahman sebagai Supervisor Produksi. Struktur organisasi PT Prisma Mahesa Unggul ini secara lengkap tercantum dalam Lampiran 2.

4.1.3. Perkandangan

Segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun prasarana yang dimiliki oleh PT Prisma Mahesa Unggul sudah cukup baik. Sarana penunjang yang ada adalah gudang pakan, kebun hijauan pakan, kantor, tempat tinggal karyawan (mess), bak penampungan air, dan tempat pembuangan kotoran. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009), bahwa kelengkapan suatu peternakan antara lain kantor pengelola, rumah karyawan (mess), gudang, kebun hijauan pakan, reservoir air, jalan dan tempat pembuangan kotoran.
Layout perkandangan PT Prisma Mahesa Unggul ini secara lengkap tercantum dalam Lampiran 3. Peternakan ini memiliki 4 kandang dengan kapasitas 1.200 ekor sapi, namun pada saat pelaksanaan PKL hanya berisikan 836 ekor sapi. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, diperoleh hasil: (1) kandang A berukuran panjang 25,76 m dan lebar 78 m dengan panjang per paddock 11,16 m dan lebar 15,60 m (2) kandang B, C, dan D dengan panjang 30 m dan lebar 10 m. Kandang A berisi 40 – 65 ekor sapi per paddock atau 400 – 650 ekor per kandang, sedangkan kandang B, C, dan D masing – masing berisi 60 – 80 ekor sapi per lajur atau 120 – 160 ekor per kandang. Berdasarkan data tersebut, dapat dihitung bahwa ukuran untuk satu ekor sapi pada kandang A adalah 2,67 m2/ekor; kandang B, C, dan D 3,75 m2/ekor. Ukuran kandang koloni dan individu ini telah sesuai dengan kebutuhan per satuan luas tubuh ternak, hal ini sesuai dengan pendapat Yulianto dan Saparinto (2010), yaitu sapi yang ditempatkan pada kandang koloni membutuhkan 2,64 m2/ekor. Abidin (2008) menambahkan bahwa sapi yang ditempatkan pada kandang individu membutuhkan paddock dengan ukuran 2,5 x 1,5 m/ekor.
Kandang yang digunakan adalah kandang konvensional dengan tipe ganda dan penempatan sapi dilakukan dengan membuat dua baris dan saling berhadapan (head to head). Penempatan sapi dengan ini cukup baik karena memudahkan dalam pengawasan dan pemberian pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ngadiyono (2007) ternak bisa ditempatkan pada kandang yang saling berhadapan (head to head) yang dilengkapi dengan lorong untuk memudahkan pemberian pakan dan pengontrolan ternak.
Tempat pakan dan minum di kandang A (koloni) terletak terpisah dengan panjang 15,60 m dan lebar 0,8 m dengan ketebalan 0,10 m dan kedalaman 1 m. Kandang B, C, dan D (individu) tempat air dan minum terletak pada satu baris dengan panjang 1,4 m dan lebar 0,8 m dengan ketebalan 0,1 m dan kedalaman 0,5 m. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugeng (1998) yaitu panjang tempat pakan sapi sekitar 1,45 – 1,50 m dengan lebar 0,05 m dan ketebalan 0,75 – 0,1 m. Ukuran tempat pakan dan minum sudah cukup baik, karena mempermudah pemberian pakan dan minum. Tempat pakan dan minum ternak yang ada di kandang individu juga bisa mencegah penularan penyakit melalui pakan dan minum, karena terpisah antara ternak satu dengan ternak yang lainnya. Bentuk palung dapat dilihat pada ilustrasi 1.

Ilustrasi 1. Bentuk Palung Kandang Koloni (Kiri) dan Individu (Kanan)

Kandang dibuat terbuka tanpa adanya dinding, hal ini memudahkan masuknya sinar matahari dan sirkulasi udara namun menyebabkan air hujan dan angin mudah masuk. Atap kandang terbuat dari asbes dengan tinggi 4 m, atap berfungsi untuk melindungi ternak dari pengaruh langsung sinar matahari dan hujan. Ketinggian atap kandang ini sesuai dengan pendapat Siregar (2008), bahwa kandang dengan atap asbes ketinggiannya antara 3,5 – 4 m. Atap kandang yang terbuat dari asbes memberikan efek sejuk pada kandang saat cuaca panas, karena asbes bisa menyerap panas.
Berdasarkan hasil pengamatan, lantai kandang terbuat dari semen yang dibuat agak miring dengan kemiringan 5 derajat dan permukaan yang agak kasar. Lantai kandang yang dibuat agak miring dan agak kasar memiliki dampak baik, yaitu memudahkan dalam sanitasi dan meminimalisir terpelesetnya ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009) bahwa lantai kandang harus rata, tidak licin, tidak terlalu keras atau tajam, tahan lama dan dibuat miring sekitar 5 – 10 derajat.
Jarak gudang dengan kandang kurang lebih 150 m. Gudang digunakan untuk menyimpan bahan pakan, konsentrat, dan mesin pembuat pakan (mixer). Mess karyawan berjarak kuranng lebih 150 m dari kandang, sedangkan jarak tempat pembuangan kotoran degan kandang 20 m. Letak dan jarak antar sarana dan prasarana tersebut sudah baik, karena telah mempertimbangkan kesehatan ternak dan pekerja. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009) yaitu tempat pembuangan kotoran jaraknya minimal 10 m dari kandang.
Peralatan kandang yang digunakan untuk menunjang proses produksi antara lain sabit, sekop, cangkul garpu, sikat, selang, ember, alat suntik, alat desinfeksi, tali, dan troli. Peralatan tersebut mempermudah dalam pelaksanaan kegiatan di kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Yulianto dan Saparinto (2010) yaitu peralatan untuk kelengkapan kandang antara lain alat suntik, sekop, ember plastik, sapu lidi, garu kecil, selang, sikat dan tali.

4.1.4. Tenaga Kerja

Jumlah tenaga kerja di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul kurang lebih 70 orang yang terdiri dari 2 orang pekerja kantor, 2 orang sopir, 8 orang satpam, 4 orang juru masak dan kebun, 5 orang pekerja gudang, 12 orang pekerja kandang, 4 orang pekerja pengumpul jerami, dan sisanya sebagai pekerja lahan hijauan pakan. Jumlah pekerja kandang adalah 12 orang dan jumlah sapi yang digemukkan adalah 836 ekor, sehingga seorang pekerja kandang mengelola kurang lebih 70 ekor sapi dan melakukan semua kegiatan mulai sanitasi, menyiapkan dan memberikan pakan. Pengaturan dan pembagian kerja telah berjalan dengan baik, sehingga mempermudah dalam koordinasi dan melaksanakan proses produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2008) bahwa adanya struktur pekerja yang jelas akan memudahkan koordinasi, dan setiap pekerja mengetahui masing – masing hak dan kewajibannya. Jadwal kerja harian pekerja kandang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jadwal Kerja Harian Pekerja Kandang

Waktu Kegiatan
07.00
07.30
08.30
11.00
11.30
12.00
13.00
15.00
15.30 Membersihkan tempat pakan dan minum
Pemberian konsentrat dan air minum
Sanitasi kandang
Pemberian hijauan pakan (rumput gajah)
Pengecekan pakan dan air minum
Istirahat
Pengecekan pakan dan air minum
Pemberian konsentrat dan hijauan pakan (rumput gajah atau jerami)
Pengecekan pakan dan air minum

Jadwal kerja sangat diperlukan sebagai pedoman bagi setiap tenaga kerja. Waktu kerja dalam satu hari adalah 8 jam (07.00 – 16.00 WIB), dan upah yang diterima oleh pekerja kandang sebesar Rp. 950.000,00 per bulan atau dengan upah Rp 3.958,33 per jam, dan makan siang ditanggung oleh perusahaan sebesar Rp. 150.000,00 per bulan. Pekerja yang bekerja lebih dari jam kerja yang telah ditetapkan akan memperoleh gaji tambahan atau uang lembur. Upah yang diterima belum memenuhi Upah Minimum Regional (UMR) Kota Bogor, yaitu sebesar Rp. 2.002.000,00 per bulan atau Rp. 8.341,67 per jam.

4.2. Proses Produksi

Proses produksi merupakan proses yang terjadi dari awal produksi hingga penjualan hasil produksi yang meliputi: pengadaan bakalan, pakan, serta sanitasi dan pencegahan penyakit. Proses penggemukan di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul dilakukan kurang lebih selama 3 bulan dengan sistem kereman, yaitu sapi ditempatkan dalam kandang terus menerus selama masa penggemukan. Pakan yang diberikan berupa rumput gajah, jerami padi dan pakan konsentrat. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (2008) yaitu sistem penggemukan kereman dilakukan dengan cara menempatkan sapi dalam kandang selama beberapa waktu (intensif).

4.2.1. Pengadaan bakalan

Pemilihan bakalan merupakan salah satu unsur penting dalam usaha di bidang peternakan. Sapi bakalan yang digemukkan di PT Prisma Mahesa Unggul diperoleh dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Bangsa sapi yang digemukkan antara lain: sapi Peranakan Ongole, peranakan Simmental, peranakan Limousin, peranakan Friesian Holstein, sapi Bali, dan sapi Madura.
Berdasarkan hasil pengamatan, PT Prisma Mahesa Unggul menetapkan langkah – langkah dalam pemilihan bakalan sapi Peranakan Ongole, yaitu: (1) bakalan memiliki ciri – ciri: sehat, tidak cacat, tubuh proporsional, kaki lurus dan kokoh; (2) bakalan tidak mengidap penyakit mulut dan kuku (PMK); (3) menimbang bobot badan awal dan atau tinggi ternak; (4) desinfeksi dan ear tagging; (5) grading ternak. Pemilihan bakalan ini bertujuan untuk menjamin kualitas bakalan dan kualitas hasil penggemukan. Salah satu ciri bakalan yang dipilih adalah bakalan kurus yang sehat, hal ini dikarenakan ternak yang memiliki badan kurus yang sehat menunjukkan bahwa bakalan tersebut masih dalam tahap exponential growth yang dianggap mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan kandungan nutrisi pakan dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2011), bahwa kriteria pemilihan bakalan: agak kurus, umur, sehat dan tidak mengidap penyakit, serta bentuk tubuh yang proporsional.
PT Prisma Mahesa Unggul membeli sapi bakalan dengan sistem timbang bobot badan dan jogrok. Pembelian sapi bakalan yang diterapkan saat pelaksanaan PKL adalah dengan sistem timbang bobot badan sapi minimal 250 kg dengan harga beli Rp. 45.000,00/kg bobot hidup, sedangkan sapi jogrok dibeli dengan bobot badan minimal 100 kg dan tinggi badan minimal 115 cm dibeli dengan harga kurang lebih Rp. 5.300.000,00 per ekor. Pembelian bakalan dilakukan secara berkala dengan jumlah bakalan dan jadwal kedatangan bakalan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dengan supplier. Selama pelaksanaan PKL, pembelian bakalan Peranakan Ongole berlangsung kurang lebih sebanyak 6 kali dengan jumlah bakalan kurang lebih 20 ekor per kedatangan.
Berdasarkan hasil pengamatan, sapi Peranakan Ongole memiliki ciri – ciri: warna putih kelabu kehitam – hitaman, bergelambir dan bertanduk pendek. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjosubroto (1994), bahwa sapi Peranakan Ongole mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: warna kelabu kehitam – hitaman pada bagian kepala, leher dan lutut berwarna gelap sampai hitam, serta bertanduk pendek.

4.2.2. Pemberian pakan

Pakan yang digunakan di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul adalah rumput gajah, jerami padi, dan konsentrat. Komposisi konsentrat dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Komposisi Konsentrat
No Bahan Pakan Komposisi PK TDN SK
—————————- % ———————-
1 Dedak 19 2,662 10,45 1,596
2 Onggok 35 0,63 29,75 0,63
3 Kopra 6,2 1,3144 5,022 0,813
4 Bungkil sawit 30 4,95 21 4,68
5 Kedelai 3 1,239 2,496 0,258
6 Kapur 0,4 0 0 0
7 Garam 0,6 0 0 0
8 Molasses 5,4 1,1674 3,8178 0
9 Urea 0,4 0,0072 0,22 0,0366

Pemberian pakan dilakukan secara berkala sesuai dengan yang tercantum pada Tabel 3. Pemberian pakan secara berkala ini bertujuan untuk meminimalisir pakan yang tercecer karena tidak dikonsumsi oleh ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2009) bahwa pemberian pakan dilakukan secara berkala pada pagi dan sore hari. Pemberian air minum ternak dilakukan satu kali sehari secara ad libitum bersamaan dengan pemberian konsentrat. Pemberian air minum dengan sistem ini menyebabkan ternak leluasa dalam mengkonsumsi air minum dan bisa menurunkan tingkat konsumsi. Hal ini kurang baik karena ternak akan cenderung banyak mengkonsumsi air saat diberikan pakan dengan kandungan serat kasar yang tinggi. Fikar dan Ruhyadi (2010) menambahkan bahwa pakan dan minum harus diberikan pada jam berbeda agar pakan yang diberikan tidak banyak disisakan oleh ternak.
Kebutuhan nutrisi pakan sapi dapat dilihat pada Lampiran 4. Konsumsi pakan sapi dapat dilihat pada Lampiran 5. Kandungan nutrisi pakan dan konsumsi pakan bahan kering dapat dilihat pada Lampiran 6. Rasio pakan hijauan dan konsentrat yang diberikan pada sapi kelompok I dan II masing – masing adalah 44,4% : 55,6% dan 60% : 40%. Berdasarkan hasil perhitungan dari rekomendasi Kearl (1982), kebutuhan pakan sapi Peranakan Ongole kelompok I dengan bobot badan rata – rata 120,5 kg dengan PBBH rata – rata 0,74 kg per hari adalah 3,64 kg bahan kering, 0,50 kg protein kasar dan 2,17 kg TDN sedangkan pada kenyataannya di lapangan konsumsi pakan untuk setiap ekor per hari adalah 3,77 kg bahan kering (3,12% BB), 0,16 kg protein kasar, dan 0,21 kg TDN. Kebutuhan pakan sapi Peranakan Ongole Kelompok II dengan bobot badan rata – rata 326,83 kg dengan PBBH rata – rata 0,84 kg per hari adalah 7,93 kg bahan kering, 0,80 kg protein kasar dan 4,84 kg TDN, sedangkan pada kenyataannya di lapangan konsumsi pakan untuk setiap ekor per hari adalah 10,54 kg bahan kering (3,22% BB), 0,14 kg PK dan 0,91 kg TDN.
Perhitungan analisis kecukupan nutrisi dapat dilihat pada Lampiran 7. Berdasarkan hasil analisis kecukupan nutrisi, pemberian pakan sapi Peranakan Ongole pada peternakan PT Prisma Mahesa Unggul telah mampu mencukupi kebutuhan nutrisi ternak bahkan terdapat kelebihan BK, PK, dan TDN pada sapi Kelompok II, namun untuk sapi Kelompok I ada kekurangan PK. Kecukupan nutrisi ini juga ditunjukkan dengan tercapainya PBBH yang cukup tinggi, yaitu 0,74 dan 0,84 kg per hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Aziz (1993) yaitu sapi Peranakan Ongole mampu mencapai PBBH 0,4 – 0,8 kg.

4.2.3. Sanitasi dan pencegahan penyakit

Sanitasi yang dilakukan di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul dilakukan sehari sekali pada kandang individu dan 2 minggu sekali pada kandang koloni, namun tidak ada sanitasi terhadap ternak. Sanitasi yang dilakukan di kandang koloni hanya dilakukan 2 minggu sekali karena pada alas kandang telah diberi serbuk gergaji untuk menyerap bau kotoran ternak dan bisa langsung dimanfaatkan untuk pupuk. Sanitasi yang dilakukan di peternakan ini sudah cukup baik, Soeprapto dan Abidin (2008) menyatakan bahwa sanitasi dilakukan pada ternak, lingkungan kandang, dan peternaknya.
Pencegahan penyakit dilakukan dengan desinfeksi dan pemberian obat cacing pada ternak yang baru datang. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan penyakit ternak yang akan digemukkan sudah baik, sesuai dengan pendapat Abidin (2008) bahwa sapi bakalan yang akan digemukkan harus diberi vaksin minimal sekali dalam 3 – 4 bulan masa penggemukan.
Penyakit yang sering menyerang ternak adalah kudis, skabies, SE (Septicaemia epizootica) atau penyakit ngorok, cacingan, pneumonia, demam dan kembung. Penanganan ternak yang sakit adalah dengan cara memanggil dokter hewan dan memberikan obat sesuai dengan gejala penyakit. Ternak yang sakit tidak dipisahkan dengan ternak yang lain, karena di peternakan ini tidak ada kandang isolasi. Hal ini kurang baik karena bisa menyebabkan penularan penyakit, sesuai dengan pendapat Fikar dan Ruhyadi (2010) yaitu kandang isolasi sangat dibutuhkan dalam penggemukan sapi, agar tidak terjadi penularan penyakit ke sapi lainnya.

4.3. Pemanenan dan Pemasaran

PT Prisma Mahesa Unggul menerapkan sistem pemanen yang tidak menentu. Pemanenan ternak dilakukan dengan cara: (1) dipanen setelah 2 – 6 bulan penggemukan dengan bobot badan 200 – 400 kg, (2) dipanen sesuai permintaan konsumen. Hal ini sesuai dengan pendapat Fikar dan Ruhyadi (2010), bahwa sapi hasil penggemukan dijual setelah penggemukan selama 4 – 6 bulan. Pemasaran yang dilakukan di peternakan PT Prisma Mahesa Unggul adalah dengan menjual karkas dan ternak dalam keadaan hidup. Penjualan ternak dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga perusahaan tidak memiliki kendala berarti dalam pemasaran hasil produksi. Harga jual sapi pada saat pelaksanaan PKL adalah Rp. 35.000,00/kg bobot hidup.
Penjualan sapi tidak berorientasi pada bobot akhir atau bobot jual melainkan berorientasi pada permintaan pasar, sehingga bisa meminimalisir penggunaan pakan. Hal ini menunjukkan mudahnya pemasaran dan adanya efisiensi ekonomi usaha penggemukan sapi potong di PT Prisma Mahesa Unggul. Hal ini didukung oleh pendapat Tillman et al. (1991) yaitu waktu penggemukan yang singkat mampu memberikan keuntungan dalam efisiensi biaya produksi.

4.4. Evaluasi dan Analisis Usaha

Pertambahan bobot badan sapi dapat dilihat pada Lampiran 8. PBBH yang diperoleh pada kelompok I dan II cukup tinggi, yaitu 0,74 dan 0,84 kg per hari. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi sapi telah terpenuhi sehingga PBBH yang diperoleh sangat baik, menurut Aziz (1993) sapi Peranakan Ongole mampu mencapai PBBH 0,4 – 0,8 kg.
Perhitungan konversi dan efisiensi pakan dapat dillihat pada Lampiran 9. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai konversi pakan sapi kelompok I dan II berturut – turut adalah 5,09 dan 12,55. Nilai efisiensi pakan sapi kelompok I dan II berturut – turut adalah 19,63% dan 7,97%. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai konversi dan efisiensi pakan sapi Peranakan Ongole Kelompok I dan II adalah baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (2003) yang menyatakan bahwa konversi pakan yang baik bagi sapi potong adalah 8,56 – 13,29, sedangkan efisiensi pakan yang baik pada sapi potong adalah 7,52 – 11,29%.
Perhitungan Feed Cost per Gain dapat dilihat pada Lampiran 10. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai Feed Cost per Gain sapi kelompok I dan II berturut – turut adalah Rp 7.771,43/kg dan Rp 16.564,00/kg. Artinya, untuk menaikkan bobot badan 1 kg membutuhkan biaya pakan sebesar Rp 7.771,43 untuk kelompok I dan Rp 16.564,00 untuk kelompok II. Feed Cost per Gain sapi kelompok I lebih kecil daripada kelompok II. Hal ini dikarenakan kelompok I masih berumur 1 tahun dan berada pada tahap exponential growth sehingga pakan yang dikonsumsi mampu dimanfaatkan dengan sangat baik. Menurut Bahurekso (2012) tahap exponential growth mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan oleh ternak sehingga mampu memanfaatkan kandungan nutrisi pakan dengan baik. Tulloh (1978) menambahkan bahwa bobot ternak muda akan meningkat terus dengan laju pertambahan bobot badan yang tinggi.
Harga jual sapi pada saat PKL ini dilaksanakan adalah Rp. 35.000,00/kg bobot hidup. Hal ini berarti bahwa biaya pakan yang dibutuhkan pada sapi kelompok I dan II secara berturut – turut adalah 22,04 dan 47, 33% dari harga jual sapi per kg bobot hidup. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa perusahaan mendapatkan untung yang cukup tinggi karena usaha penggemukan sapi dikatakan mendapat untung apabila Feed Cost per Gain atau biaya pakan yang dikeluarkan kurang dari 70% harga 1 kg bobot hidup sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Maryono (2006) bahwa biaya pakan dapat mencapai 60 – 80% dari keseluruhan biaya produksi.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan di PT Prisma Mahesa Unggul Bogor dapat disimpulkan bahwa manajemen produksi yang dilaksanakan sudah baik, rata – rata pertambahan bobot badan harian sapi Peranakan Ongole tinggi yaitu 0,74 kg dan 0,84 kg. Pemasaran hasil produksi juga sudah baik dan tidak mengalami kendala serta mampu menghasilkan keuntungan yang cukup baik.
Lokasi perkandangan dan bangunan kandang sudah memenuhi persyaratan kandang yang baik. Manajemen sanitasi dan kesehatan ternak sudah cukup baik, namun belum adanya kandang isolasi bisa menularkan penyakit dari ternak yang sakit ke ternak yang sehat.

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan adalah perlu adanya kandang isolasi untuk ternak yang sakit, agar tidak menular kepada sapi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Amini, R. 1998. Pengaruh penggunaan jerami fermentasi terhadap performans ternak sapi Peranakan Ongole. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi. 1 : 40-47

Abidin, Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Asmaki, A.P., M. Hasanawi, dan D.A. Tidi. 2008. Agribisnis Ternak Sapi. Pustaka Grafika. Bandung.

Astuti, M. 2003. Potensi dan keragaman sumberdaya genetik sapi Peranakan Ongole (PO). Wartazoa. 14 (4) : 30 – 39
Atmadilaga, D. 1979. Politik Peternakan Indonesia. Biro Penelitian dan Aplikasi. Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, Bandung.
Aziz, M. A. 1993. Agroindustri Sapi Potong. Cetakan V. BPFE, Yogyakarta.
Bahurekso, P. 2012. Prospek Perkembangan Ternak Perah. patisewubahurekso.blogspot.com
Blakely, J dan D. H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono)
Darmono. 1999. Tata Laksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.
Erlangga. 2009. Info Ternak. http://www.infoternak.com.

Fikar, S., dan D. Ruhyadi. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Potong. PT AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Penerbit PT Grasindo, Jakarta.
Kearl, L. C. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries. Utah States University, Utah.
Maryono. 2006. Teknologi Inovasi “Pakan Murah” untuk Usaha Pembibitan Sapi Potong Lokal. Sinar Tani Edisi 18 – 24 Oktober 2006.
Murtidjo, B. A. 1990. Sapi Potong. Kanisius, Jakarta.
National Research Council (NRC). 1996. Nutrients Requirements of Beef Cattle 7th re. ed., National Academy Press, Washington DC.
Ngadiyono, N. 2007. Beternak Sapi. PT Citra Aji Pratama, Yogyakarta.
Ngadiyono, N. 1995. Pertumbuhan dan sifat-sifat karkas sapi Brahman Cross yang dipelihara pada penggemukan berbagai bobot potong. Media. Edisi Khusus.
Parakassi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Rasyid, A. dan Hartati. 2007. Petunjuk Teknis Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Rachmat, B. 2011. Penampilan Produksi Sapi Peranakan Ongole (PO) yang Dipelihara dalam Feedlot dengan Pemanfaatan Pucuk Tebu pada Lama Pemeliharaan yang Berbeda. Skripsi. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan, Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rianto, E., dan E. Purbowati. 2011. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rianto, E., dan E. Purbowati. 2009. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rukmana, R. 2005. Budidaya Rumput Unggul. Kanisisus, Yogyakarta.
Santosa, U. 1995. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Santosa, U. 2008. Mengelola Peternakan Sapi Secara Profesional. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, S. B. 2003. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soeprapto, H. dan Z. Abidin. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Sudarmono, A. S., dan Y. B. Sugeng. 2008. Sapi Potong. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sumadi, N. Ngadiyono dan Soeprano. 1991. Penampilan produksi sapi Fries Holland, Sumba Ongole dan Brahman Cross yang dipelihara secara feedlot. Prosceeding Seminar Pengembangan Peternakan dalam Menunjang Pembangunan Ekonomi Nasional, Purwokerto 4 Mei 1991. Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.
Sugeng, Y. B. 1998. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tillman, A. D.,S, Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, H. Hartadi dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Tulloh, N.M. 1978. Growth, development, body composition, breeding and management. In: Tulloh, N.M. (ed): A Course Manual in Beef Cattle Management and Economics. Pp. 59-94 AAUCS. Canberra.
Williamson, G., dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan Daerah Tropis. Terjemahan S. G. N. Dwija Darmadja. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Yulianto, P. dan C. Saparinto. 2010. Pembesaran Sapi Potong Secara Intensif. Penerbar Swadaya, Jakarta.

Lampiran 1. Lokasi Peternakan

Lampiran 2. Struktur Organisasi PT Prisma Mahesa Unggul

Lampiran 3. Layout Perkandangan

Keterangan:
1. Gerbang 7. Tempat Penampungan Molases
2. Kantor 8. Tempat Penimbangan
3.Mess 9. Kandang Koloni
4. Dapur dan Mushola 10. Kandang Individu
5. Gudang Pakan 11. Pos Satpam
6. Tandon air
Lampiran 4. Kebutuhan Nutrisi Sapi Peranakan Ongole

Kelompok I
Bobot badan 120,5 kg dan PBBH 0,74 kg

Kebutuhan Nutrisi Pakan Sapi Peranakan Ongole

Bobot Badan PBBH BK PK TDN
——————————————– kg —————————————-
100 0,50
0,75 3,0
3,2 0,379
0,448 1,6
1,9
150 0,50
0,75 4,2
4,4 0,474
0,589 2,2
2,6
Sumber : Kearl, 1982.
Bahan Kering
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 100 kg PBBH 0,74 kg
= 3,0 + “0,74 – 0,5″ /”0,75 – 0,5″ x (3,2 – 3,0)
= 3,0 + (0,96) (0,2)
= 3,192 kg
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 4,2 + “0,74 – 0,5″ /”0,75 – 0,5″ x (4,4 – 4,2)
= 4,3 + (0,96) (0,2)
= 4,392 kg
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 120,5 kg PBBH 0,74 kg
= 3,192 + “120,5 – 100″ /”150 – 100″ x (4,392 – 3,192)
= 3,192 + (0,41) (1,137)
= 3,64 kg

Lampiran 4. (Lanjutan)
Protein Kasar
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 100 kg PBBH 0,74 kg
= 379 + “0,8-0,75″ /”1-0,75″ x (448 – 379)
= 379 + (0,96) (69)
= 445,24 g
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 474 + “0,8-0,75″ /”1-0,75″ x (589 – 474)
= 474 + (0,96) (115)
= 584,4g
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 120,5 kg PBBH 0,74 kg
= 445,24 + “120,5 – 100″ /”150 – 100″ x (584,4 – 445,24)
= 445,24 + (0,41) (139,16)
= 502,30 g

Total Digestable Nutrient (TDN)
Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 100 kg PBBH 0,74 kg
= 1,6 + “0,8-0,75″ /”1-0,75″ x (1,9 – 1,6)
= 1,6 + (0,96) (0,3)
= 1,888 kg
Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 2,2 + “0,8-0,75″ /”1-0,75″ x (2,6 – 2,2)
= 2,2 + (0,96) (0,4) = 2,584 kg
Lampiran 4. (Lanjutan)

Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 120,5 kg PBBH 0,74 kg
= 1,888 + “120,5 – 100″ /”150 – 100″ x (2,584 – 1,888)
= 1,888 + (0,41) (0,696)
= 2,17 kg

Kelompok II
Bobot badan 326,83 kg dan PBBH 0,84 kg
Kebutuhan Nutrisi Pakan Sapi Peranakan Ongole

Bobot Badan PBBH BK PK TDN
——————————————– kg —————————————-
300 0,75
1,00 7,4
7,5 753
819 4,3
5,0
350 0,75
1,00 8,3
8,5 806
874 4,8
5,6
Sumber : Kearl, 1982.
Bahan Kering
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 300 kg PBBH 0,84 kg
= 7,4 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75″ x (7,5 – 7,4)
= 7,4 + (0,36) (0,1)
= 7,436 kg
Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 350 kg PBBH 0,74 kg
= 8,3 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75″ x (8,5 – 8,3)
= 8,3 + (0,36) (0,2)
= 8,372 kg

Lampiran 4. (Lanjutan)

Kebutuhan BK untuk sapi dengan BB 326,83 kg PBBH 0,84 kg
= 7,436 + “326,83- 300″ /”350 – 300″ x (8,372 – 7,436)
= 7,436 + (0,5366) (0,936)
= 7,938 kg

Protein Kasar
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 300 kg PBBH 0,84 kg
= 753 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75″ x (819 – 753)
= 753 + (0,36) (66)
= 776,76 g
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 806 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75″ x (874 – 806)
= 806 + (0,36) (68)
= 830,48 g
Kebutuhan PK untuk sapi dengan BB 326,83 kg PBBH 0,84 kg
= 776,76 + “326,83- 300″ /”350 – 300″ x (830,48 – 776,76)
= 776,76 + (0,5366) (53,72)
= 805,58 g

Lampiran 4. (Lanjutan)

Total Digestable Nutrient (TDN)
Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 300 kg PBBH 0,84 kg
= 4,3 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75″ x (5,0 – 4,3)
= 4,3 + (0,36) (0,7)
= 4,552 kg

Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB 150 kg PBBH 0,74 kg
= 4,8 + “0,84 – 0,75″ /”1,00 – 0,75″ x (5,6 – 4,8)
= 4,8 + (0,36) (0,8)
= 5,088 kg

Kebutuhan TDN untuk sapi dengan BB326,83 kg PBBH 0,84 kg
= 4,552 + “326,83- 300″ /”350 – 300″ x (5,088 – 4,552)
= 4,552 + (0,5366) (0,536)
= 4,84 kg

Lampiran 5. Pemberian dan Konsumsi Pakan

Pemberian dan Konsumsi Pakan

Pemberian Sisa Konsumsi
RG JP K RG JP K RG JP K
—————————— kg/ekor —————————–
Kelompok I 1,01 1,72 3,57 0 0 0,22 1,01 1,72 3,35

Kelompok II
Sapi No 78 7,64 5,48 9,04 0 0,92 2,02 7,64 4,56 7,02
Sapi No 435 7,64 5,48 9,04 0,45 0,7 1,06 7,18 4,77 7,89
Sapi No 00971 7,64 5,48 9,04 0,62 0,6 0,9 7,02 4,88 8,14
Sapi No 231 7,64 5,48 9,04 0,52 0,68 0,88 7,11 4,8 8,15
Sapi No 2986 7,64 5,48 9,04 0,46 0,72 0,9 7,18 4,76 8,14
Sapi No 10095 7,64 5,48 9,04 0,65 0,6 0,94 6,98 4,87 8,09
Rata-rata Kelompok II 7,64 5,48 9,04 0,45 0,70 1,18 7,18 4,77 7,92

Rata-rata Kelompok I dan II (kg/e/h) 1,79 2,16 4,21 0,05 0,08 0,32 1,73 2,07 3,88

Keterangan:
RG : Rumput Gajah
JP : Jerami Padi
K : Konsentrat

Lampiran 6. Konsumsi Pakan dalam Bahan Kering

Kandungan Nutrisi dalam Bahan Pakan

Pakan BK PK TDN
———————————– % ——————————-
Rumput Gajah 27,21a 8,3 a 11 b
Jerami 40,65 c 3,45 c 37,27 c
Konsentrat 84 d 10,92 d 72,54 d
Sumber : a Analisis Laboratorium Ilmu Ternak Potong dan Kerja, 2013.
b Hartadi et al., 1998.
c Chuzaemi dan Soejono, 1987.
d PT Prisma Mahesa Unggul.

Kelompok I
Konsumsi Rumput Gajah
Konsumsi BK = “27,21” /”100″ x 1,01 = 0,27 kg BK
Konsumsi PK = “8,3” /”100″ x 0,27 = 0,02 kg BK
Konsumsi TDN= “11” /”100″ x 0,27 = 0,03 kg BK
Konsumsi Jerami
Konsumsi BK = “40,65” /”100″ x 1,72= 0,69 kg BK
Konsumsi PK = “3,45” /”100″ x 0,69 = 0,02 kg BK
Konsumsi TDN= “37,27” /”100″ x 0,69 = 0,25 kg BK
Konsumsi Konsentrat
Konsumsi BK = “84” /”100″ x 3,35 = 2,81 kg BK
Konsumsi PK = “10,92” /”100″ x 2,81= 0,30 kg BK
Lampiran 6. (Lanjutan)

Konsumsi TDN= “72,54” /”100″ x 2,81= 2,03 kg BK

Konsumsi Rata-rata Pakan dalam Bahan Kering Kelompok I

BahanPakan Konsumsi Konsumsi PK Konsumsi TDN
kg BK ————- kg ————–
Rumput Gajah
Jerami Padi
Konsentrat 0,27
0,69
2,81 0,02
0,02
0,20 0,03
0,25
2,03
Total 3,77 0,34 2,31

Kelompok II
Konsumsi Rumput Gajah
Konsumsi BK = “27,21” /”100″ x 7,18 = 1,95 kg BK
Konsumsi PK = “8,3” /”100″ x 1,95 = 0,16 kg BK
Konsumsi TDN= “11” /”100″ x 1,95 = 0,21 kg BK
Konsumsi Jerami
Konsumsi BK = “40,65” /”100″ x 4,77 = 1,94 kg BK
Konsumsi PK = “3,45” /”100″ x 1,94 = 0,06 kg BK
Konsumsi TDN= “37,27” /”100″ x 1,94 = 0,72 kg BK
Konsumsi Konsentrat
Konsumsi BK = “84” /”100″ x 7,92 = 6,65 kg BK
Konsumsi PK = “10,92” /”100″ x 6,695 = 0,72 kg BK
Lampiran 6. (Lanjutan)

Konsumsi TDN= “72,54” /”100″ x 6,65 = 4,82 kg BK

Konsumsi Rata-rata Pakan dalam Bahan Kering Kelompok II

BahanPakan Konsumsi (kg BK/e/h) Konsumsi PK Konsumsi TDN
kg BK ————— kg ————–
Rumput Gajah
Jerami
Konsentrat 1,95
1,94
6,65 0,16
0,06
0,72 0,21
0,72
4,82
Total 10,54 0,94 5,75

Lampiran 7. Evaluasi Kecukupan Nutrisi

Kelompok I

Evaluasi Kecukupan Nutrisi Kelompok I

BK PK TDN
————————- kg ————————
Konsumsi
Kebutuhan
Evaluasi 3,77
3,64
(+) 0,13 0,34
0,5
(-) 0,16 2,31
2,17
(+) 0,14

Keterangan :
Sapi PO Kelompok I dengan bobot rata-rata 120,5 kg dan PBBH 0,74 kg, kelebihan BK dan TDN, tetapi kekurangan PK.

Kelompok II

Evaluasi Kecukupan Nutrisi Kelompok II

BK PK TDN
————————- kg ————————
Konsumsi
Kebutuhan
Evaluasi 10,54
7,93
(+) 2,61 0,94
0,80
(+) 0,14 5,75
4,84
(+) 0,91

Keterangan :
Sapi PO Kelompok I dengan bobot rata-rata 326,83 kg dan PBBH 0,84 kg, kelebihan BK, PK dan TDN.

Lampiran 8. Pertambahan Bobot Badan Harian

Kelompok I
Pertambahan Bobot Badan Harian Sapi PO Kelompok I

Sapi nomor Bobot awal Bobot akhir PBBH
——————————- kg —————————
00460 120 132 0,48
44451 138 154 0,64
21353 112 129 0,68
6642 112 141 1,16
Rata-rata 120,5 139 0,74

Kelompok II

Pertambahan Bobot Badan Harian Sapi PO Kelompok II

Sapi nomor Bobot awal Bobot akhir PBBH
——————————- kg —————————
78 323 343 0,8
435 343 363 0,8
00971 327 347 0,8
231 327 352 1
2986 310 336 1,04
10095 331 346 0,6
Rata-rata 326,83 347,83 0,84

Lampiran 9. Perhitungan Konversi dan Efisiensi Pakan

Konversi pakan = “Total Konsumsi Pakan” /”PBBH”
Efisiensi pakan = “PBBH” /”Total Konsumsi Pakan” x 100%

Kelompok I
Total konsumsi pakan = 3,77 kg BK
Rata-rata PBBH = 0,74 kg
Konversi pakan = “3,77” /”0,74″
= 5,09
Efisiensi pakan = “0,74” /”3,77″ x 100%
= 19,63%

Kelompok II
Total konsumsi pakan = 10,54 kg BK
Rata-rata PBBH = 0,84 kg
Konversi pakan = “10,54” /”0,84″
= 12,55
Efisiensi pakan = “0,84” /”10,54″ x 100%
= 7,97%

Lampiran 10. Perhitungan Feed Cost per Gain

Kelompok I
FC/G = “Biaya Pakan yang dibutuhkan” /”PBBH”
= “(RG x P) + (JP x P) + (K x P) ” /”PBBH”
= “(1,00 x 51,36) + (1,72 x 100)+ (3,35 x 1.650)” /”0,74″
= “5.750,86 ” /”0,74″
= Rp.7.771,43/kg
Kelompok II
FC/G = “Biaya Pakan yang dibutuhkan” /”PBBH”
= “(RG x P) + (JP x P) + (K x P) ” /”PBBH”
= “(7,18 x 51,36) + (4,77 x 100) + (7,92 x 1.650) ” /”0,84″
= “13.913,76 ” /”0,84″
= Rp. 16.564,00/kg
Keterangan:
RG : Rumput Gajah
JP : Jerami Padi
K : Konsentrat
P : Price (harga)

Lampiran 11. Daftar Kuesioner
KEADAAN UMUM
Kondisi Sosial Ekonomi Peternakan
Nama perusahaan
Alamat peternakan
Latar belakang pendirian usaha
Jenis usaha
Luas areal peternakan
Luas bangunan
Sistem pemeliharaan
Populasi
Jumlah tenaga kerja
Pemasaran
Hasil samping usaha
Pengaruh keberadaan peternakan bagi masyarakat sekitar
Keadaan Umum
Denah lokasi
Tata letak/layout
Curah hujan
Suhu lingkungan
Kelembaban
Ketinggian
Tekstur tanah

KEADAAN USAHA PETERNAKAN
Keadaan Usaha Peternakan
Luas kandang
Jumlah ternak
Jenis ternak
Bangsa ternak
PBBH ternak
Pengadaan Bakalan
Jenis
Asal
Umur pembelian
Umur penjualan
Bobot pembelian
Bobot penjualan
Pengadaan Pakan
Jenis pakan dan komposisi
Asal pakan
Kandungan PK dan EM

Lampiran 11. (Lanjutan)

Pola penyajian pakan
Metode yang digunakan untuk menyusun ransum
Kebutuhan pakan/hari
Pakan tambahan
Kebutuhan minum/hari
Vitamin yang diberikan
Sanitasi dan Kesehatan
Program penanganan limbah
Jenis limbah
Program vaksinasi
Vaksin yang diberikan
Perkandangan
Jumlah kandang
Tipe kandang
Lantai kandang
Dinding kandang
Atap kandang
Ukuran kandang
Kapasitas kandang
Bahan kandang
Jenis kandang
Peralatan kandang
Bangunan kandang
Kontinyuitas Produksi
Kriteria Penjualan
Bobot badan sapi yang dijual
Penjualan ternak dalam jumlah besar sekaligus atau tidak
Penjualan tergantung permintaan atau tidak
Kriteria Pembelian/Penyediaan Bakalan
Pembelian bakalan umur
Harga bakalan
Bobot awal bakalan

Lampiran 12. Dokumentasi

Run-dom!

semester delapan tinggal hitungan hari dan saya masih belum melaksanakan ujian terakhir saya di tapahan semester akhir ini. yap! belum sidang skripsi. it’s oke wae, aku rapopo (red: rapuh porak poranda) hahaa..
it’s oke wae. penelitian juga baru jalan kemaren April. masih ngurus seminar HP juga. seminar Lab aja belom hahaa
Alkhamdulillah masih dapet support materiil & immateriil dari dosbing I, Ayah Wid setelah saya dikhianati oleh teman sepenelitian karena berpindah ke hati yang lain hahaa

hei ini bulan Ramadan. tahun lalu Ramadan saya lewati bersama keluarga di Kaliwareng, keluarga KKN saya. dan, yang lulus duluan adalah cowok-cowoknya, Mas Aji dan Kak Ochol. tapi Wucing belom dong yes ? hahaa

tahun ini tahun cobaan banget deh yes, terjadi keretakan antara persaudaraan di keluarga besar saya cuman gara – gara tanah 0,5 x 10 m ! tapi Alkhamdulillahnya keluarga saya semakin banyak rejekinya buat ngerenov rumah walaupun biaya sendiri ^_^

Proposal PKL Manajemen Produksi Sapi Peranakan Ongole (hc: Dessy Dona Dinata)

LATAR BELAKANG

Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi cukup besar sebagai ternak penghasil daging dan menjadi prioritas dalam pembangunan peternakan. Namun pertumbuhan populasi sapi secara nasional tidak mampu mengimbangi jumlah pemotongan, sehingga kebutuhan daging sapi tidak dapat tercukupi. Besarnya peluang pengembangan usaha ternak sapi potong menjadikan usaha ini sebagai salah satu pilihan utama dalam usaha di bidang peternakan.

Keberhasilan usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh aspek pemuliabiakan (breed), pakan (feed), dan pengelolaan (management). Upaya pengembangan populasi sapi untuk memenuhi konsumsi daging sapi dapat dilaksanakan dengan cara pemilihan bibit unggul dan manajemen yang baik. Manajemen produksi sapi potong yang mencakup usaha penggemukan sapi dari hulu hingga ke hilir meliputi pemilihan bakalan, manajemen penggemukan, manajemen pemberian pakan, manajemen pemeliharaan, manajemen perkandangan, manajemen sanitasi dan pencegahan penyakit hingga panen dan pemasaran. Pakan yang baik adalah yang mengandung nutrien yang memadai kualitas dan kuantitasnya sehingga dapat memenuhi kebutuhan ternak dan dapat menunjang keberhasilan usaha peternakan.

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk mengkaji manajemen produksi sapi potong yang diterapkan di PT Prisma Mahesa Unggul, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Manfaat yang diperoleh adalah mahasiswa memperoleh tambahan informasi, pengetahuan, dan pengalaman mengenai manajemen produksi sapi potong. Selain itu, melalui Praktek Kerja Lapangan mahasiswa dapat membandingkan antara teori dan pustaka yang diperoleh dibangku perkuliahan dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan.

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Sapi Peranakan Ongole 

Sapi Peranakan Ongole merupakan persilangan sapi ongole jantan murnidengan sapi betina Jawa (Murtidjo, 1990). Sapi peranakan ongole mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: warna kelabu kehitam-hitaman pada bagian kepala, leher dan lutut berwarna gelap sampai hitam, bertanduk pendek, bobot badan sapi PO mencapai 430 – 500 kg pada sapi jantan dan 320 – 400 kg pada sapi betina (Hardjosubroto, 1994). Pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi Peranakan Ongole sebesar 0,4 – 0,8 kg (Aziz, 1993).

Pemilihan Bakalan

Parameter standar untuk seleksi sapi bakalan mencakup kualitas dan kuantitas sapi yang dapat dievaluasi dengan penilaian dan pengamatan tubuh sapi bagian luar (Sugeng, 1998). Bakalan yang akan digemukkan sangat mempengaruhi keberhasilan penggemukan sapi. Kriteria pemilihan bakalan: berasal dari induk yang memiliki potensi genetik yang baik, bakalan agak kurus, umur bakalan 2 – 2,5 tahun, sehat dan tidak mengidap penyakit, serta bentuk tubuh yang proporsional (Rianto dan Purbowati, 2011). Bobot badan sapi PO bakalan yang adalah 250 – 350 kg dengan pertambahan bobot badan 0,6-0,8 kg/hari dan bobot jual 584 – 600 kg (Fikar dan Ruhyadi, 2010). 

Penggemukan Sapi

Penggemukan sapi adalah usaha memacu pertumbuhan sapi untk mencapai peningkatan bobot badan pada fase pertumbuhan yang tepat (Yulianto dan Saparinto, 2010). Sistem penggemukan terdiri dari tiga macam, yaitu dry lot fattening, pasture fattening, dan kombinasi antara keduanya (Siregar, 2008).

Penggemukan dry lot fattening diperuntukkan bagi sapi berumur 1 tahun dan lamanya penggemukan sekitar 4-6 bulan dengan pemberian biji-bijian atau kacang-kacangan. Penggemukan pasture fattening yaitu sapi yang digembalakan di padang penggembalaan. Kombinasi pasturedry lot fattening dilakukan di daerah tropis dengan cara pada saat musim penghujan ternak dilepas di padang penggembalaan dan pada saat musim kemarau ternak dikandangkan dan diberi makanan biji-bijian dan hay (Murtidjo, 1990). Hasil akhir ternak sapi potong adalah sapi yang gemuk dan dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh dan recahan sebanyak 46,5%. Waktu yang dibutuhkan untuk pembesaran sapi tergantung target akhir dari bobot sapi yang ditentukan dan bakalan sapi yang dibesarkan (Yulianto dan Saparinto, 2010).

Pertambahan bobot harian sapi PO menurut Amini (1998) adalah 0,52 kg/hari yang diberi ransum jerami dan konsentrat sebesar 61% dari seluruh ransum. Menurut Sumadi et al. (1991) PBBH sapi PO sebesar 0,70 kg pada pemeliharaan secara intensif dengan yang diberi pakan konsentrat sebanyak 85% dari total ransum.         

Pakan

Pakan sapi potong merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjang produktivitas ternak. Bahan pakan ternak dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu hijauan dan konsentrat (Williamson dan Payne, 1993). Sapi memerlukan sebanyak 10% berat basah pakan atau 3% berat kering pakan dari bobot badan sapi perhari (Fikar dan Ruhyadi, 2010).

Semakin baik kualitas hijauan maka semakin sedikit persentase konsentrat yang digunakan. Jenis pakan yang pertama diberikan adalah konsentrat untuk menyuplai makanan bagi mikroba rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk ke dalam rumen, mikroba rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan (Abidin, 2008). Pada penggemukan sapi secara intensif, konsentrat diberikan dalam jumlah besar yaitu antara 60 – 80% dan hijauan 20 – 40% (Blakely dan Bade, 1994; NRC, 1996; Parakkasi, 1999) atau konsentrat 85% dan hijauan 15% (Sumadi et al., 1991; Ngadiyono, 1995).

Tabel 1. Tatacara Pemberian Pakan Sapi Potong

Waktu Kegiatan

Kegiatan yang dilakukan

06.30

08.00

09.00

11.00

14.00

15.00

16.00

21.00

Membersihkan tempat pakan dan minum

Memberikan konsentrat dan dedak

Memberikan hijauan

Memberikan air minum

Memberikan konsentrat dan dedak

Memberkan hijauan

Memberikan air minum

Memberikan hijauan

Sumber : Fikar dan Ruhyadi, 2010.

Hijauan

Hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan (Sugeng, 1998). Rasio pemberian hijauan dan konsentrat tergantung dari ketersediaan hijauan di lokasi penggemukan     (Abidin, 2008).

Konsentrat

Konsentrat merupakan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%. Konsentrat berasal dari biji-bijian, umbi-umbian, serta limbah peternakan dan industri (Darmono, 1999). Fungsi dari konsentrat adalah meningkatkan dan memperkaya nutrisi bahan pakan lain yang nilai nutrisinya lebih rendah (Sugeng, 1998).

Manajemen Pemeliharaan

Parakkasi (1999) menyatakan bahwa sistem pemeliharaan ternak sapi dibagi menjadi tiga, yaitu intensif, ekstensif dan mixed farming system. Pemeliharaan ternak secara intensif adalah sistem pemeliharaan ternak sapi dengan acra dikandangkan secara terus-menerus dengan sistem pemberian pakan secara cut and carry. Pemeliharaan secara ekstensif adalah pemeliharaan ternak di padang penggembalaan.Sapi perlu dimandikan secara rutin untuk menjaga kebersihan tubuh dan mencegah muculnya sarang penyakit pada tubuh sapi. Pembersihan kandang dilakukan setiap hari agar kandang selalu bersih, mencegah timbulnya penyakit, dan memberikan kenyamanan bagi sapi (Ngadiyono, 2007). 

Perkandangan

Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung sapi dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat, dan mempermudah dalam pelaksanaan pemeliharaan sapi tersebut (Abidin, 2008). Tipe kandang berdasarkan bentuknya ada dua, yaitu kandang tunggal dan kandang ganda. Kandang tunggal terdiri atas satu baris kandang yang dilengkapi dengan lorong jalan dan selokan atau parit. Kandang ganda ada dua macam yaitu sapi saling berhadapan (head to head) dan saling bertolak-belakang (tail to tail) yang dilengkapi dengan lorong untuk memudahkan pemberian pakan dan pengontrolan ternak (Ngadiyono, 2007).

Sanitasi dan Pencegahan Penyakit

Pencegahan merupakan tindakan untuk melawan berbagai penyakit. Usaha pencegahan ini meliputi karantina atau isolasi ternak, vaksinasi, deworming, serta pengupayaan peternakan yang higienis (Sudarmono dan Sugeng, 2008). Sapi-sapi bakalan yang akan digemukkan atau yang baru dibeli di pasar hewan, perlu dimasukkan ke dalam kandang karantina yang letaknya terpisah dari kandang penggemukan. Pemberian vaksin biasanya dilakukan pada saat sapi bakalan berada di kandang karantina. Pemberian vaksin cukup dilakukan sekali untuk setiap ekor karena sapi hanya dipelihara dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar 3-4 bulan (Abidin, 2008).

Pemanenan dan Pemasaran

Sapi hasil penggemukan biasanya dijual setelah penggemukan selama 4 – 6 bulan dengan bobot jual 584 – 600 kg. Sebelum memasarkan sapi perlu dilakukan penimbangan sapi, penentuan harga jual, menentukan pasar tujuan, jalur pemasaran, alat angkut dan strategi pemasaran (Fikar dan Ruhyadi, 2010).

 

METODE PELAKSANAAN 

Waktu Pelaksanaan

       Praktek Kerja Lapangan (PKL) tentang Manajemen Produksi Sapi Peranakan Ongole di PT Prisma Mahesa Unggul akan dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada bulan Februari sampai Maret 2013 di PT Prisma Mahesa Unggul, Bogor.

Materi

Materi yang digunakan dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan adalah sapi Peranakan Ongole di PT Prisma Mahesa Unggul, Bogor, Jawa Barat. Populasi sapi Peranakan Ongole sebanyak kurang lebih 216 ekor. Sampel yang akan digunakan sebanyak 10 ekor sapi. Sapi yang diamati sebanyak 10 ekor sapi Peranakan Ongole dengan kelamin jantan dan umur yang relatif seragam.

Alat yang digunakan adalah timbangan untuk menimbang bobot badan dan untuk menimbang pakan yang akan diberikan yang telah disesuaikan dengan kebutuhanya. Hygrometer yang digunakan untuk mengukur suhu serta kelembaban.

Metode

Metode yang digunakan adalah praktek kerja dengan cara partisipasi aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan pekerja di PT Prisma Mahesa Unggul, Bogor. Pengambilan data primer dilakukan dengan pengamatan langsung di lokasi peternakan dan dengan wawancara langsung dengan manager dan pekerja berdasarkan kuisioner yang telah dibuat. Pengambilan data sekunder diperoleh dari catatan perusahaan, untuk monografi lokasi dan peta wilayah dapat diperoleh dari instansi terkait.

Data primer yang dikumpulkan antara lain: jenis pakan yang diberikan, frekuensi pemberian pakan, jumlah pakan yang diberikan serta pertambahan bobot badan sapi selama pengamatan, serta pelaksanaan pencegahan penyakit, pemilihan bakalan (jenis, asal, umur, harga), kebutuhan pakan (jenis pakan dan komposisi, asal pakan, pola pemberian pakan, kebutuhan pakan per hari), sanitasi dan pencegahan penyakit (penangan limbah, dan program vaksinasi).

Data sekunder antara lain: keadaan umum peternakan dan kondisi lingkungan peternakan. Selanjutnya data hasil praktek kerja lapangan diolah secara deskriptif.

JADWAL KEGIATAN

Kegiatan

Desember

Januari

Februari

Maret

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Persiapan

                               

Pelaksanaan

                               

Pengolahan data

                               

Penyusunan laporan

                               

 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Amini, R. 1998. Pengaruh penggunaan jerami padi fermentasi terhadap performan ternak sapi Peranakan Ongole. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi.

Aziz, M. A. 1993. Agroindustri Sapi Potong. Cetakan V. BPFE, Yogyakarta.

Blakely, J dan D. H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono)

Darmono. 1999. Tata Laksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.

Fikar, S., dan D. Ruhyadi. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Potong. PT AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Penerbit PT Grasindo, Jakarta.

Murtidjo, B. A. 1990. Sapi Potong. Kanisius, Jakarta.

Ngadiyono, N. 2007. Beternak Sapi. PT Citra Aji Pratama, Yogyakarta.

Ngadiyono, N. 1995. Pertumbuhan dan sifat-sifat karkas sapi Brahman Cross yang dipelihara pada penggemukan berbagai bobot potong. Media. Edisi Khusus.

Parakassi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Rianto, E., dan E. Purbowati. 2011. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta

Sudarmono, A. S., dan Y. B. Sugeng. 2008. Sapi Potong. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sumadi, N. Ngadiyono dan Soeprano. 1991. Penampilan produksi sapi Fries Holland, Sumba Ongole dan Brahman Cross yang dipelihara secara feedlot. Prosceeding Seminar Pengembangan Peternakan dalam Menunjang Pembangunan Ekonomi Nasional, Purwokerto 4 Mei 1991. Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.

Sugeng, Y. B. 1998. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Williamson, G., dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan Daerah Tropis. Terjemahan S. G. N. Dwija Darmadja. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

 

DAFTAR KUISIONER 

  1. A.                KEADAAN UMUM

 

  1. 1.                  Kondisi Sosial Ekonomi Peternakan
  2. Nama perusahaan                                :
  3. Alamat peternakan                              :
  4. Latar belakang pendirian usaha          :
  5. Jenis usaha                                          :
  6. Luas areal peternakan                         :
  7. Luas bangunan                                    :
  8. Sistem pemeliharaan                           :
  9. Populasi                                               :
  10. Jumlah tenaga kerja                             :
  11. Pemasaran                                           :
  12. Hasil samping usaha                            :
  13. Pengaruh keberadaan peternakan bagi masyarakat sekitar :
  1. 2.                  Keadaan Umum
  2. Denah lokasi                                       :
  3. Tata letak/layout                                 :
  4. Curah hujan                                         :
  5. Suhu lingkungan                                 :
  6. Kelembaban                                        :
  7. Ketinggian                                          :
  8. Tekstur tanah                                      :
  1. B.                 KEADAAN USAHA PETERNAKAN
  2. 1.                  Keadaan Usaha Peternakan
  3. Luas kandang                                      :
  4. Jumlah ternak                                      :
  5. Jenis ternak                                         :
  6. Bangsa ternak                                     :
  7. PBBH ternak                                      :
  1. 2.                  Pengadaan Bakalan
  2. Jenis                                        :
  3. Asal                                         :
  4. Umur pembelian                      :
  5. Umur penjualan                       :
  6. Bobot pembelian                     :
  7. Bobot penjualan                      :
  1. 3.                  Pengadaan Pakan
  2. Jenis pakan dan komposisi      :
  3. Asal pakan                              :
  4. Kandungan PK dan EM         :
  5. Pola penyajian pakan              :
  6. Metode yang digunakan untuk menyusun ransum :
  7. Kebutuhan pakan/hari             :
  8. Pakan tambahan                      :
  9. Kebutuhan minum/hari           :
  10. Vitamin yang diberikan          :
  1. 4.                  Sanitasi dan Kesehatan
  2. Program penanganan limbah   :
  3. Jenis limbah                             :
  4. Program vaksinasi                   :
  5. Vaksin yang diberikan            :
  1. 5.                  Perkandangan
  2. Jumlah kandang                      :
  3. Tipe kandang                          :
  4. Lantai kandang                       :
  5. Dinding kandang                    :
  6. Atap kandang                         :
  7. Ukuran kandang                     :
  8. Kapasitas kandang                  :
  9. Bahan kandang                       :
  10. Jenis kandang                          :
  11. Peralatan kandang                   :
  12. Bangunan kandang                 :
  1. 6.                  Kontinyuitas Produksi
  2. Kriteria Penjualan
    1. Bobot badan sapi yang dijual       :
    2. Penjualan ternak dalam jumlah besar sekaligus atau tidak :
    3. Penjualan tergantung permintaan atau tidak :
  1. Kriteria Pembelian/Penyediaan Bakalan
    1. Pembelian bakalan umur               :
    2. Harga bakalan                               :
    3. Bobot awal bakalan                      :

-

Gempuran sine cinta-cintaan anak SMA memang tak bisa dipungkiri lagi. Tapi di umur saya yang telah menginjak 21 tahun ini saya lebih suka menonton Bobo Ho and friends, Spongebob, Ooglies, Larva dan film atau sine sederhana lainnya.
Suka sine cinta Thailand ? Iya, lucu . Suka drama Korea ? Iya, buat cuci mata . Tapi tak begitu memilih sine TV Indonesia bila ada tayangan yang lainnya .

Ah ! saya lebih suka menonton Unyil, Si Bolang atau Dubi . Tahu kan ?
Edukatif !

Cerbol, JIHA !

berikut sekelumit potret penyimpan kenangan yang nanti akan indah pada waktunya :’)

Foto 0179
semester 1: malam keakraban angkatan 2010. diprakarsai oleh: Zulkifli

Photo 0272
semester 2: habis pengarahan praktikum ITP yang “jelas sekali”

bpfr
semester 3: kelakuan gila akibat analisis proksimat

Photo 1369
semester 4: katakan saja, “kita gila akan MTPK”

Photo 1144
semester entahlah: menggila panen jambu bersama @loveta_pihaphita

kumpulan staff ahli 2012
semester 5: tampang manis kita setelah LPJ BEM tahun kepengurusan 2012 :*

banana
perlihan semester: PKL ke Anyer #eh

aiis2
semester 7: ultah kak Ais

itu dulu ye, soalnya kalo nambah bayar lagi haha {}